Hari Kesaktian Pancasila dan Kebiasaan Kecil yang Sering Kita Lupakan

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Pada tahun 2026, upacara peringatannya kembali diselenggarakan di Monumen Pancasila Sakti. Tanggal tersebut menjadi salah satu momentum untuk mengenang perjalanan bangsa sekaligus mengingat kembali nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bersama.
Namun, bagi sebagian orang, peringatan seperti ini mungkin hanya terasa sebagai tanggal merah di kalender, upacara di sekolah atau kantor, serta rangkaian kata-kata tentang persatuan yang terdengar setiap tahun. Setelah upacara selesai, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Padahal, nilai yang terkandung di dalamnya justru paling mudah ditemukan dalam hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari.
Kita sering membayangkan pengamalan Pancasila sebagai sesuatu yang besar. Seolah-olah harus dilakukan melalui tindakan yang luar biasa agar dapat disebut sebagai bentuk kecintaan kepada bangsa. Padahal, menghargai orang lain ketika berbeda pendapat, membantu tetangga yang sedang kesulitan, tidak mengambil hak orang lain, dan mau bekerja sama dengan siapa pun merupakan contoh yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita.
Menurut saya, tantangan terbesar dalam mengamalkan nilai Pancasila bukan karena kita tidak pernah mempelajarinya, melainkan karena kita sering lupa menerapkannya ketika berhadapan dengan situasi yang tidak sesuai dengan keinginan sendiri.
Contohnya mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Kita bisa berbicara tentang persatuan, tetapi masih mudah memusuhi seseorang hanya karena pilihan atau pendapatnya berbeda. Kita bisa mengatakan bahwa semua orang harus dihargai, tetapi terkadang masih senang mengejek orang yang dianggap berbeda. Kita juga bisa berbicara tentang gotong royong, tetapi memilih diam ketika ada pekerjaan bersama yang membutuhkan bantuan.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele. Tidak ada berita besar yang muncul hanya karena seseorang tidak mau membantu tetangganya atau karena seseorang menulis komentar kasar di media sosial. Namun, jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus, hubungan antarmanusia dapat perlahan menjadi semakin renggang.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika kebiasaan tersebut terbawa ke ruang digital. Media sosial membuat kita dapat menyampaikan pendapat kepada banyak orang hanya dalam beberapa detik. Sayangnya, kecepatan tersebut terkadang tidak diikuti dengan kehati-hatian.
Sebuah komentar dapat ditulis tanpa memikirkan perasaan orang lain. Informasi yang belum jelas dapat langsung dibagikan. Perbedaan pandangan dapat berubah menjadi saling serang. BPIP sendiri pada 2026 menyoroti bahwa hoaks, disinformasi, narasi kebencian, dan perang narasi di ruang digital dapat menjadi tantangan bagi persatuan.
Di sinilah nilai kebangsaan sebenarnya diuji.
Bukan ketika kita sedang mengikuti upacara dan berdiri dengan tertib, tetapi ketika kita berhadapan dengan seseorang yang memiliki pandangan berbeda. Bukan ketika kita menghafalkan lima sila, tetapi ketika kita harus memilih antara membalas komentar dengan kemarahan atau menanggapinya dengan kepala dingin.
Menjaga persatuan juga bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut tidak berubah menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Begitu pula dengan gotong royong. Nilai tersebut tidak harus selalu terlihat dalam kegiatan besar. Membantu teman menyelesaikan pekerjaan kelompok, memberikan tempat duduk kepada orang yang membutuhkan, membantu tetangga ketika ada kegiatan, atau sekadar tidak membiarkan seseorang menghadapi kesulitan sendirian juga merupakan bentuk kepedulian.
Kita sering mencari contoh pengamalan nilai kebangsaan dari sesuatu yang jauh, padahal lingkungan terdekat justru menjadi tempat pertama untuk mempraktikkannya.
Keluarga adalah tempat kita belajar menghargai orang lain. Sekolah menjadi ruang untuk belajar bekerja sama dengan teman yang berbeda karakter. Kampus mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan cara berpikir yang beragam. Lingkungan tempat tinggal mengajarkan bahwa kehidupan tidak dapat dijalani seorang diri.
Semua ruang tersebut sebenarnya menjadi tempat untuk membuktikan apakah nilai yang kita pelajari benar-benar hidup dalam perilaku.
Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan. Peringatan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali kebiasaan kita sendiri.
Apakah kita sudah cukup menghargai orang yang berbeda pendapat?
Apakah kita masih mau membantu ketika tidak mendapatkan keuntungan?
Apakah kita mampu menahan diri sebelum menyebarkan informasi yang belum jelas?
Apakah kita masih mau bekerja sama dengan orang yang tidak terlalu dekat dengan kita?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut mungkin tidak terdengar besar. Namun, dari kebiasaan kecil seperti itulah kehidupan bersama dibentuk.
Pancasila tidak akan menjadi lebih bermakna hanya karena semakin sering disebut. Nilainya justru terasa ketika hadir dalam cara kita memperlakukan orang lain, mengambil keputusan, menggunakan media sosial, menyelesaikan perbedaan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Hari Kesaktian Pancasila tahun ini dapat menjadi pengingat bahwa menjaga bangsa bukan hanya tugas mereka yang berada di pemerintahan atau lembaga negara. Masyarakat biasa juga memiliki ruang untuk berkontribusi melalui tindakan yang mungkin tidak terlihat, tetapi memiliki pengaruh terhadap lingkungan di sekitarnya.
Sebab, persatuan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia dimulai dari kesediaan untuk mendengar, kebiasaan menghargai, kemauan membantu, dan keberanian untuk tidak ikut menyebarkan kebencian.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
