Di Balik Penguatan Rupiah, Ada Harga yang Harus Dibayar

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika rupiah sempat menyentuh level yang memicu kekhawatiran banyak pihak, perhatian publik langsung tertuju pada langkah Bank Indonesia. Kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen berhasil memberikan napas bagi rupiah yang sebelumnya tertekan hingga mendekati Rp18.200 per dolar AS. Dalam waktu singkat, rupiah kembali menguat dan memberikan sinyal bahwa stabilitas pasar keuangan masih dapat dijaga.
Namun, di balik kabar yang terlihat positif tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibahas secara mendalam: apakah penguatan rupiah selalu datang tanpa konsekuensi?
Bagi masyarakat umum, menguatnya rupiah sering dianggap sebagai pertanda bahwa kondisi ekonomi sedang membaik. Padahal, pergerakan nilai tukar hanyalah salah satu bagian dari gambaran besar perekonomian. Ketika sebuah negara harus mengambil langkah agresif untuk mempertahankan stabilitas mata uangnya, terdapat biaya ekonomi yang perlu diperhitungkan.
Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah sudah tidak bisa dianggap sebagai gejolak biasa. Pelemahan nilai tukar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga keluarnya sebagian modal asing dari pasar domestik. Dalam situasi seperti itu, menjaga kepercayaan terhadap rupiah menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Tidak ada negara yang ingin mata uangnya terus melemah tanpa kendali. Ketika nilai tukar terdepresiasi terlalu dalam, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor. Harga barang impor meningkat, biaya produksi bertambah, beban utang luar negeri menjadi lebih berat, dan pada akhirnya daya beli masyarakat ikut terpengaruh. Karena itu, langkah Bank Indonesia untuk memperkuat rupiah dapat dipahami sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi yang lebih luas.
Menurut saya, keputusan menaikkan suku bunga merupakan pilihan yang realistis dalam kondisi saat ini. Kepercayaan investor dan stabilitas nilai tukar merupakan aset penting yang harus dijaga. Ketika kepercayaan pasar mulai goyah, dampaknya bisa jauh lebih mahal dibandingkan biaya yang muncul akibat penyesuaian kebijakan moneter.
Meski demikian, keberhasilan menahan tekanan terhadap rupiah bukan berarti tidak menimbulkan konsekuensi. Kenaikan suku bunga biasanya membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Dunia usaha yang membutuhkan kredit untuk berekspansi akan menghadapi beban bunga yang lebih tinggi. Pelaku usaha kecil dan menengah juga dapat merasakan dampaknya ketika akses pembiayaan menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Di tingkat masyarakat, kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai keputusan ekonomi. Kredit rumah, kredit kendaraan, maupun pinjaman usaha berpotensi menjadi lebih mahal. Dalam jangka pendek, kebijakan ini memang membantu menjaga stabilitas nilai tukar. Namun dalam jangka menengah, perlambatan aktivitas ekonomi juga menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
Inilah dilema yang hampir selalu dihadapi bank sentral di berbagai negara. Di satu sisi, mereka harus menjaga stabilitas mata uang dan mengendalikan inflasi. Di sisi lain, kebijakan yang terlalu ketat dapat menekan pertumbuhan ekonomi. Tidak ada pilihan yang benar-benar sempurna karena setiap kebijakan selalu membawa konsekuensi yang berbeda.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa perekonomian Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Ketika konflik geopolitik meningkat atau investor internasional mengubah arah investasinya, dampaknya dapat langsung terasa pada nilai tukar rupiah. Artinya, ketahanan ekonomi nasional tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan jangka pendek untuk meredam gejolak pasar.
Momentum penguatan rupiah saat ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi ekonomi yang lebih mendasar. Produktivitas industri perlu ditingkatkan, daya saing ekspor harus diperkuat, dan ketergantungan terhadap arus modal jangka pendek perlu terus dikurangi. Dengan fondasi yang lebih kuat, Indonesia tidak akan terlalu rentan terhadap guncangan yang berasal dari luar negeri.
Pada akhirnya, penguatan rupiah tentu patut diapresiasi. Namun keberhasilan ekonomi tidak bisa diukur hanya dari seberapa jauh nilai tukar berhasil dipertahankan dalam beberapa hari atau beberapa bulan. Stabilitas mata uang memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana stabilitas tersebut mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sehat, membuka lapangan kerja, meningkatkan investasi, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Penguatan rupiah hari ini mungkin menjadi kabar baik. Namun tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa stabilitas tersebut tidak hanya berhenti sebagai pencapaian di pasar keuangan, melainkan benar-benar menjadi fondasi bagi ekonomi yang lebih kuat dan lebih tahan menghadapi berbagai krisis di masa depan.
