Konten dari Pengguna

Bukan Tidak Punya Uang, Kita Hanya Tidak Tahu ke Mana Perginya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi uang di dompet. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang di dompet. (Sumber: shutterstock.com).

Pernah merasa baru menerima gaji atau uang bulanan, tetapi beberapa hari kemudian saldo sudah jauh berkurang? Kita kemudian mencoba mengingat apa saja yang sudah dibeli. Makan, transportasi, kopi, belanja kecil, biaya langganan, sampai berbagai pembayaran yang terasa tidak terlalu besar. Anehnya, ketika semuanya dijumlahkan, nominalnya bisa membuat kita bertanya-tanya: sebenarnya uang sebanyak itu pergi ke mana?

Persoalannya sering kali bukan karena kita tidak memiliki uang. Kita hanya tidak benar-benar memperhatikan bagaimana uang tersebut digunakan.

Pengeluaran besar biasanya mudah diingat. Membeli ponsel, membayar uang kuliah, memperbaiki kendaraan, atau membayar cicilan tentu terasa sebagai keputusan finansial yang penting. Namun, justru pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering luput dari perhatian.

Seribu rupiah, lima ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah, atau dua puluh ribu rupiah mungkin terlihat sepele jika hanya terjadi sekali. Namun, ketika dilakukan hampir setiap hari, jumlahnya dapat berubah menjadi pengeluaran yang cukup besar dalam sebulan.

Misalnya, membeli minuman karena sedang haus, memesan makanan karena sedang malas keluar, menggunakan layanan pesan antar karena lebih praktis, atau membeli sesuatu yang sedang diskon meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Tidak ada satu pun keputusan tersebut yang terlihat sebagai masalah besar.

Masalahnya muncul ketika keputusan kecil itu terjadi terlalu sering.

Menurut saya, salah satu alasan uang cepat habis adalah karena kita lebih mudah merasakan kesenangan ketika membeli sesuatu daripada memikirkan dampaknya terhadap kondisi keuangan beberapa minggu kemudian.

Ketika melihat saldo masih cukup, kita merasa masih mampu membeli. Ketika ada promo, kita merasa sedang menghemat. Ketika teman mengajak makan, kita merasa tidak enak jika menolak. Ketika merasa lelah setelah menjalani aktivitas seharian, membeli makanan atau minuman tertentu terasa seperti bentuk penghargaan untuk diri sendiri.

Semua alasan tersebut terdengar masuk akal.

Namun, jika terlalu sering digunakan, pengeluaran yang awalnya dianggap sebagai pengecualian bisa berubah menjadi kebiasaan.

Hal lain yang membuat kita sulit menyadari kondisi tersebut adalah transaksi digital. Membayar menggunakan dompet digital, transfer, atau kartu terasa jauh lebih ringan dibandingkan menyerahkan uang tunai secara langsung. Tidak ada lembaran uang yang berpindah dari tangan kita. Cukup beberapa kali menekan layar, transaksi selesai.

Kemudahan tersebut memang membantu kehidupan sehari-hari. Tetapi di sisi lain, kita menjadi lebih mudah melakukan pembelian tanpa benar-benar merasakan bahwa uang sedang berkurang.

Belum lagi berbagai layanan berlangganan yang terus berjalan setiap bulan. Ada aplikasi hiburan, layanan musik, penyimpanan data, hingga berbagai platform yang pernah kita gunakan karena tertarik mencoba. Nilainya mungkin tidak besar jika dilihat satu per satu. Namun, ketika beberapa layanan aktif bersamaan, pengeluaran rutin tersebut dapat mengambil sebagian kecil pendapatan tanpa kita sadari.

Karena itu, mengatur keuangan tidak selalu harus dimulai dengan keputusan besar.

Langkah paling sederhana justru dengan mengetahui ke mana uang pergi.

Kita bisa mencatat pengeluaran selama satu bulan tanpa perlu langsung membatasi semuanya. Catat saja setiap transaksi, termasuk yang nilainya kecil. Setelah beberapa minggu, biasanya akan terlihat pola yang sebelumnya tidak disadari.

Mungkin kita terlalu sering membeli makanan di luar. Mungkin biaya transportasi ternyata lebih besar dari perkiraan. Bisa juga ada pengeluaran untuk sesuatu yang jarang digunakan tetapi terus dibayar setiap bulan.

Dari sana, kita dapat membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan kebiasaan.

Kebutuhan tentu harus dipenuhi. Keinginan tidak selalu harus dihilangkan. Sementara kebiasaan perlu diperiksa kembali karena sesuatu yang dilakukan terus-menerus belum tentu benar-benar dibutuhkan.

Menghemat juga bukan berarti harus hidup tanpa menikmati hasil kerja. Kita tetap boleh makan di tempat yang disukai, membeli barang yang diinginkan, pergi bersama teman, atau menikmati hiburan. Yang penting adalah mengetahui batas kemampuan sendiri.

Jangan sampai pengeluaran hari ini membuat kebutuhan penting di kemudian hari menjadi terbengkalai.

Ada pula kebiasaan yang sering dilakukan ketika uang mulai menipis, yaitu menunggu pemasukan berikutnya tanpa mencari tahu penyebabnya. Siklus tersebut kemudian berulang setiap bulan. Mendapat uang, merasa cukup, menghabiskannya perlahan, lalu kembali bingung ketika saldo berkurang.

Jika pola ini terus berlangsung, kenaikan penghasilan belum tentu menyelesaikan masalah.

Seseorang yang pendapatannya meningkat dapat tetap merasa kekurangan apabila gaya hidup dan pengeluarannya ikut meningkat. Karena itu, persoalan keuangan tidak hanya berkaitan dengan berapa banyak uang yang masuk, tetapi juga bagaimana seseorang membuat keputusan setelah uang tersebut diterima.

Mengetahui ke mana uang pergi memberikan kita kesempatan untuk mengambil kembali kendali.

Kita menjadi tahu pengeluaran mana yang memang penting, mana yang bisa dikurangi, dan mana yang sebenarnya hanya dilakukan karena terbiasa. Dari kebiasaan sederhana tersebut, menabung juga menjadi lebih realistis karena kita mengetahui bagian pendapatan yang dapat disisihkan tanpa mengganggu kebutuhan utama.

Uang memang tidak selalu hilang karena satu pembelian besar. Sering kali, ia pergi sedikit demi sedikit melalui keputusan yang terasa tidak berarti.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya, “Kenapa uang saya cepat habis?”

Tetapi juga, “Apa saja yang saya lakukan dengan uang saya selama sebulan terakhir?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu menyenangkan. Namun, dari sanalah kita bisa mulai memahami kebiasaan finansial sendiri.

Kita tidak harus menjadi ahli keuangan untuk mengelola uang dengan lebih baik. Kita hanya perlu mulai memperhatikan hal-hal yang selama ini terlalu mudah dianggap sepele.

Sebab, kondisi keuangan yang lebih sehat tidak selalu dimulai dari memiliki penghasilan yang jauh lebih besar. Kadang, semuanya berawal dari keberanian untuk melihat kembali pengeluaran sendiri dan mengakui bahwa ada sebagian uang yang selama ini pergi tanpa pernah benar-benar kita sadari ke mana arahnya.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.