Konten dari Pengguna

Di Balik Tren Foto 80-an yang Viral, Ada Jejak yang Tidak Terlihat

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi di balik trend foto 80-an. (Sumber: ChatGPT.co.id).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi di balik trend foto 80-an. (Sumber: ChatGPT.co.id).

Media sosial kembali menghadirkan tren yang membuat banyak orang ingin ikut mencoba. Kali ini, foto dengan nuansa 1980-an menjadi perhatian. Dengan bantuan kecerdasan buatan, sebuah potret masa kini dapat diubah menjadi gambar bergaya retro, lengkap dengan rambut bervolume, pakaian khas era 80-an, aksesori vintage, hingga efek foto lawas.

Hasilnya memang menarik. Dalam hitungan singkat, seseorang dapat melihat dirinya seolah-olah hidup pada puluhan tahun lalu. Tidak mengherankan jika media sosial kemudian dipenuhi oleh berbagai unggahan dengan gaya yang serupa.

Teknologi kecerdasan buatan membuat sesuatu yang sebelumnya membutuhkan keterampilan mengedit kini dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah. Cukup mengunggah foto, memilih gaya tertentu, lalu menunggu hasilnya muncul.

Namun, di tengah keseruan mengikuti tren, ada satu hal yang jarang terlihat dari layar ponsel.

Setiap gambar yang dihasilkan oleh AI tidak benar-benar muncul begitu saja.

Di balik satu hasil gambar, terdapat proses komputasi yang berlangsung di pusat data. Server membutuhkan energi untuk bekerja, sementara sistem tersebut juga memerlukan infrastruktur pendukung, termasuk sistem pendinginan. Berbagai laporan dan penelitian mengenai perkembangan AI pun mulai mengingatkan bahwa pertumbuhan penggunaan teknologi digital memiliki konsekuensi terhadap kebutuhan energi dan sumber daya.

Hal ini menjadi menarik karena penggunaan AI sering kali terasa sangat sederhana dari sisi pengguna.

Kita hanya melihat sebuah tombol.

Kita menekan tombol tersebut.

Beberapa saat kemudian, gambar yang diinginkan muncul.

Proses yang terjadi di baliknya hampir tidak pernah kita pikirkan.

Menurut saya, kemudahan inilah yang membuat kita terkadang lupa bahwa aktivitas digital tetap memiliki jejak di dunia nyata.

Ketika seseorang mengikuti satu tren AI, dampaknya mungkin terasa sangat kecil. Satu gambar tentu tidak akan langsung mengubah kondisi lingkungan. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika jutaan orang melakukan hal yang sama secara berulang.

Teknologi digital bekerja dalam skala yang sangat besar.

Sebuah tren yang viral dapat menyebar ke berbagai negara hanya dalam beberapa hari. Orang yang awalnya tidak tertarik bisa ikut mencoba karena melihat teman, keluarga, atau kreator favoritnya melakukan hal yang sama. Semakin banyak orang ikut serta, semakin besar pula aktivitas komputasi yang dibutuhkan untuk melayani permintaan tersebut.

Di sinilah kita perlu melihat teknologi dengan cara yang lebih lengkap.

Bukan berarti AI adalah sesuatu yang harus ditolak.

Kecerdasan buatan telah memberikan banyak manfaat. Teknologi ini membantu pekerjaan, pendidikan, penelitian, kreativitas, hingga akses terhadap berbagai informasi. Dalam dunia kreatif, AI bahkan membuka kesempatan bagi banyak orang untuk menghasilkan karya yang sebelumnya sulit dibuat tanpa kemampuan teknis tertentu.

Masalahnya bukan terletak pada keberadaan teknologinya.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita menggunakannya.

Media sosial sering kali membuat kita merasa harus mengikuti sesuatu agar tidak tertinggal. Ketika sebuah tren muncul, ada dorongan untuk segera mencoba. Bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena semua orang tampaknya sedang melakukannya.

Hari ini foto bergaya 80-an.

Besok mungkin muncul tren gambar dengan gaya lain.

Setelah itu, akan ada tren baru lagi.

Siklus tersebut terus berjalan, sementara kita jarang bertanya apakah semua hal yang sedang viral memang perlu diikuti.

