Konten dari Pengguna

Danantara dan Politik Baru Investasi Indonesia di Era Prabowo

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazmul Watan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan saat Tasyakuran HUT ke-1 Danantara Indonesia, Rabu (11/3/2026). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan saat Tasyakuran HUT ke-1 Danantara Indonesia, Rabu (11/3/2026). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Ada perubahan penting dalam cara Indonesia memandang investasi Indonesia. Selama bertahun-tahun, perdebatan tentang aset negara lebih sering berkutat pada bagaimana menjaga, mengelola, atau mengoptimalkan aset yang sudah ada di dalam negeri. Kini, melalui Danantara, Pemerintah Presiden Prabowo Subianto mulai memperlihatkan gagasan yang lebih berani: modal nasional tidak harus hanya bertahan di dalam negeri, tetapi dapat bekerja di pusat-pusat ekonomi dunia untuk memperoleh keuntungan sekaligus memperkuat kepentingan strategis Indonesia.

Investasi Danantara sebesar US$250 juta atau sekitar Rp4,4–4,5 triliun ke HighPeak Energy, perusahaan migas berbasis di Texas yang beroperasi di Permian Basin, menjadi salah satu contoh paling konkret. Investasi tersebut dilakukan melalui saham preferen konvertibel dan memberi Danantara akses terhadap portofolio aset minyak di salah satu kawasan migas paling penting di Amerika Serikat.

Investasi Indonesia di Permian Basin

Permian Basin merupakan kawasan penghasil minyak terbesar di Amerika Serikat dan menyumbang sekitar 48 persen produksi minyak AS pada 2025. Dengan masuk ke kawasan tersebut, Indonesia bukan hanya menempatkan uang, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk belajar dari ekosistem hulu migas yang telah berkembang dengan teknologi, efisiensi, dan kapasitas pembiayaan yang sangat besar.

Di titik ini, langkah Danantara patut dibaca sebagai bagian dari strategi lebih besar Pemerintahan Prabowo: menjadikan modal negara sebagai instrumen untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai ekonomi global.

Selama ini Indonesia sering berada pada posisi sebagai pasar. Kita membeli energi, teknologi, produk industri, bahkan membayar mahal untuk akses terhadap pengetahuan. Investasi strategis di luar negeri membuka kemungkinan untuk membalik sebagian pola tersebut. Indonesia dapat menjadi investor, pemilik aset, sekaligus pembelajar.

Terlebih, investasi Danantara tidak berdiri sendiri. Energi Mega Persada (ENRG) juga mengucurkan US$200 juta sehingga total modal baru yang masuk ke HighPeak mencapai US$450 juta. Struktur transaksi tersebut memberi kedua entitas Indonesia hak atas saham preferen konvertibel dan hak menunjuk masing-masing satu anggota direksi HighPeak.

Artinya, Indonesia tidak sekadar menjadi penyetor modal pasif. Ada ruang untuk memperoleh akses terhadap pengetahuan, jaringan, tata kelola, dan pengalaman pengelolaan aset energi kelas dunia.

Danantara bahkan menyebut adanya program pelatihan dan penugasan kerja bagi tenaga kerja Indonesia. Jika komitmen ini benar-benar dijalankan, manfaat investasi tidak berhenti pada potensi financial return, tetapi berkembang menjadi human capital return. Inilah ukuran yang seharusnya menjadi perhatian publik.

Namun, keberpihakan terhadap kebijakan pemerintah bukan berarti membebaskan pemerintah dari kritik.

Justru karena Danantara mengelola modal strategis, setiap keputusan investasinya harus dapat diuji dengan standar yang lebih tinggi daripada investasi korporasi biasa. Publik berhak mengetahui bagaimana risiko dihitung, bagaimana target imbal hasil ditetapkan, bagaimana perlindungan terhadap penurunan nilai investasi bekerja, serta bagaimana kepentingan Indonesia dijaga ketika harga minyak, kondisi geopolitik, maupun pasar keuangan global berubah.

Kabar baiknya, struktur investasi HighPeak menunjukkan adanya mekanisme perlindungan terhadap downside sekaligus peluang memperoleh upside melalui konversi menjadi saham biasa. HighPeak juga akan menggunakan dana tersebut untuk memperkuat struktur permodalan, termasuk refinancing utang, sementara perusahaan memperoleh fasilitas kredit baru sebesar US$800 juta.

Tetapi mekanisme finansial tetap bukan jaminan keberhasilan.

Karena itu, Pemerintahan Prabowo perlu memastikan investasi global Danantara memiliki tiga ukuran keberhasilan. Pertama, return finansial yang kompetitif. Kedua, strategic return berupa akses energi, teknologi, pasar, dan jaringan global. Ketiga, national return berupa transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas perusahaan serta tenaga kerja Indonesia.

Di sinilah keberanian investasi harus berjalan bersama disiplin tata kelola.

Presiden Prabowo tampaknya sedang mendorong satu paradigma penting yaitu kekuatan ekonomi Indonesia tidak cukup dibangun dengan menarik investasi asing masuk ke Indonesia. Indonesia juga harus mulai memiliki kemampuan membawa modal ke luar negeri dan mendapatkan nilai tambah dari ekonomi global.

Jika konsisten, Danantara dapat menjadi instrumen penting dalam perubahan tersebut. Bukan sekadar lembaga yang mengelola aset negara, melainkan kendaraan strategis Indonesia untuk membangun kepemilikan, memperluas pengaruh ekonomi, dan mengakumulasi pengetahuan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan investasi di Amerika bukan sekadar berapa besar keuntungan yang tercatat dalam laporan keuangan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah investasi itu membuat Indonesia menjadi lebih kuat?

Jika jawabannya ya, lebih kuat secara finansial, teknologi, energi, sumber daya manusia, dan posisi tawar internasional maka investasi Danantara di HighPeak bukanlah uang negara yang “dikirim ke luar negeri”, Ia adalah Investasi Indonesia yang sedang bekerja untuk membawa pulang nilai yang lebih besar.