Di Rumah Ada Masakan Ibu, tetapi Mengapa Kita Justru Memilih Mi Instan?

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pemandangan sederhana yang mungkin pernah kita alami di rumah. Ibu sudah memasak sejak pagi atau menyiapkan makanan sebelum anggota keluarga pulang. Berbagai hidangan tersedia di meja makan, mulai dari sayur, lauk, hingga sambal kesukaan keluarga. Namun, seseorang justru memilih membuka bungkus mi instan, merebus air, lalu menikmati makanan sederhana itu di kamarnya sendiri.
Sekilas, kebiasaan tersebut terlihat biasa saja. Mi instan memang praktis, mudah dibuat, dan memiliki rasa yang disukai banyak orang. Namun, jika dipikirkan lebih jauh, ada sesuatu yang menarik dari kebiasaan ini. Mengapa makanan yang sudah disiapkan di rumah terkadang kalah menarik dibandingkan semangkuk mi instan?
Menurut saya, jawabannya tidak selalu berkaitan dengan rasa lapar atau selera makan. Ada kalanya seseorang memilih mi instan karena ingin menikmati sesuatu yang sederhana tanpa harus memikirkan banyak hal. Setelah menjalani aktivitas yang melelahkan, makanan praktis terasa seperti pilihan paling mudah. Tidak perlu menghangatkan banyak lauk, menyiapkan piring, atau duduk bersama anggota keluarga. Cukup merebus air, menunggu beberapa menit, dan makanan sudah siap.
Kehidupan sehari-hari yang semakin sibuk juga membuat kebiasaan makan mengalami perubahan. Banyak orang pulang dalam keadaan lelah, membawa pekerjaan yang belum selesai, atau masih memikirkan berbagai persoalan yang terjadi sepanjang hari. Dalam kondisi seperti itu, keinginan untuk menikmati makanan terkadang tidak sebesar keinginan untuk segera beristirahat.
Mi instan juga memiliki daya tarik tersendiri karena rasanya yang sudah akrab sejak kecil. Ada orang yang justru merasa lebih menikmati mi instan dengan tambahan telur, cabai, atau sedikit sayuran dibandingkan makanan lain yang tersedia di meja makan. Kesederhanaan tersebut memberikan kepuasan tersendiri, meskipun pilihan itu belum tentu lebih baik dari sisi kandungan gizinya.
Namun, ada sisi lain yang sering tidak kita sadari. Masakan ibu bukan sekadar makanan yang tersedia untuk mengisi perut. Di balik hidangan sederhana tersebut, ada waktu, tenaga, dan perhatian yang diberikan kepada keluarga. Ibu mungkin tidak selalu bertanya apakah masakannya disukai, tetapi menyiapkan makanan merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sering dilakukan tanpa banyak kata.
Sayangnya, sesuatu yang selalu tersedia di rumah terkadang justru menjadi hal yang paling mudah kita anggap biasa. Kita terbiasa menemukan makanan di meja, sehingga tidak lagi memikirkan proses di balik penyajiannya. Ketika ingin makan, kita tinggal mengambil. Ketika tidak berselera, kita memilih makanan lain. Padahal, ada seseorang yang sudah meluangkan waktu untuk memastikan keluarganya tidak kelaparan.
Kebiasaan memilih mi instan tentu tidak berarti seseorang tidak menghargai masakan ibunya. Setiap orang memiliki selera, suasana hati, dan kebiasaan yang berbeda. Kita juga tidak harus selalu menyukai makanan yang sama setiap hari. Akan tetapi, sesekali ada baiknya kita menyadari bahwa makanan rumahan memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar rasa kenyang.
Ada hal sederhana yang bisa dilakukan, seperti mencoba masakan yang sudah disiapkan, mengucapkan terima kasih, atau menemani ibu makan meskipun hanya sebentar. Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi dapat membuat seseorang merasa bahwa usahanya dihargai.
Kita juga perlu memahami bahwa kebiasaan makan sebaiknya tidak hanya mengikuti keinginan sesaat. Mi instan boleh dinikmati sesekali, tetapi jangan sampai menjadi pilihan yang terlalu sering menggantikan makanan bergizi dan beragam. Menjaga kesehatan juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Menariknya, kebiasaan sederhana ini memperlihatkan bagaimana manusia sering mencari kenyamanan dari sesuatu yang praktis, sementara perhatian yang sudah tersedia di sekitarnya justru kurang disadari. Kita bisa menghabiskan uang untuk membeli makanan di luar, mencoba berbagai menu yang sedang populer, tetapi terkadang lupa menikmati hidangan sederhana yang telah disiapkan di rumah.
Mungkin bukan masakan ibu yang kehilangan daya tarik. Bisa jadi kita hanya terlalu terbiasa mendapatkannya sehingga lupa menghargai proses di balik setiap hidangan. Ada perhatian yang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata, tetapi hadir melalui makanan yang disiapkan setiap hari.
Semangkuk mi instan memang bisa menghilangkan rasa lapar dalam waktu singkat. Namun, makanan rumahan menyimpan sesuatu yang tidak selalu bisa dibeli di luar rumah, yaitu perhatian dari orang yang ingin melihat keluarganya makan dengan baik.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
