Di Era Media Sosial, Mengenal Seseorang Tidak Selalu Berarti Memahaminya

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, publik kembali diingatkan pada sebuah kasus yang bermula dari perkenalan di media sosial. Seorang perempuan kehilangan sepeda motor, telepon genggam, dan sejumlah dokumen penting setelah bertemu dengan pria yang baru dikenalnya secara daring. Kasus tersebut masih dalam penanganan pihak berwenang, sehingga seluruh proses hukumnya tentu perlu dihormati.
Namun, di luar proses penyelidikan yang sedang berjalan, peristiwa ini mengangkat satu pertanyaan yang lebih besar.
Apakah mengenal seseorang melalui media sosial berarti kita benar-benar memahami siapa dirinya?
Menurut saya, salah satu perubahan terbesar dalam kehidupan modern adalah cara manusia membangun rasa percaya.
Dulu, seseorang biasanya dikenal melalui lingkungan yang sama.
Tetangga mengenalkan tetangga.
Teman mengenalkan teman.
Keluarga mengenalkan keluarga.
Proses saling mengenal berlangsung perlahan karena disertai pengalaman yang nyata.
Hari ini, semuanya bisa terjadi jauh lebih cepat.
Seseorang dapat mengetahui nama, pekerjaan, hobi, bahkan melihat ratusan foto orang lain hanya dalam beberapa menit.
Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin mudah muncul perasaan bahwa kita sudah mengenalnya.
Padahal, informasi bukanlah pemahaman.
Melihat unggahan seseorang setiap hari tidak otomatis membuat kita mengetahui karakternya.
Membaca pesan yang sopan tidak selalu berarti kita memahami niat di baliknya.
Mengikuti aktivitas seseorang di media sosial juga tidak cukup untuk menilai bagaimana ia bersikap ketika tidak berada di depan layar.
Ironisnya, media sosial sering membuat batas antara "akrab" dan "percaya" menjadi semakin tipis.
Percakapan yang intens selama beberapa hari dapat menciptakan kesan seolah-olah hubungan sudah terjalin lama.
Padahal, kedekatan emosional tidak selalu sejalan dengan lamanya seseorang dikenal.
Fenomena seperti ini bukan hanya berkaitan dengan penipuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering mengalami hal serupa.
Ada orang yang tampak sangat ramah ketika pertama kali bertemu.
Ada yang pandai membuat lawan bicara merasa nyaman.
Ada yang cepat membangun kedekatan melalui perhatian-perhatian kecil.
Semua itu memang bisa lahir dari ketulusan.
Namun, tidak jarang pula dimanfaatkan oleh orang yang memiliki niat yang berbeda.
Bukan berarti kita harus memandang semua orang dengan rasa curiga.
Kepercayaan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan.
Tanpa kepercayaan, tidak akan ada persahabatan, kerja sama, ataupun hubungan yang sehat.
Akan tetapi, kepercayaan seharusnya tumbuh melalui waktu, bukan hanya melalui kesan pertama.
Mengenal seseorang membutuhkan lebih dari sekadar melihat profil media sosialnya.
Ia membutuhkan konsistensi.
Membutuhkan pengalaman.
Membutuhkan kesempatan untuk melihat bagaimana seseorang bersikap dalam berbagai situasi.
Karena karakter manusia tidak selalu terlihat pada saat-saat terbaiknya.
Kadang, ia justru tampak ketika menghadapi tekanan, perbedaan pendapat, atau tanggung jawab.
Media sosial memang berhasil memperpendek jarak antarmanusia.
Kita dapat berteman dengan orang dari kota lain, bahkan negara lain.
Kesempatan seperti ini membawa banyak manfaat.
Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kedewasaan yang lebih besar.
Semakin mudah seseorang hadir dalam kehidupan kita, semakin penting pula kemampuan untuk membedakan antara rasa nyaman dan rasa percaya.
Mungkin inilah pelajaran yang paling penting dari berbagai peristiwa serupa.
Bukan tentang berhenti berkenalan dengan orang baru.
Bukan pula tentang memandang semua orang sebagai ancaman.
Melainkan tentang memahami bahwa membangun kepercayaan memerlukan proses yang tidak bisa dipercepat hanya karena teknologi membuat perkenalan menjadi lebih mudah.
Pada akhirnya, media sosial memang mampu mempertemukan banyak orang.
Tetapi memahami seseorang tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh layar, yaitu waktu.
Sebab, mengenal nama seseorang hanya memerlukan beberapa detik.
Namun, memahami siapa dirinya yang sebenarnya sering kali membutuhkan perjalanan yang jauh lebih panjang.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
