Konten dari Pengguna

Distraksi Sekecil Apa Pun Bisa Berharga Sangat Mahal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi distraksi. (Sumber: ChatGPT.co.id).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi distraksi. (Sumber: ChatGPT.co.id).

Rusaknya Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Kapten Tendean akibat ditabrak truk pengangkut alat berat bukan sekadar insiden yang memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan Jakarta. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa satu keputusan kecil saat mengemudi dapat menimbulkan dampak besar, bukan hanya bagi pengemudi itu sendiri, tetapi juga bagi ribuan orang yang menggunakan jalan yang sama.

Berdasarkan keterangan pihak berwenang, dugaan sementara menyebut pengemudi tidak memperhitungkan ketinggian muatan dan kehilangan konsentrasi karena memperhatikan telepon genggam. Apabila dugaan tersebut terbukti, maka penyebabnya bukan semata-mata kesalahan teknis, melainkan hilangnya fokus pada saat yang seharusnya menuntut perhatian penuh.

Banyak orang menganggap melirik layar ponsel hanya membutuhkan beberapa detik. Padahal, dalam beberapa detik itu kendaraan tetap melaju, kondisi lalu lintas terus berubah, dan ruang untuk menghindari bahaya semakin sempit. Pada kendaraan besar yang membawa muatan berat, konsekuensinya bisa jauh lebih serius karena kesalahan kecil dapat merusak fasilitas umum, mengganggu lalu lintas, bahkan membahayakan keselamatan orang lain.

Menurut saya, persoalan terbesar dari kejadian ini bukan hanya kerusakan JPO, melainkan masih adanya anggapan bahwa distraksi saat berkendara adalah hal yang sepele. Padahal, kemampuan mengendalikan kendaraan tidak akan berarti apabila perhatian pengemudi mudah teralihkan oleh sesuatu yang sebenarnya dapat ditunda sampai perjalanan selesai.

Kerusakan infrastruktur mungkin dapat diperbaiki dalam hitungan hari atau minggu. Namun, waktu yang terbuang akibat kemacetan, biaya perbaikan fasilitas publik, terganggunya aktivitas masyarakat, hingga potensi risiko kecelakaan lanjutan merupakan kerugian yang seharusnya tidak perlu terjadi apabila setiap pengemudi mengutamakan konsentrasi selama berada di jalan.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan angkutan maupun pemilik armada. Keselamatan tidak cukup diwujudkan melalui kendaraan yang laik jalan. Pengemudi juga perlu memastikan tinggi muatan sesuai ketentuan, memahami karakteristik rute yang akan dilalui, serta menjadikan disiplin berkendara sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar kewajiban administratif.

Di sisi lain, penegakan aturan mengenai penggunaan telepon genggam saat mengemudi tetap perlu dilakukan secara konsisten. Edukasi memiliki peran penting, tetapi kepatuhan akan lebih mudah tumbuh apabila diiringi pengawasan dan penegakan hukum yang adil. Keselamatan di jalan raya tidak hanya dibangun melalui imbauan, tetapi juga melalui kebiasaan yang dijaga bersama.

Setiap perjalanan selalu diawali oleh pilihan-pilihan sederhana. Memilih untuk tidak memegang telepon genggam, memastikan muatan sesuai batas aman, dan tetap fokus selama berkendara mungkin terlihat sebagai keputusan kecil. Namun, keputusan-keputusan itulah yang sering menjadi pembeda antara perjalanan yang berakhir dengan selamat dan peristiwa yang membawa kerugian bagi banyak orang.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.