Jika Semua Orang Bersandar Padaku, Lalu Aku Harus Bersandar pada Siapa?

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang yang hampir selalu dicari ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Mereka menjadi tempat bercerita, dimintai pendapat, dimintai bantuan, bahkan diandalkan ketika keadaan sedang sulit. Kehadirannya seolah menjadi jawaban bagi banyak persoalan. Namun, tidak banyak yang bertanya apakah orang tersebut juga sedang membutuhkan bantuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sosok seperti ini mudah ditemukan. Bisa seorang anak yang selalu berusaha memenuhi harapan keluarga, teman yang selalu siap mendengarkan keluh kesah orang lain, pasangan yang terus berusaha menguatkan, atau seseorang di lingkungan kerja yang hampir selalu menerima tanggung jawab tambahan karena dianggap paling bisa diandalkan.
Menjadi orang yang dapat dipercaya memang merupakan hal baik. Ada kebahagiaan tersendiri ketika keberadaan kita dibutuhkan. Kita merasa memiliki arti karena bisa membantu orang lain melewati masa sulit. Namun, keadaan mulai berbeda ketika semua orang terbiasa mengandalkan kita, sementara kebutuhan dan perasaan pribadi justru semakin jarang diperhatikan.
Menurut saya, salah satu kelelahan yang paling sulit dijelaskan adalah ketika seseorang harus terus terlihat kuat karena terlalu banyak orang menggantungkan harapan kepadanya. Ia mungkin ingin beristirahat, ingin mengeluh, atau sekadar ingin didengarkan tanpa harus memberikan solusi. Sayangnya, kebiasaan menjadi tempat bergantung membuatnya sering merasa tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan kelemahan.
Ada kalanya seseorang sedang menghadapi masalahnya sendiri, tetapi tetap harus mendengarkan cerita orang lain. Ia mungkin sedang memikirkan kondisi keuangan, pekerjaan, hubungan keluarga, atau masa depannya. Namun, ketika telepon berdering dan seseorang membutuhkan bantuan, ia kembali mengesampingkan persoalan pribadi.
Hal yang menarik, orang-orang di sekitarnya belum tentu memiliki niat buruk. Mereka mungkin benar-benar percaya bahwa dirinya mampu menghadapi berbagai keadaan. Karena selama ini selalu berhasil menyelesaikan masalah, muncul anggapan bahwa ia tidak membutuhkan pertolongan yang sama.
Padahal, kemampuan seseorang untuk bertahan bukan berarti ia tidak pernah merasa lelah. Orang yang paling sering memberikan dukungan juga memiliki batas kesabaran, tenaga, dan kemampuan emosional. Ia bisa kecewa, kehilangan semangat, bahkan merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang.
Situasi tersebut terkadang membuat seseorang kesulitan mengungkapkan kebutuhan pribadinya. Ia khawatir dianggap berubah, tidak peduli, atau tidak lagi seperti biasanya ketika mulai menolak permintaan orang lain. Ada perasaan tidak enak ketika harus mengatakan bahwa dirinya sedang tidak sanggup membantu.
Kebiasaan selalu mengutamakan kepentingan orang lain juga dapat membuat batas antara kepedulian dan pengorbanan menjadi semakin kabur. Membantu memang tidak salah, tetapi mengabaikan diri sendiri secara terus-menerus bukan sesuatu yang harus dibanggakan.
Kita perlu memahami bahwa hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling menguatkan. Tidak seharusnya hanya satu orang yang terus mendengarkan, sementara dirinya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bercerita. Kepedulian bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, melainkan bagaimana setiap orang dapat saling hadir ketika dibutuhkan.
Di sisi lain, orang yang terbiasa menjadi tempat bergantung juga perlu belajar menyampaikan batas kemampuannya. Menolak sebuah permintaan bukan berarti kehilangan kepedulian. Mengambil waktu untuk diri sendiri bukan tindakan egois. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak agar tidak terus memberikan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak kita miliki.
Lingkungan sekitar pun sebaiknya tidak hanya mengingat seseorang ketika membutuhkan bantuan. Sesekali, menanyakan kabarnya, mendengarkan ceritanya, atau menawarkan pertolongan sederhana dapat memberikan arti yang besar. Perhatian tidak harus selalu hadir dalam bentuk materi atau solusi. Terkadang, seseorang hanya ingin mengetahui bahwa ada orang lain yang bersedia mendengarkannya.
Kita sering mengagumi orang yang mampu menghadapi banyak persoalan tanpa mengeluh. Namun, jangan sampai kekaguman tersebut membuat kita lupa bahwa mereka juga manusia biasa. Mereka tidak selalu memiliki jawaban, tidak setiap saat sanggup membantu, dan tidak harus menyembunyikan kesedihan demi mempertahankan citra sebagai pribadi yang kuat.
Menjadi tempat bersandar bagi orang lain memang sebuah bentuk kebaikan. Akan tetapi, setiap orang juga membutuhkan tempat untuk beristirahat ketika beban terasa semakin berat. Kita tidak seharusnya menuntut seseorang terus menjadi kuat hanya karena selama ini ia jarang memperlihatkan kelemahannya.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
