Konten dari Pengguna

Harga Pertamax Naik, Mengapa Keresahan Publik Ikut Meningkat?

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petugas mengisi bahan bakar untuk sebuah kendaraan di SPBU Pertamina Jalan Riau, Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/62023). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengisi bahan bakar untuk sebuah kendaraan di SPBU Pertamina Jalan Riau, Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/62023). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hampir selalu menjadi isu yang cepat menarik perhatian masyarakat. Hal yang sama kembali terjadi ketika harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Pemerintah menjelaskan bahwa penyesuaian ini mengikuti mekanisme pasar dan perkembangan harga minyak dunia. Namun di tengah penjelasan tersebut, satu hal yang juga tidak bisa diabaikan adalah meningkatnya keresahan publik.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga Pertamax mungkin hanya dianggap sebagai perubahan angka di papan informasi SPBU. Namun bagi banyak masyarakat, kenaikan tersebut sering kali dipandang sebagai sinyal bahwa biaya hidup berpotensi semakin berat. Kekhawatiran itu muncul bukan hanya karena harga BBM yang bertambah mahal, tetapi karena masyarakat memahami bahwa energi memiliki pengaruh besar terhadap berbagai sektor kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, BBM tidak hanya digunakan untuk kendaraan pribadi. Energi menjadi bagian penting dalam proses distribusi barang, transportasi, dan aktivitas ekonomi lainnya. Ketika harga energi meningkat, masyarakat sering kali khawatir akan muncul efek berantai terhadap harga kebutuhan lain yang mereka konsumsi setiap hari.

Pemerintah memang memastikan bahwa BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami kenaikan. Langkah tersebut patut diapresiasi karena bertujuan menjaga daya beli masyarakat. Namun kenyataannya, pengguna BBM non-subsidi tidak selalu berasal dari kelompok ekonomi atas. Banyak pekerja, pelaku usaha kecil, hingga masyarakat kelas menengah yang menggunakan Pertamax karena kebutuhan kendaraan atau keterbatasan pilihan bahan bakar di wilayah tertentu.

Di sisi lain, kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat semakin sensitif terhadap perubahan harga. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak keluarga harus beradaptasi dengan berbagai kenaikan biaya hidup. Mulai dari kebutuhan pangan, pendidikan, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi menambah pengeluaran sering kali memunculkan kekhawatiran baru.

Menurut saya, yang membuat keresahan publik meningkat bukan semata-mata karena harga Pertamax yang naik. Yang lebih besar adalah ketidakpastian yang dirasakan masyarakat mengenai kondisi ekonomi ke depan. Banyak orang mulai bertanya apakah penghasilan mereka masih mampu mengimbangi kenaikan berbagai kebutuhan hidup yang terjadi secara bertahap.

Keresahan seperti ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Masyarakat tentu ingin memastikan bahwa mereka masih dapat memenuhi kebutuhan keluarga, menabung untuk masa depan, dan menjaga stabilitas keuangan rumah tangga. Ketika harga-harga terus bergerak naik sementara pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sebanding, rasa khawatir menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Karena itu, komunikasi pemerintah menjadi faktor yang sangat penting. Penjelasan mengenai alasan kenaikan harga perlu disampaikan secara terbuka dan mudah dipahami. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi mengenai mekanisme pasar atau kondisi global, tetapi juga ingin mengetahui langkah konkret yang akan dilakukan pemerintah untuk menjaga daya beli mereka.

Di tengah situasi seperti ini, kepercayaan publik menjadi aset yang sangat berharga. Kebijakan ekonomi akan lebih mudah diterima apabila masyarakat merasa bahwa pemerintah memahami kondisi yang mereka hadapi dan hadir untuk memberikan solusi yang nyata. Sebaliknya, jika masyarakat merasa hanya diminta memahami keadaan tanpa melihat adanya upaya perlindungan yang jelas, keresahan akan semakin sulit diredam.

Kenaikan harga Pertamax pada akhirnya membuka kembali diskusi yang lebih luas mengenai kondisi ekonomi masyarakat. Bukan sekadar soal bahan bakar, tetapi juga tentang biaya hidup, daya beli, dan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Masyarakat tentu memahami bahwa berbagai tantangan global dapat memengaruhi harga energi. Namun mereka juga berharap setiap kebijakan yang diambil tetap mempertimbangkan kondisi nyata yang mereka rasakan.

Sebab bagi sebagian besar masyarakat, ukuran kesejahteraan bukan hanya tentang angka pertumbuhan ekonomi atau statistik makro yang diumumkan setiap tahun. Ukurannya sering kali jauh lebih sederhana: apakah kebutuhan sehari-hari masih dapat terpenuhi dengan baik, dan apakah mereka dapat menjalani masa depan dengan rasa tenang tanpa terus dibayangi kekhawatiran akan kenaikan biaya hidup berikutnya.