Konten dari Pengguna

Bijak Mengatur Uang, tetapi Penghasilan Tak Cukup

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendapatan. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendapatan. (Sumber: iStock.com).

Hampir setiap hari kita mendengar nasihat tentang pentingnya mengatur keuangan. Masyarakat dianjurkan membuat anggaran bulanan, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, menyisihkan uang untuk tabungan, dan menghindari utang konsumtif. Nasihat tersebut memang masuk akal. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas lebih jauh: bagaimana jika seseorang sudah berusaha menghemat, tetapi penghasilannya tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Persoalan keuangan sering kali dijelaskan seolah-olah hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang mengelola uang. Ketika tabungan tidak bertambah, seseorang dianggap kurang disiplin. Saat pengeluaran melebihi pendapatan, ia dinilai terlalu boros. Padahal, kondisi ekonomi setiap orang berbeda. Ada yang memiliki penghasilan cukup besar dengan tanggungan terbatas, tetapi ada pula yang harus memenuhi berbagai kebutuhan keluarga menggunakan pendapatan yang jumlahnya tidak banyak berubah dari bulan ke bulan.

Menurut saya, kebiasaan mengatur keuangan memang penting, tetapi kemampuan seseorang untuk menabung juga sangat dipengaruhi oleh besarnya penghasilan dan biaya hidup yang harus ditanggung. Kita tidak bisa menilai semua orang menggunakan ukuran yang sama tanpa memahami situasi mereka terlebih dahulu.

Bayangkan seorang pekerja yang menerima gaji setiap bulan. Begitu uang masuk ke rekening, sebagian besar sudah memiliki tujuan. Ada biaya makan, transportasi, tempat tinggal, listrik, komunikasi, dan kebutuhan rumah tangga. Jika memiliki anak, masih ada biaya pendidikan yang harus dibayar. Apabila orang tua membutuhkan bantuan finansial, pengeluaran tersebut kembali bertambah. Sebelum sempat memikirkan tabungan atau investasi, uang yang diterima mungkin sudah hampir habis untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan selalu karena seseorang tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Bisa jadi, ia sudah mengurangi jajan, membatasi hiburan, dan menunda membeli barang yang diinginkan. Namun, penghematan memiliki batas. Seseorang tidak mungkin terus-menerus mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan dasar tanpa memengaruhi kualitas hidupnya.

Kita juga perlu memahami bahwa biaya hidup tidak selalu meningkat secara bersamaan dengan penghasilan. Harga makanan, biaya transportasi, sewa tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya dapat mengalami perubahan, sedangkan pendapatan sebagian pekerja belum tentu mengalami kenaikan yang sebanding. Akibatnya, jumlah uang yang sama bisa memberikan kemampuan belanja yang berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Situasi ini membuat sebagian orang harus semakin berhati-hati ketika menggunakan uang. Membeli pakaian baru mungkin ditunda, makan di luar mulai dikurangi, dan keinginan berlibur disimpan untuk waktu yang belum pasti. Pilihan-pilihan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi bagi seseorang yang sedang menjaga keseimbangan keuangan, setiap keputusan dapat membawa konsekuensi terhadap kebutuhan lainnya.

Sayangnya, pembicaraan tentang keuangan pribadi terkadang terlalu berfokus pada gaya hidup. Orang yang kesulitan menabung langsung disarankan berhenti membeli kopi, mengurangi penggunaan layanan digital, atau tidak mengikuti tren. Padahal, pengeluaran kecil bukan selalu penyebab utama kesulitan keuangan. Jika sebagian besar pendapatan sudah digunakan untuk kebutuhan pokok, menghilangkan beberapa pengeluaran tambahan belum tentu memberikan perubahan yang berarti.

Bukan berarti kebiasaan konsumtif harus dibiarkan. Membeli sesuatu hanya demi mengikuti tren, menggunakan utang untuk memenuhi keinginan, atau menghabiskan seluruh penghasilan tanpa perencanaan tetap dapat menimbulkan masalah. Akan tetapi, membedakan antara kebiasaan boros dan keterbatasan ekonomi merupakan hal yang penting. Keduanya membutuhkan pendekatan yang berbeda, sehingga tidak tepat jika semua persoalan keuangan dianggap berasal dari kurangnya kedisiplinan.

Di sisi lain, masyarakat tetap perlu memiliki kebiasaan finansial yang sehat sesuai dengan kemampuannya. Mencatat pengeluaran, mengetahui jumlah kewajiban bulanan, menghindari utang yang tidak diperlukan, dan menyisihkan uang meskipun sedikit dapat membantu seseorang memahami kondisi keuangannya. Jika pendapatan belum memungkinkan untuk menabung secara rutin, langkah awalnya bisa berupa mengenali pengeluaran yang paling mendesak dan mencari peluang menambah penghasilan secara realistis.

Namun, tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan tidak seharusnya dibebankan kepada individu semata. Kesempatan kerja yang layak, upah yang memadai, akses pendidikan, serta biaya layanan dasar yang terjangkau turut menentukan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup. Literasi keuangan dapat membantu seseorang menggunakan uang dengan lebih baik, tetapi pengetahuan tersebut tidak otomatis membuat penghasilan yang terbatas menjadi cukup untuk semua kebutuhan.

Pembahasan ini juga penting agar kita tidak mudah menghakimi kondisi ekonomi orang lain. Seseorang yang belum memiliki rumah, belum mampu membeli kendaraan, atau belum mempunyai tabungan besar belum tentu tidak pandai mengelola uang. Bisa jadi, ia sedang memprioritaskan kebutuhan keluarga, membayar kewajiban, atau berusaha bertahan di tengah pendapatan yang terbatas. Kondisi finansial seseorang tidak selalu dapat dinilai hanya dari barang yang dimiliki atau pencapaian yang terlihat.

Kita memang perlu belajar mengatur uang dengan bijak. Namun, kebijaksanaan finansial seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa besar seseorang mampu menabung, melainkan juga dari kemampuannya mengambil keputusan sesuai dengan keadaan. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyisihkan sebagian penghasilan, dan tidak semua kesulitan dapat diselesaikan hanya dengan mengurangi pengeluaran.

Nasihat tentang keuangan akan lebih bermakna jika disampaikan dengan memahami kenyataan hidup masyarakat. Mengajarkan cara membuat anggaran tetap diperlukan, tetapi pembicaraan tentang penghasilan yang layak, biaya hidup, dan kesempatan memperbaiki kondisi ekonomi juga tidak boleh diabaikan. Keduanya perlu berjalan beriringan agar masyarakat tidak hanya dituntut mengelola uang dengan baik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan secara lebih layak.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.