Hidup Tidak Selalu Kekurangan, Kadang Kita Hanya Terlalu Sering Membandingkan

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita merasa hidup orang lain tampak lebih menyenangkan daripada kehidupan sendiri? Saat membuka media sosial, kita melihat teman yang baru membeli rumah, rekan sebaya yang sudah memiliki pekerjaan bagus, atau seseorang yang terlihat menikmati liburan bersama keluarga. Tanpa sadar, pencapaian mereka menjadi ukuran untuk menilai kehidupan kita. Hal-hal yang sebelumnya terasa cukup perlahan terlihat biasa saja, seolah-olah masih banyak yang kurang dari diri sendiri.
Kebiasaan membandingkan diri sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak dahulu, manusia mengenal persaingan dan keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, perkembangan media sosial membuat proses tersebut berlangsung semakin mudah. Kita dapat melihat berbagai pencapaian orang lain hanya melalui layar ponsel, bahkan ketika sedang beristirahat di rumah. Dalam satu waktu, kita bisa menyaksikan puluhan kehidupan yang tampak lebih menarik daripada kehidupan sendiri.
Masalahnya, apa yang kita lihat sering kali hanya sebagian kecil dari kenyataan. Seseorang mungkin membagikan keberhasilannya mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak menceritakan berapa lama ia menganggur sebelumnya. Ada yang mengunggah foto rumah baru tanpa menunjukkan perjuangan finansial di baliknya. Orang lain terlihat bahagia bersama pasangan, padahal hubungan mereka juga mungkin memiliki persoalan yang tidak diketahui publik. Kita membandingkan kehidupan sehari-hari yang kita jalani sepenuhnya dengan potongan terbaik yang dipilih orang lain untuk diperlihatkan.
Menurut saya, salah satu hal yang membuat seseorang sulit merasa cukup adalah kebiasaan menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar untuk mengukur keberhasilan dirinya sendiri. Ketika teman berhasil membeli kendaraan, kita mulai merasa tertinggal. Saat melihat orang lain memperoleh promosi jabatan, pekerjaan yang selama ini dijalani terasa kurang membanggakan. Bahkan, ketika seseorang yang sebaya sudah mencapai sesuatu lebih dahulu, kita bisa merasa seolah-olah sedang berjalan terlalu lambat.
Perasaan tersebut dapat muncul meskipun kehidupan kita sebenarnya tidak sedang berada dalam keadaan buruk. Kebutuhan sehari-hari masih terpenuhi, pekerjaan tetap berjalan, keluarga berada di sekitar kita, dan masih ada kesempatan untuk memperbaiki masa depan. Namun, semua hal itu terkadang kehilangan nilainya ketika perhatian terlalu terpusat pada sesuatu yang belum dimiliki.
Kita menjadi lebih mudah menghitung kekurangan daripada mengenali apa yang sudah berhasil dicapai. Penghasilan terasa kecil karena membandingkannya dengan orang yang lebih mapan. Rumah terasa sempit ketika melihat hunian orang lain yang lebih luas. Waktu istirahat terasa tidak produktif karena melihat teman sebaya yang terus bekerja dan menghasilkan sesuatu. Perlahan, ukuran kebahagiaan bergeser dari apa yang benar-benar dibutuhkan menjadi apa yang dimiliki orang lain.
Keadaan ini juga berkaitan dengan cara kita memahami keberhasilan. Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa kehidupan yang baik harus memiliki tanda-tanda tertentu, seperti pekerjaan bergengsi, pendapatan tinggi, rumah sendiri, atau pencapaian yang dapat dibanggakan kepada orang lain. Semua itu memang dapat menjadi tujuan yang wajar. Namun, persoalan muncul ketika kita menganggap bahwa setiap orang harus mencapai hal yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan.
Padahal, kehidupan setiap orang memiliki keadaan dan jalur yang berbeda. Ada yang dapat bekerja setelah lulus kuliah, sementara yang lain perlu membantu keluarganya terlebih dahulu. Ada yang memiliki dukungan finansial untuk mengembangkan usaha, sedangkan orang lain harus membangun semuanya dari penghasilan yang terbatas. Perbedaan kesempatan, tanggung jawab, dan kondisi keluarga membuat perjalanan hidup tidak mungkin diukur dengan satu standar yang berlaku bagi semua orang.
Karena itu, tertinggal dari seseorang dalam satu hal tidak berarti kita gagal menjalani kehidupan. Seseorang mungkin lebih cepat mencapai kestabilan finansial, tetapi kita bisa memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga. Orang lain mungkin memiliki karier yang berkembang pesat, sementara kita sedang membangun keterampilan atau menyelesaikan tanggung jawab yang tidak terlihat oleh banyak orang. Setiap perjalanan memiliki prioritas dan tantangannya sendiri.
Bukan berarti kita harus berhenti melihat pencapaian orang lain atau merasa puas tanpa berusaha. Keberhasilan orang lain justru dapat menjadi sumber inspirasi apabila kita mampu mengambil pelajaran darinya. Kita dapat belajar mengenai kedisiplinan, keberanian mencoba, atau cara mengembangkan kemampuan. Yang perlu dijaga adalah batas antara menjadikan seseorang sebagai inspirasi dan menjadikannya alasan untuk terus merendahkan diri sendiri.
Ada perbedaan besar antara ingin berkembang dan merasa tidak pernah cukup. Keinginan untuk berkembang membuat kita berusaha memperbaiki keadaan secara bertahap. Sebaliknya, perasaan tidak pernah cukup dapat membuat setiap pencapaian kehilangan makna karena selalu ada orang lain yang terlihat lebih unggul. Jika terus dibiarkan, kita bisa menghabiskan banyak waktu mengejar standar yang sebenarnya tidak pernah kita tentukan sendiri.
Sesekali, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melihat kembali kehidupan yang sedang dijalani. Apakah tujuan yang kita kejar memang penting bagi diri sendiri, atau hanya muncul karena melihat orang lain memilikinya? Apakah kita benar-benar menginginkan sesuatu tersebut, atau sekadar tidak ingin merasa tertinggal? Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita membedakan kebutuhan pribadi dari keinginan yang tumbuh akibat perbandingan sosial.
Kita tetap boleh memiliki ambisi, merencanakan masa depan, dan menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun, semua itu tidak harus dibangun dengan menganggap kehidupan sekarang sebagai sesuatu yang tidak berharga. Bersyukur atas keadaan saat ini juga tidak berarti menyerah pada kondisi yang ada. Kita bisa menerima apa yang sudah dimiliki sekaligus terus berusaha memperbaiki hal-hal yang memang perlu diubah.
Mungkin yang perlu kita pelajari bukanlah cara berhenti menginginkan sesuatu, melainkan cara menikmati proses tanpa terus-menerus merasa kalah dari orang lain. Sebab, kehidupan bukan perlombaan dengan garis awal, fasilitas, dan waktu pencapaian yang sama. Ada orang yang sampai lebih cepat, ada pula yang harus mengambil jalan lebih panjang. Keduanya tetap memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang bermakna.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
