Konten dari Pengguna

Bansos Tepat Sasaran Lebih Penting daripada Anggaran Besar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bansos. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bansos. (Sumber: iStock.com).

Bantuan sosial menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah bagi masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, bantuan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan pokok, membiayai pendidikan anak, atau menjaga agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali. Namun, ada satu persoalan yang tidak kalah penting dari besarnya anggaran yang disediakan, yaitu apakah bantuan benar-benar diterima oleh orang yang membutuhkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ekonomi setiap keluarga tidak selalu dapat dilihat dari penampilan luarnya. Ada rumah tangga yang terlihat sederhana, tetapi harus menanggung biaya pengobatan anggota keluarga. Ada pula pekerja yang setiap hari tetap berangkat mencari nafkah, meskipun penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga. Sebaliknya, kondisi seseorang yang terlihat berkecukupan belum tentu menggambarkan keadaan keuangannya secara keseluruhan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa menentukan penerima bantuan sosial bukan perkara yang sesederhana melihat kondisi fisik rumah atau pekerjaan seseorang.

Menurut saya, keberhasilan program bantuan sosial seharusnya tidak hanya dinilai dari jumlah dana yang disalurkan, tetapi juga dari ketepatan penerima dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Anggaran besar memang dapat memperluas jangkauan program, tetapi hasilnya tidak akan optimal apabila data penerima tidak sesuai dengan keadaan di lapangan.

Ketidaktepatan sasaran dapat menimbulkan dua persoalan sekaligus. Pertama, keluarga yang sebenarnya membutuhkan justru tidak memperoleh bantuan. Kedua, bantuan dapat diterima oleh pihak yang kondisi ekonominya sudah tidak memenuhi kriteria. Persoalan ini bukan hanya menyangkut administrasi, melainkan juga menyangkut keadilan bagi masyarakat yang menggantungkan harapan pada program tersebut.

Masalahnya, keadaan ekonomi keluarga dapat berubah sewaktu-waktu. Seseorang yang sebelumnya memiliki pekerjaan tetap bisa kehilangan penghasilan akibat pemutusan hubungan kerja. Pedagang kecil yang biasanya memperoleh pendapatan harian juga dapat mengalami penurunan penjualan. Bahkan, keluarga yang sebelumnya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bisa menghadapi kesulitan setelah salah satu anggota keluarga mengalami sakit berkepanjangan. Jika data penerima tidak diperbarui secara berkala, perubahan tersebut berisiko tidak tercermin dalam penyaluran bantuan.

Karena itu, pemutakhiran data perlu menjadi bagian penting dalam pengelolaan bantuan sosial. Pemerintah perlu menggabungkan data administrasi dengan verifikasi kondisi nyata, melibatkan pemerintah daerah, serta menyediakan mekanisme pengaduan yang mudah digunakan. Masyarakat juga perlu memiliki kesempatan untuk melaporkan perubahan keadaan ekonomi atau menyampaikan keberatan apabila menemukan ketidaksesuaian. Proses tersebut harus dilakukan secara transparan tanpa mengabaikan perlindungan data pribadi penerima.

Di sisi lain, penilaian terhadap calon penerima tidak seharusnya hanya bergantung pada satu indikator. Penghasilan, jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan, kondisi kesehatan, kebutuhan pendidikan, dan kestabilan pekerjaan dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini penting karena dua keluarga dengan pendapatan serupa belum tentu memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Keluarga dengan tanggungan lebih banyak atau kebutuhan pengobatan rutin, misalnya, dapat menghadapi tekanan keuangan yang lebih besar.

Ketepatan penyaluran juga perlu disertai pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Proses penetapan penerima harus memiliki kriteria yang jelas, sedangkan perubahan data dan keputusan penyaluran perlu dapat ditelusuri. Jika ditemukan kesalahan, harus tersedia mekanisme koreksi yang tidak menyulitkan masyarakat. Dengan cara ini, pengawasan bukan sekadar mencari kesalahan, tetapi memastikan bahwa anggaran publik digunakan sesuai dengan tujuan program.

Meski demikian, masyarakat yang tidak menerima bantuan tidak selalu berarti telah diperlakukan secara tidak adil. Program sosial memiliki kriteria dan keterbatasan anggaran sehingga tidak semua kebutuhan dapat ditanggung sekaligus. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menjelaskan persyaratan penerima secara terbuka, termasuk alasan seseorang memenuhi atau tidak memenuhi kriteria. Komunikasi yang jelas dapat mengurangi kesalahpahaman sekaligus mencegah munculnya anggapan bahwa penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan kedekatan pribadi atau kepentingan tertentu.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa bantuan sosial sebaiknya tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Bagi keluarga yang masih memiliki kemampuan untuk meningkatkan pendapatan, dukungan berupa pelatihan keterampilan, akses pekerjaan, pendampingan usaha, dan pendidikan keuangan dapat membantu memperkuat kemandirian ekonomi. Bantuan tunai tetap dibutuhkan untuk menghadapi kesulitan mendesak, tetapi kesempatan memperbaiki kondisi kehidupan juga penting agar keluarga tidak terus-menerus berada dalam situasi rentan.

Keberhasilan program sosial memang tidak dapat diukur hanya melalui satu angka. Jumlah penerima, besarnya anggaran, dan tingkat penyerapan dana merupakan informasi penting, tetapi semuanya perlu dilihat bersama dampak yang dihasilkan. Apakah kebutuhan dasar keluarga terbantu? Apakah anak-anak dapat melanjutkan pendidikan? Apakah keluarga yang kehilangan penghasilan memperoleh kesempatan untuk bangkit kembali? Pertanyaan seperti ini dapat membantu menilai apakah kebijakan yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat.

Bantuan sosial bukan sekadar angka dalam laporan anggaran. Di balik setiap penyaluran, terdapat keluarga yang sedang berusaha mempertahankan kehidupannya di tengah keterbatasan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa proses penetapan penerima dilakukan secara adil, data diperbarui secara konsisten, dan setiap penyimpangan dapat diperbaiki melalui mekanisme yang jelas.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.