Chat “Wkwk” yang Kadang Tidak Berarti Sedang Tertawa

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kata yang mungkin paling sering muncul dalam percakapan sehari-hari di media sosial: “wkwk”. Kita menulisnya ketika ada sesuatu yang lucu, ketika merasa canggung, bahkan ketika sebenarnya tidak tahu harus membalas apa. Kadang “wkwk” hanya menjadi penutup percakapan agar suasana tidak terasa terlalu kaku.
Menariknya, orang yang menerima pesan tersebut belum tentu menganggapnya sama. Bagi pengirim, “wkwk” bisa berarti tertawa. Bagi penerima, dua atau tiga huruf itu bisa terasa seperti basa-basi, tanda tidak terlalu tertarik, atau bahkan respons yang terkesan cuek.
Menurut saya, “wkwk” sudah berkembang jauh dari sekadar ekspresi tertawa. Kata tersebut menjadi bagian dari bahasa percakapan digital yang membantu seseorang menyampaikan suasana hati tanpa harus menjelaskannya panjang lebar. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang sedikit memalukan, misalnya, “wkwk” dapat membuat pengakuan itu terasa lebih ringan. Ketika sebuah pembicaraan mulai serius, kata yang sama juga dapat digunakan untuk mencairkan suasana.
Masalahnya, komunikasi melalui pesan tidak memiliki ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh. Kita tidak bisa melihat apakah seseorang benar-benar tersenyum ketika mengetik “wkwk”. Akibatnya, satu kata yang sederhana dapat memiliki banyak arti tergantung hubungan antara dua orang yang sedang berbicara.
Hal tersebut sering terjadi dalam percakapan dengan teman. Ada orang yang hampir selalu membalas dengan “wkwk”, bahkan ketika tidak sedang tertawa. Bukan karena ia tidak menghargai cerita lawan bicara, melainkan karena sudah terbiasa menggunakan kata tersebut sebagai respons spontan.
Sebaliknya, ada juga orang yang sangat memperhatikan cara seseorang membalas pesan. “Wkwk” yang terlalu singkat bisa dianggap sebagai tanda percakapan ingin segera diakhiri. Apalagi jika sebelumnya seseorang terbiasa memberikan respons panjang, kemudian tiba-tiba hanya membalas satu kata.
Dari sini terlihat bahwa bahasa di ruang digital memiliki persoalan tersendiri. Kita sering mencoba membaca perasaan orang lain hanya melalui beberapa kata yang muncul di layar. Padahal, pesan singkat tidak selalu mampu menggambarkan keadaan seseorang secara utuh.
Tidak jarang kita juga mengetik “wkwk” ketika sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Seseorang bisa saja sedang lelah, kecewa, atau tidak ingin memperpanjang pembicaraan, tetapi tetap memberikan respons ringan agar tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Begitu pula dengan orang yang sedang bercerita. Ketika mendapatkan balasan “wkwk”, ia mungkin mengira ceritanya benar-benar dianggap lucu. Padahal, pengirim mungkin hanya sedang berusaha menunjukkan bahwa ia membaca dan mengikuti percakapan.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi manusia tidak pernah sesederhana kata-kata yang digunakan. Ada konteks, kedekatan, kebiasaan, dan situasi yang ikut menentukan makna sebuah pesan.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu cepat menyimpulkan perasaan seseorang hanya dari cara mereka membalas chat. Respons singkat bukan selalu berarti tidak peduli. “Wkwk” juga tidak selalu berarti seseorang sedang tertawa terbahak-bahak.
Ada kalanya kita memang tertawa.
Ada kalanya kita hanya tersenyum.
Ada kalanya kita sedang bingung harus menjawab apa.
Bahkan, ada kalanya kita hanya ingin menunjukkan bahwa kita masih ada dalam percakapan.
Di tengah komunikasi yang semakin banyak berlangsung melalui layar, memahami konteks menjadi semakin penting. Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dialami seseorang ketika mereka mengetik sebuah pesan. Karena itu, memberikan sedikit ruang untuk tidak langsung berprasangka mungkin jauh lebih baik daripada sibuk menebak-nebak maksud di balik dua atau tiga kata.
“Wkwk” mungkin terlihat sepele. Namun, kebiasaan kecil itu menunjukkan sesuatu yang lebih besar tentang cara manusia berkomunikasi di era digital: kita terus mencari cara untuk menyampaikan perasaan melalui tulisan, meskipun tulisan tidak pernah benar-benar mampu menggantikan ekspresi manusia secara utuh.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
