Konten dari Pengguna

Jangan Lupa, Hidup Kita Hari Ini Pernah Menjadi Doa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berdoa. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berdoa. (Sumber: iStock.com).

Pernahkah kita mengingat kembali kehidupan beberapa tahun lalu, ketika ada banyak hal yang sangat ingin dimiliki, tetapi belum mampu kita capai? Mungkin saat itu kita berdoa agar bisa melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, memiliki penghasilan sendiri, atau sekadar menjalani hari tanpa terlalu banyak kekhawatiran. Kita membayangkan betapa bahagianya jika semua keinginan tersebut suatu hari menjadi kenyataan. Namun, ketika waktu berlalu dan sebagian harapan itu mulai terwujud, kita justru sering sibuk memikirkan hal-hal lain yang belum kita miliki.

Kehidupan memiliki cara yang unik dalam mengubah keinginan menjadi kenyataan. Sesuatu yang dahulu terasa begitu jauh perlahan menjadi bagian dari rutinitas. Bangun pagi untuk berangkat kuliah, menerima gaji pertama, bisa membeli kebutuhan menggunakan uang sendiri, atau pulang ke rumah dan menemukan keluarga dalam keadaan sehat mungkin pernah menjadi hal yang sangat kita harapkan. Akan tetapi, setelah terbiasa menjalaninya, semua itu perlahan terasa biasa saja.

Menurut saya, salah satu alasan kita mudah merasa kurang adalah karena manusia cenderung cepat menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Ketika berhasil mencapai sesuatu, kebahagiaan memang muncul, tetapi sering kali tidak bertahan selama yang kita bayangkan. Setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya. Kita mulai membandingkan pencapaian dengan orang lain, menetapkan target yang lebih tinggi, lalu kembali merasa tertinggal ketika melihat kehidupan orang-orang di sekitar.

Kebiasaan tersebut tidak sepenuhnya buruk. Memiliki cita-cita dan keinginan untuk berkembang merupakan bagian dari kehidupan. Kita tentu boleh berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, menyelesaikan pendidikan dengan hasil memuaskan, atau memiliki kondisi ekonomi yang lebih stabil. Masalahnya muncul ketika perhatian kita hanya tertuju pada apa yang belum tercapai, sementara hal-hal yang dahulu diperjuangkan justru tidak lagi dihargai.

Kita sering mengukur kehidupan melalui pencapaian yang terlihat. Ada yang merasa belum berhasil karena belum memiliki pekerjaan tetap, belum bisa membeli kendaraan, atau belum mampu memenuhi harapan keluarga. Ada pula yang merasa hidupnya berjalan terlalu lambat karena teman sebaya sudah mencapai banyak hal. Tanpa disadari, perbandingan tersebut membuat kita lupa bahwa setiap orang memiliki perjalanan, tanggung jawab, dan kesempatan yang berbeda.

Padahal, kehidupan yang kita jalani sekarang mungkin merupakan sesuatu yang dahulu sangat kita impikan. Seorang mahasiswa yang mengeluhkan padatnya jadwal kuliah mungkin pernah begitu berharap bisa masuk perguruan tinggi. Seseorang yang lelah bekerja mungkin pernah berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan mengirim lamaran. Begitu juga dengan orang yang merindukan waktu istirahat setelah menjalani hari yang panjang, padahal dahulu ia sangat berharap memiliki kesibukan dan kesempatan untuk mandiri.

Bukan berarti kita harus selalu merasa bahagia atau berpura-pura bersyukur ketika sedang menghadapi kesulitan. Ada masalah yang memang melelahkan, ada kehilangan yang membutuhkan waktu untuk diterima, dan ada keinginan yang belum tercapai meskipun kita sudah berusaha keras. Menghargai kehidupan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan yang tidak menyenangkan. Kita tetap boleh merasa kecewa, mengeluh, dan menginginkan perubahan tanpa harus menganggap seluruh perjalanan yang sudah dilalui sebagai sesuatu yang sia-sia.

Barangkali yang perlu kita pelajari adalah membedakan antara keinginan untuk berkembang dan kebiasaan menganggap hidup selalu kurang. Keduanya terlihat mirip, tetapi memiliki pengaruh yang berbeda terhadap cara kita menjalani hari. Keinginan untuk berkembang mendorong kita melangkah lebih jauh, sedangkan perasaan tidak pernah cukup dapat membuat kita terus berlari tanpa sempat menikmati apa yang sudah berhasil diraih.

Sesekali, cobalah mengingat kembali diri kita beberapa tahun lalu. Apa yang paling ingin kita capai saat itu? Kesulitan apa yang pernah membuat kita merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanan? Siapa saja yang membantu kita melewati masa-masa tersebut? Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi dapat membantu kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Kita mungkin belum memiliki semua yang diinginkan. Karier masih perlu dibangun, pendidikan belum selesai, tabungan belum sebanyak yang diharapkan, atau masa depan masih terasa penuh tanda tanya. Namun, keadaan tersebut tidak berarti bahwa tidak ada kemajuan yang patut dihargai. Bisa jadi, kita sudah melewati banyak hal yang dahulu terasa mustahil, hanya saja kesibukan mengejar tujuan berikutnya membuat kita jarang menyadarinya.

Hidup memang akan terus bergerak. Keinginan yang sekarang terasa penting mungkin akan berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Karena itu, tidak ada salahnya sesekali berhenti sejenak, bukan untuk menyerah pada cita-cita, melainkan untuk memahami sejauh mana kita sudah berjalan. Kita tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk merasakan bahwa hidup memiliki sesuatu yang layak disyukuri.

Jangan sampai kita menghabiskan terlalu banyak waktu mengejar kehidupan yang kita bayangkan, hingga lupa menghargai kehidupan yang sedang dijalani. Sebab, beberapa tahun dari sekarang, mungkin kita akan menoleh ke masa kini dan menyadari bahwa ada banyak hal sederhana yang dahulu terasa biasa, tetapi ternyata sangat berharga. Hari-hari bersama keluarga, kesempatan belajar, tubuh yang masih mampu beraktivitas, dan orang-orang yang tetap menemani kita mungkin kelak menjadi kenangan yang ingin diulang.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.