Tidak semua tren harus menjadi bagian dari kehidupan kita.

Kita tidak kehilangan apa pun hanya karena tidak ikut membuat gambar yang sedang ramai. Begitu pula, kita tidak harus menolak teknologi hanya karena mengetahui bahwa penggunaannya memiliki konsekuensi.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran.

Kesadaran bahwa sesuatu yang terlihat digital tetap membutuhkan sumber daya fisik.

Kesadaran bahwa kemudahan tidak selalu berarti tidak memiliki biaya.

Dan kesadaran bahwa setiap perkembangan teknologi seharusnya diikuti dengan cara penggunaan yang semakin bijak.

Isu lingkungan dalam perkembangan AI memang jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung berapa banyak air atau energi yang digunakan untuk menghasilkan satu gambar. Angka penggunaan sumber daya dapat berbeda-beda tergantung jenis teknologi, lokasi pusat data, sistem pendinginan, sumber energi, dan berbagai faktor lainnya.

Namun, kompleksitas tersebut tidak berarti kita boleh mengabaikan persoalannya.

Justru karena teknologinya berkembang sangat cepat, pembicaraan mengenai dampaknya perlu dimulai sejak sekarang.

Selama ini, pembahasan tentang AI lebih banyak berfokus pada kemampuan yang dapat dilakukan teknologi tersebut. Kita membicarakan apakah AI dapat menggantikan pekerjaan manusia, membantu menyelesaikan tugas, membuat gambar, menulis artikel, atau menciptakan video.

Sementara itu, pertanyaan tentang sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan teknologi tersebut belum selalu mendapatkan perhatian yang sama.

Padahal, kemajuan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang kita miliki.

Kita juga perlu memikirkan bagaimana teknologi itu dapat berkembang secara bertanggung jawab.

Bagi pengguna biasa, langkahnya mungkin terlihat sederhana.

Gunakan AI ketika memang diperlukan.

Jangan menghasilkan gambar atau konten secara berlebihan hanya untuk mengikuti tren.

Pikirkan kembali sebelum melakukan permintaan yang sebenarnya tidak memiliki kebutuhan.

Dan yang tidak kalah penting, jangan berhenti mencari informasi hanya karena sebuah angka terdengar menarik dan mudah dibagikan.

Literasi digital bukan hanya tentang mengetahui cara menggunakan teknologi. Literasi juga berarti memahami informasi yang beredar, memeriksa konteks, dan menyadari bahwa perkembangan digital memiliki sisi yang tidak selalu terlihat.

Tren foto 80-an mungkin akan berlalu seperti tren-tren media sosial sebelumnya. Beberapa minggu atau bulan lagi, perhatian masyarakat bisa saja beralih kepada hal yang benar-benar berbeda.

Namun, pertanyaan mengenai cara kita menggunakan AI akan tetap relevan.

Teknologi akan terus berkembang.

Kemampuannya akan semakin besar.

Penggunaannya akan semakin mudah.

Karena itulah, kebijaksanaan manusia seharusnya ikut berkembang.

Tidak ada yang salah dengan menikmati teknologi dan mencoba hal baru. Membuat foto bergaya retro pun dapat menjadi bentuk kreativitas yang menyenangkan. Namun, di tengah kemudahan tersebut, kita juga perlu mengingat bahwa tidak semua proses berakhir di layar ponsel.

Ada infrastruktur yang bekerja.

Ada energi yang digunakan.

Ada sumber daya yang dibutuhkan.

Ada jejak yang mungkin tidak langsung kita lihat.

Mungkin itulah hal yang perlu kita pelajari dari sebuah tren sederhana. Menjadi pengguna teknologi yang modern bukan berarti mengikuti setiap hal yang sedang viral. Menjadi pengguna yang benar-benar bijak berarti mampu menikmati perkembangan teknologi sambil tetap memahami konsekuensi yang menyertainya.

Foto bergaya 80-an memang dapat membawa kita bernostalgia pada masa lalu. Namun, cara kita menggunakan teknologi hari ini akan ikut menentukan seperti apa masa depan yang akan kita tinggalkan.