Konten dari Pengguna

Bukan Tidak Ingin Mencintai, Hanya Lelah Bertemu Orang yang Salah

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang sedih. (Sumber: shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang sedih. (Sumber: shutterstock.com)

Ada orang yang terlihat baik-baik saja ketika melihat teman-temannya mulai menemukan pasangan. Mereka ikut tersenyum ketika mendengar cerita tentang hubungan baru, memberi ucapan selamat ketika seseorang bertunangan, bahkan sesekali bercanda tentang kapan dirinya akan menyusul. Namun, ketika ditanya tentang keinginan untuk menjalin hubungan, jawabannya justru sederhana: belum ingin.

Jawaban tersebut sering kali dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah tidak percaya pada cinta. Padahal, belum tentu demikian. Bisa saja seseorang masih ingin dicintai, hanya saja ia sudah terlalu lelah menghadapi hubungan yang membuatnya kehilangan ketenangan.

Tidak semua orang yang memilih sendiri sedang menolak hubungan. Sebagian mungkin hanya sedang menikmati hidup tanpa harus terus menjelaskan perasaan kepada orang lain. Setelah melewati hubungan yang penuh ketidakpastian, janji yang tidak ditepati, atau perhatian yang datang dan pergi sesuka hati, hidup sendiri terkadang terasa jauh lebih sederhana.

Menurut saya, salah satu alasan seseorang menjadi lebih berhati-hati dalam hubungan adalah karena pengalaman membuatnya memahami bahwa rasa suka saja tidak cukup untuk membangun hubungan yang sehat.

Pada awalnya, hampir semua hubungan terasa menyenangkan. Ada percakapan sampai larut malam, perhatian kecil yang membuat tersenyum, serta perasaan bahwa akhirnya ada seseorang yang benar-benar memahami kita. Namun, seiring waktu, karakter seseorang mulai terlihat lebih jelas.

Ada yang ternyata hanya hadir ketika membutuhkan sesuatu. Ada yang mudah berjanji tetapi sulit menepati. Ada pula yang membuat pasangannya terus bertanya-tanya tentang posisi dirinya dalam hubungan tersebut.

Hal-hal seperti itu mungkin terlihat kecil jika terjadi sekali. Tetapi ketika berulang, seseorang bisa mulai kehilangan tenaga untuk mempercayai orang baru.

Yang melelahkan bukan hanya perpisahannya, melainkan proses setelahnya. Belajar percaya lagi, membuka diri lagi, kemudian menghadapi kemungkinan bahwa cerita yang sama dapat terulang kembali. Karena itu, tidak mengherankan jika seseorang memilih berhenti sejenak daripada terus memaksakan diri mencari pasangan.

Sayangnya, pilihan tersebut sering disalahartikan.

Ketika seseorang mengatakan ingin sendiri, orang lain terkadang buru-buru memberikan nasihat. "Jangan terlalu memilih." "Nanti juga ada yang datang." "Kamu harus membuka hati." Seolah-olah seseorang yang belum menemukan pasangan pasti sedang memiliki masalah yang harus segera diperbaiki.

Padahal, tidak semua orang membutuhkan dorongan untuk segera memiliki hubungan.

Ada masa ketika seseorang memang ingin fokus pada pekerjaan, pendidikan, keluarga, atau sekadar memperbaiki dirinya sendiri. Ada juga yang sedang belajar menikmati kehidupannya tanpa bergantung pada kehadiran seseorang untuk merasa berharga.

Menunggu bukan berarti menutup semua kemungkinan.

Seseorang tetap bisa percaya bahwa suatu hari nanti akan bertemu dengan orang yang tepat, sambil tetap menjalani hidupnya sekarang. Ia tidak harus menerima siapa pun hanya karena takut sendirian.

Sebab, hubungan seharusnya menjadi tempat dua orang saling bertumbuh, bukan tempat seseorang terus-menerus mempertanyakan apakah dirinya cukup berharga untuk dipertahankan.

Mencintai seseorang juga tidak seharusnya membuat kita kehilangan batas terhadap diri sendiri. Perasaan memang penting, tetapi hubungan membutuhkan kejujuran, penghargaan, komunikasi, dan kemauan dari kedua pihak untuk menjaga apa yang telah dibangun bersama.

Karena itu, seseorang yang memilih sendiri setelah beberapa pengalaman buruk tidak selalu sedang membenci cinta. Bisa jadi ia hanya mulai memahami apa yang tidak ingin lagi ia jalani.

Ia mungkin masih ingin memiliki seseorang untuk berbagi cerita, makan malam setelah hari yang panjang, atau sekadar menerima pesan sederhana tentang bagaimana harinya berjalan. Hanya saja, ia tidak lagi ingin mendapatkan semua itu dengan harga berupa kecemasan, ketidakjelasan, atau kehilangan dirinya sendiri.

Tidak ada yang salah dengan berharap bertemu seseorang yang tepat. Tidak ada pula yang salah dengan memilih menunggu sampai benar-benar siap.

Cinta seharusnya tidak menjadi perlombaan. Tidak ada batas usia tertentu kapan seseorang harus memiliki pasangan, menikah, atau menemukan orang yang dianggap tepat oleh lingkungan sekitarnya.

Setiap orang memiliki waktunya sendiri.

Mungkin, sebagian orang memang belum menemukan seseorang yang membuatnya ingin membuka hati kembali. Mungkin juga mereka sedang belajar bahwa hidup yang tenang bukan sesuatu yang harus dikorbankan demi sebuah hubungan.

Dan jika suatu hari seseorang kembali jatuh cinta, semoga itu bukan karena takut kesepian, melainkan karena menemukan seseorang yang membuatnya merasa dihargai, didengar, dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.