Konten dari Pengguna

Dr. (H.C.) Drs. H. Darsono: Warisan Pendidikan dan Kesempatan Bermimpi

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendiri UNPAM. (Sumber: ChatGPT.co.id).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendiri UNPAM. (Sumber: ChatGPT.co.id).

Bagi sebagian orang, kuliah merupakan bagian yang wajar dari perjalanan hidup. Setelah lulus sekolah menengah, mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk mempersiapkan masa depan. Namun, bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, keinginan tersebut tidak selalu mudah diwujudkan. Biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, dan tanggung jawab keluarga sering kali menjadi pertimbangan besar sebelum seseorang berani mendaftar kuliah. Di tengah kenyataan tersebut, kehadiran perguruan tinggi yang terjangkau memiliki arti lebih luas daripada sekadar menyediakan ruang belajar.

Salah satu sosok yang memperjuangkan gagasan tersebut adalah Dr. (H.C.) Drs. H. Darsono, pendiri Universitas Pamulang (Unpam) sekaligus Ketua Yayasan Sasmita Jaya. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dapat menjadi pengalaman yang membentuk kepedulian terhadap persoalan pendidikan. Ia pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari menjadi buruh pembuat bata merah hingga bekerja sebagai office boy dan berjualan barang elektronik. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan yang kemudian membawanya membangun institusi pendidikan bagi masyarakat luas.

Menurut saya, hal paling menarik dari kisah Darsono bukan semata-mata keberhasilannya mendirikan universitas, melainkan gagasan yang melatarbelakangi perjuangan tersebut. Ia memahami bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tinggi tidak seharusnya hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial memadai. Pengalaman menghadapi keterbatasan membuatnya melihat pendidikan dari sudut pandang orang-orang yang sering kali harus memilih antara memenuhi kebutuhan hidup dan melanjutkan sekolah.

Gagasan itu diwujudkan melalui pendirian Universitas Pamulang bersama Dayat Hidayat pada awal 2000-an di bawah naungan Yayasan Sasmita Jaya. Unpam dikembangkan dengan misi menyediakan pendidikan tinggi yang terjangkau, termasuk bagi masyarakat yang ingin kuliah sambil bekerja. Biaya pendidikan yang relatif ringan menjadi salah satu daya tariknya bagi pekerja, buruh, dan masyarakat yang sebelumnya menghadapi kendala untuk melanjutkan studi.

Kehadiran kampus dengan pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat dibangun dengan memperhatikan kondisi sosial masyarakat. Mahasiswa tidak selalu berasal dari keluarga yang mampu membiayai seluruh kebutuhan kuliah tanpa kesulitan. Sebagian harus bekerja setelah menyelesaikan jam perkuliahan, mengatur pengeluaran dengan cermat, atau membagi waktu antara tugas akademik dan tanggung jawab di rumah. Bagi mereka, kesempatan berkuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Besarnya jumlah mahasiswa Unpam saat ini memperlihatkan luasnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang terjangkau. Namun, angka mahasiswa saja tidak cukup untuk menggambarkan seluruh arti keberadaan sebuah universitas. Hal yang lebih penting adalah kesempatan yang dapat diperoleh setiap mahasiswa melalui proses pendidikan tersebut. Apakah mereka mendapatkan pengetahuan yang relevan? Apakah kemampuan mereka berkembang? Apakah pendidikan yang dijalani membantu mereka meningkatkan kualitas hidup?

Pertanyaan tersebut penting karena biaya kuliah yang terjangkau harus berjalan beriringan dengan kualitas pembelajaran. Kesempatan masuk perguruan tinggi merupakan langkah awal, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Mahasiswa tetap membutuhkan dosen yang kompeten, fasilitas yang mendukung, kurikulum yang relevan, serta lingkungan akademik yang mendorong mereka untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan.

Di sisi lain, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan kesempatan yang telah diperoleh. Tidak semua orang memiliki peluang yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu, proses perkuliahan sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai rutinitas menghadiri kelas, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Ada kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun keterampilan, memperbaiki cara berpikir, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja.

Bagi mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah, perjalanan tersebut mungkin terasa lebih berat. Waktu istirahat bisa berkurang, pengeluaran harus diatur, dan tenaga perlu dibagi untuk memenuhi beberapa tanggung jawab sekaligus. Dalam keadaan seperti itu, memahami sejarah perjuangan pendiri kampus dapat menjadi pengingat bahwa kesempatan yang dinikmati hari ini lahir dari gagasan dan usaha yang panjang. Kisah tersebut bukan alasan untuk mengabaikan kesulitan mahasiswa, melainkan dorongan untuk terus memperbaiki akses dan kualitas pendidikan agar semakin banyak orang dapat berkembang.

Warisan Darsono juga mengajak kita melihat pendidikan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga membentuk individu yang mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah seharusnya membantu seseorang memahami persoalan di sekitarnya, mengambil keputusan dengan lebih bijak, dan menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Kisah hidup Darsono menunjukkan bahwa sebuah institusi dapat berawal dari pengalaman pribadi yang kemudian berkembang menjadi kesempatan bagi banyak orang. Akan tetapi, menjaga cita-cita tersebut bukan hanya tanggung jawab pendiri atau pengelola kampus. Dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan seluruh komunitas akademik memiliki peran dalam memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi sarana untuk bertumbuh dan memperluas kemungkinan hidup seseorang.

Bagi mahasiswa Universitas Pamulang, mengenal perjuangan pendirinya seharusnya tidak berhenti pada kegiatan pengenalan kampus atau sekadar mengetahui nama tokoh di balik institusi tempat mereka belajar. Kisah tersebut dapat menjadi bahan refleksi tentang alasan mereka menempuh pendidikan, tujuan yang ingin dicapai, serta kontribusi yang kelak dapat diberikan setelah lulus. Sebuah kampus akan memiliki makna lebih besar ketika kesempatan belajar yang disediakan benar-benar membantu mahasiswanya berkembang.

Pendidikan yang terjangkau bukan berarti perjalanan menuju keberhasilan menjadi mudah. Setiap mahasiswa tetap harus melewati proses belajar, menghadapi tantangan, dan membangun kemampuan melalui usaha yang konsisten. Namun, akses yang lebih terbuka membuat kesempatan tersebut dapat dijangkau oleh lebih banyak orang, termasuk mereka yang sebelumnya menganggap kuliah sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan.

Warisan terbesar seorang pendiri pendidikan bukan hanya bangunan yang berdiri atau jumlah mahasiswa yang terus bertambah, melainkan kesempatan yang tetap terbuka bagi generasi berikutnya. Kisah Dr. (H.C.) Drs. H. Darsono mengingatkan kita bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk mengubah masa depan. Bagi setiap mahasiswa yang sedang menempuh perjalanan tersebut, kesempatan berkuliah merupakan sesuatu yang layak diperjuangkan, dimanfaatkan, dan kelak diteruskan manfaatnya kepada orang lain.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.