Konten dari Pengguna

Ada Beban dari Kalimat “Kamu Kan Bisa”

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lelah. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lelah. (Sumber: shutterstock.com).

Ada kalimat yang terdengar seperti dukungan, tetapi diam-diam bisa menjadi beban: “Kamu kan bisa.” Kalimat ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Ketika seseorang diminta membantu, menyelesaikan pekerjaan, menghadapi masalah, atau mengambil tanggung jawab yang lebih besar, kemampuan yang dimilikinya sering dijadikan alasan mengapa ia dianggap sanggup melakukan semuanya.

Sekilas, tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Bahkan, ucapan itu mungkin diberikan dengan niat baik. Seseorang ingin memberikan semangat kepada orang yang dipercaya. Namun, bagi orang yang terus-menerus mendengarnya, ada tekanan yang perlahan terbentuk. Ia mulai merasa bahwa dirinya tidak boleh gagal karena sudah dianggap mampu sejak awal.

Menurut saya, salah satu hal yang paling melelahkan adalah ketika kemampuan seseorang berubah menjadi ekspektasi orang lain. Ketika kita berhasil melakukan sesuatu beberapa kali, orang-orang mulai terbiasa meminta bantuan. Lama-kelamaan, kemampuan yang dulu merupakan kelebihan justru terasa seperti kewajiban.

Orang yang dianggap paling mengerti teknologi sering dimintai bantuan ketika ada masalah dengan laptop atau telepon. Orang yang pandai mengatur sesuatu sering dipercaya mengurus berbagai keperluan. Mereka yang terlihat tenang ketika menghadapi masalah sering menjadi tempat orang lain meminta solusi. Bahkan, seseorang yang dikenal kuat pun sering dianggap tidak membutuhkan pertolongan.

Masalahnya, manusia tidak selalu berada dalam kondisi yang sama.

Hari ini seseorang mungkin mampu menyelesaikan banyak hal sekaligus. Besok, ia bisa saja merasa lelah, kehilangan konsentrasi, atau hanya ingin menjalani hari tanpa harus memikirkan masalah orang lain. Kemampuan tidak membuat seseorang kebal terhadap rasa capek.

Namun, ketika seseorang sudah memiliki reputasi sebagai orang yang bisa diandalkan, mengatakan “tidak” sering terasa lebih sulit.

Ada rasa tidak enak ketika menolak permintaan keluarga. Ada kekhawatiran dianggap berubah ketika tidak lagi membantu teman. Ada perasaan bersalah ketika pekerjaan yang biasanya dapat diselesaikan dengan cepat tiba-tiba terasa berat.

Tanpa disadari, seseorang bisa mulai memaksakan dirinya sendiri demi mempertahankan gambaran yang sudah terbentuk di mata orang lain.

Hal yang lebih rumit adalah ketika tuntutan tersebut datang bukan hanya dari lingkungan, tetapi juga dari diri sendiri. Kita mulai berpikir bahwa karena sebelumnya pernah berhasil, kali ini pun harus bisa. Karena orang lain percaya kepada kita, tidak boleh mengecewakan mereka. Karena sudah terbiasa menjadi tempat bergantung, kita merasa tidak punya hak untuk menunjukkan kelemahan.

Padahal, meminta bantuan bukan berarti kehilangan kemampuan.

Menolak sesuatu juga bukan berarti menjadi orang yang tidak peduli.

Ada perbedaan antara dapat melakukan sesuatu dan harus selalu melakukannya. Seseorang bisa memiliki kemampuan tertentu tanpa harus tersedia setiap saat untuk memenuhi kebutuhan semua orang.

Kita sering mengagumi orang yang selalu siap membantu. Mereka terlihat kuat, sigap, dan dapat dipercaya. Namun, jarang sekali kita bertanya apakah orang tersebut juga memiliki seseorang yang dapat diandalkan ketika dirinya sedang membutuhkan bantuan.

Dalam keluarga, misalnya, anak yang dianggap paling mandiri terkadang justru paling jarang ditanya apakah dirinya sedang baik-baik saja. Karena terbiasa menyelesaikan persoalan sendiri, keluhannya mungkin tidak terlalu diperhatikan. Begitu juga di lingkungan pertemanan. Orang yang selalu menjadi pendengar sering lupa ditanya tentang cerita hidupnya sendiri.

Kebiasaan seperti ini sebenarnya dapat diperbaiki melalui hal sederhana: belajar melihat seseorang bukan hanya dari kemampuan yang dimilikinya, tetapi juga dari kondisi yang sedang ia jalani.

Sebelum mengatakan “kamu kan bisa”, mungkin kita bisa menambahkan satu pertanyaan: “Kamu sanggup melakukannya sekarang?”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi maknanya cukup besar.

Kalimat pertama hanya melihat kemampuan. Kalimat kedua mempertimbangkan keadaan.

Kita juga perlu memberi ruang bagi orang lain untuk mengatakan tidak tanpa langsung menganggapnya malas, berubah, atau tidak peduli. Setiap orang memiliki batas yang berbeda. Mengetahui batas diri bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran bahwa tenaga, waktu, dan pikiran memiliki kapasitas yang terbatas.

Menjadi seseorang yang dapat dipercaya memang merupakan hal yang baik. Tetapi kepercayaan tidak seharusnya berubah menjadi tuntutan untuk selalu kuat. Orang yang sering membantu juga berhak dibantu. Orang yang sering mendengarkan juga berhak didengarkan. Orang yang terbiasa menyelesaikan masalah juga berhak memiliki hari ketika ia tidak sanggup melakukan apa-apa.

Mungkin kita perlu lebih berhati-hati dalam memberikan pujian kepada orang yang selalu terlihat mampu. Jangan sampai “kamu kan bisa” menjadi alasan bagi seseorang untuk terus menyembunyikan rasa lelahnya.

Sebab, ada kalanya seseorang bukan tidak mampu.

Ia hanya sedang membutuhkan kesempatan untuk berhenti sebentar tanpa merasa bersalah.

Dan mungkin, bentuk dukungan terbaik bukan selalu meyakinkan seseorang bahwa ia pasti bisa menyelesaikan semuanya. Terkadang, dukungan yang lebih berarti adalah mengatakan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.