Konten dari Pengguna

Dulu Ingin Cepat Dewasa, Sekarang Justru Ingin Kembali Menjadi Anak Kecil

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi merindukan masa kecil. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi merindukan masa kecil. (Sumber: iStock.com).

Ada masa ketika menjadi dewasa terasa seperti impian yang ingin segera diwujudkan. Saat masih kecil, kita sering membayangkan betapa menyenangkannya memiliki kebebasan sendiri, bisa menentukan pilihan tanpa banyak larangan, mendapatkan pekerjaan, membeli barang yang diinginkan, dan menjalani kehidupan sesuai kemauan. Rasanya, menjadi orang dewasa adalah kesempatan untuk menikmati dunia tanpa harus terus-menerus bergantung kepada orang lain.

Namun, setelah benar-benar melewati masa tersebut, tidak sedikit orang justru merindukan kehidupan yang pernah ingin ditinggalkan. Masa kecil yang dahulu terasa biasa saja perlahan berubah menjadi bagian kehidupan yang paling ingin diulang, meskipun hanya untuk sehari.

Menurut saya, salah satu hal yang membuat masa kecil begitu dirindukan adalah kesederhanaan dalam menjalani kehidupan. Dahulu, kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil. Bermain bersama teman, membeli jajanan kesukaan, menonton televisi setelah pulang sekolah, atau menghabiskan waktu bersama keluarga sudah cukup membuat hari terasa menyenangkan. Kita tidak perlu memikirkan tagihan, pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, maupun berbagai keputusan yang menentukan masa depan.

Ketika beranjak dewasa, hal-hal sederhana tersebut mulai tergeser oleh berbagai tanggung jawab. Bangun pagi bukan lagi sekadar bersiap berangkat sekolah, melainkan memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikan. Waktu istirahat terkadang masih diisi dengan urusan yang belum selesai. Bahkan ketika tubuh berada di rumah, pikiran sering kali masih tertinggal pada persoalan di luar.

Ada pula perubahan dalam cara kita memandang keluarga. Saat kecil, orang tua menjadi tempat untuk meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan. Kita tidak terlalu memikirkan bagaimana mereka memperoleh uang, membayar kebutuhan rumah, atau menyelesaikan berbagai persoalan keluarga. Semua terlihat seperti sesuatu yang memang sudah seharusnya tersedia.

Namun, ketika semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa kenyamanan tersebut ternyata dibangun melalui banyak pengorbanan. Ada pekerjaan yang melelahkan, kekhawatiran yang disimpan sendiri, dan keputusan sulit yang dahulu tidak pernah kita ketahui. Hal-hal yang dulu dianggap biasa ternyata membutuhkan usaha yang tidak sedikit.

Kerinduan terhadap masa kecil juga sering muncul ketika seseorang mulai menghadapi kenyataan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada impian yang harus ditunda, kesempatan yang tidak datang dua kali, hubungan yang berubah, hingga kegagalan yang membutuhkan waktu untuk diterima. Kita mulai menyadari bahwa memiliki kebebasan bukan berarti selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkan.

Media sosial terkadang membuat perasaan tersebut semakin terasa. Melihat teman sebaya telah memiliki pekerjaan tetap, membangun keluarga, membeli rumah, atau mencapai berbagai pencapaian dapat memunculkan pertanyaan tentang perjalanan hidup sendiri. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan pencapaian dan merasa tertinggal, padahal setiap orang memiliki keadaan serta waktunya masing-masing.

Menjadi dewasa juga mengajarkan bahwa tidak semua persoalan bisa diceritakan kepada orang lain. Ada kekhawatiran yang disimpan karena tidak ingin membuat keluarga ikut terbebani. Ada kesedihan yang ditutupi dengan senyuman karena tuntutan pekerjaan tetap harus dijalankan. Bahkan, terkadang seseorang harus terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang membutuhkan tempat untuk beristirahat.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang dewasa sesekali ingin kembali menjadi anak kecil. Bukan karena mereka tidak menghargai kehidupan yang dimiliki sekarang, melainkan karena merindukan masa ketika beban pikiran belum sebanyak hari ini. Mereka ingin merasakan kembali kebebasan bermain tanpa memikirkan waktu, tidur tanpa membawa kekhawatiran, dan menikmati kebersamaan keluarga tanpa merasa harus segera kembali pada kesibukan.

Meski demikian, bertambahnya usia bukan sesuatu yang harus disesali. Ada banyak hal berharga yang hanya bisa kita pahami setelah melewati berbagai pengalaman. Kedewasaan membuat seseorang lebih mengenal dirinya, memahami pengorbanan orang lain, serta belajar bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Hanya saja, proses tersebut tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemampuan menikmati kehidupan.

Sesekali, tidak ada salahnya memberikan waktu untuk melakukan hal-hal sederhana yang dahulu membuat kita bahagia. Mengunjungi tempat yang menyimpan kenangan, bertemu teman lama, menikmati makanan kesukaan, atau menghabiskan waktu bersama orang tua tanpa terganggu pekerjaan bisa menjadi cara untuk mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang memenuhi kewajiban.

Kita memang tidak bisa kembali ke masa ketika satu-satunya hal yang dipikirkan adalah bermain dan belajar. Waktu terus berjalan, tanggung jawab akan terus bertambah, dan kehidupan membawa setiap orang menuju tahap yang berbeda. Namun, bukan berarti kebahagiaan sederhana harus ikut hilang seiring bertambahnya usia.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.