Hal yang Dulu Kita Keluhkan Bisa Jadi Hal yang Akan Kita Rindukan

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada masa ketika kita merasa ingin cepat-cepat meninggalkan suatu keadaan.
Kita mengeluh karena harus bangun pagi setiap hari. Mengeluh karena tugas tidak ada habisnya. Mengeluh karena perjalanan yang jauh, pekerjaan yang melelahkan, rumah yang terasa terlalu ramai, atau rutinitas yang seolah selalu berulang.
Saat sedang menjalaninya, semua terasa biasa saja. Bahkan, terkadang terasa menyebalkan.
Namun, waktu memiliki cara yang unik untuk mengubah cara kita memandang sesuatu.
Hal yang dulu ingin kita tinggalkan perlahan berubah menjadi sesuatu yang justru kita rindukan.
Menurut saya, salah satu hal yang sering tidak kita sadari dalam hidup adalah bahwa tidak semua kesulitan yang kita alami akan selamanya terasa sebagai beban. Ada beberapa hal yang baru kita hargai setelah kita tidak lagi memilikinya.
Dulu, seorang mahasiswa mungkin merasa lelah karena harus mengikuti jadwal kuliah yang padat. Tugas, presentasi, perjalanan ke kampus, hingga mengejar tenggat waktu terasa seperti rutinitas yang ingin segera diselesaikan.
Tetapi setelah lulus, suasana kelas, obrolan bersama teman, bahkan perjalanan menuju kampus bisa menjadi bagian dari kenangan yang dirindukan.
Begitu pula dengan pekerjaan.
Ada orang yang setiap hari mengeluh karena harus berangkat pagi, menghadapi kemacetan, menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, atau bertemu dengan rekan kerja yang terkadang membuat lelah.
Namun ketika pekerjaan itu sudah tidak lagi ada, seseorang mungkin justru merindukan rutinitas tersebut. Bukan karena pekerjaannya tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena kehidupan telah berubah dan kesempatan untuk mengulang hari-hari itu sudah tidak sama.
Hal yang sama dapat terjadi dalam keluarga.
Ketika masih tinggal bersama orang tua, mungkin ada banyak hal kecil yang terasa mengganggu. Ditanya sudah makan atau belum. Diingatkan untuk pulang. Diminta membantu pekerjaan rumah. Bahkan nasihat yang sebenarnya diberikan karena perhatian terkadang terdengar seperti teguran yang ingin kita hindari.
Kemudian kita tumbuh dewasa.
Kita mulai memiliki kesibukan sendiri. Pulang semakin jarang. Percakapan tidak lagi sesering dulu.
Pada saat itulah, pertanyaan sederhana seperti "Sudah makan?" bisa terasa sangat berharga.
Kita mulai menyadari bahwa beberapa hal yang dulu dianggap biasa ternyata merupakan bentuk perhatian yang tidak selalu mudah ditemukan di tempat lain.
Namun, bukan berarti kita harus menganggap semua keluhan sebagai sesuatu yang harus disyukuri.
Ada keadaan yang memang perlu ditinggalkan. Ada lingkungan yang tidak sehat, hubungan yang menyakiti, pekerjaan yang tidak manusiawi, atau situasi yang memang tidak layak dipertahankan.
Menerima kenyataan bahwa sesuatu akan menjadi kenangan bukan berarti kita harus bertahan dalam keadaan yang buruk.
Yang perlu kita sadari adalah bahwa hidup selalu bergerak.
Apa yang kita jalani hari ini tidak akan selalu sama beberapa tahun kemudian.
Teman yang sekarang setiap hari kita temui mungkin suatu saat hanya muncul dalam daftar kontak. Tempat yang sekarang kita lewati setiap pagi mungkin suatu hari sudah tidak lagi menjadi bagian dari perjalanan kita. Percakapan yang sekarang terasa biasa bisa menjadi sesuatu yang kita ingat bertahun-tahun kemudian.
Ironisnya, kita sering baru menyadari nilai sebuah momen setelah momen tersebut berlalu.
Saat masih memiliki waktu, kita merasa waktu itu akan selalu tersedia.
Saat masih bisa bertemu, kita mengira pertemuan berikutnya pasti akan terjadi.
Saat masih bisa mendengar suara seseorang setiap hari, kita tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat suara tersebut bisa menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.
Karena itu, mungkin kita perlu belajar menikmati kehidupan tanpa harus menunggu semuanya berubah.
Bukan berarti berhenti mengeluh.
Mengeluh adalah hal yang manusiawi. Kita boleh merasa lelah, bosan, kecewa, atau ingin beristirahat.
Namun, di tengah keluhan tersebut, mungkin ada baiknya kita sesekali berhenti dan melihat kembali apa yang sebenarnya sedang kita miliki.
Rutinitas yang melelahkan mungkin juga berarti kita masih memiliki kesempatan untuk belajar.
Kesibukan yang membuat penat mungkin berarti ada sesuatu yang sedang kita perjuangkan.
Pertemuan yang terasa biasa mungkin sebenarnya sedang membangun kenangan yang suatu hari akan kita cari kembali.
Kita tidak pernah tahu kapan sebuah "hari biasa" ternyata menjadi salah satu hari terakhir dari sebuah fase kehidupan.
Mungkin itulah alasan mengapa kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Nikmati secukupnya. Syukuri seperlunya. Perbaiki apa yang memang perlu diperbaiki. Tinggalkan apa yang memang harus ditinggalkan.
Sebab, hidup bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu yang baru.
Terkadang, hidup juga tentang menyadari nilai dari sesuatu yang selama ini kita anggap biasa.
Pada akhirnya, beberapa hal memang baru terasa berharga setelah menjadi kenangan.
Bangku sekolah yang dulu membuat kita bosan. Kampus yang dulu membuat kita lelah. Pekerjaan yang dulu sering kita keluhkan. Rumah yang dulu terasa terlalu ramai. Percakapan yang dulu kita anggap biasa.
Semua bisa berubah menjadi bagian dari cerita yang suatu hari ingin kita ulang, meskipun hanya sebentar.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
