Kalau Cinta Itu Pelajaran, Sepertinya Saya Masih Remedial

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

HAHAHAHA.
Kalau cinta memang sebuah pelajaran, sepertinya saya adalah mahasiswa yang paling rajin mengulang mata kuliah yang sama tanpa pernah berhasil mendapatkan nilai sempurna. Sudah berganti semester, berganti orang, berganti cerita, tetapi hasilnya masih saja mirip. Ada yang datang membawa harapan, ada yang pergi membawa pelajaran, dan saya tetap duduk di tengah-tengahnya sambil bertanya-tanya, sebenarnya saya ini sedang belajar mencintai atau sedang mengikuti program remedial tanpa batas waktu?
Lucunya, kisah percintaan yang tidak beruntung sering kali baru terasa lucu setelah semuanya selesai. Saat masih dijalani, satu pesan yang tidak dibalas bisa membuat pikiran ke mana-mana. Satu perubahan sikap bisa dianalisis berkali-kali. Bahkan tanda titik di akhir sebuah pesan pun kadang terasa seperti bahan penelitian yang membutuhkan kesimpulan panjang.
Setelah hubungan itu benar-benar selesai, barulah kita melihat semuanya dengan lebih santai. Hal-hal yang dulu terasa seperti tragedi besar ternyata bisa menjadi cerita yang diceritakan sambil tertawa. Kita bisa mengingat bagaimana dulu menunggu pesan seseorang dengan penuh harapan, padahal orang tersebut mungkin sedang sibuk menjalani hidupnya sendiri tanpa sedikit pun memikirkan apakah kita sudah mengecek ponsel untuk kesepuluh kalinya.
Menurut saya, salah satu hal paling lucu dari urusan cinta adalah betapa mudahnya manusia menjadi tidak masuk akal ketika sudah menyukai seseorang. Orang yang biasanya mampu berpikir logis bisa berubah menjadi detektif hanya karena melihat seseorang aktif di media sosial tetapi tidak membalas pesan.
Kita mulai mencari kemungkinan.
Mungkin dia sibuk.
Mungkin ponselnya tertinggal.
Mungkin sedang ada masalah.
Mungkin belum melihat pesan.
Dan setelah berbagai kemungkinan dibuat, kita akhirnya menemukan satu kesimpulan yang sebenarnya sudah diketahui sejak awal: dia memang tidak membalas.
Namun, manusia memang sering lebih suka mencari alasan daripada menerima kenyataan.
Kita juga sering memiliki kebiasaan aneh dalam percintaan. Ketika seseorang memberikan perhatian sedikit, kita bisa membayangkannya menjadi sesuatu yang besar. Sebuah ajakan makan bisa dianggap sebagai tanda ketertarikan. Obrolan sampai larut malam terasa seperti awal hubungan. Sementara perhatian yang sebenarnya biasa saja dapat kita simpan sebagai bukti bahwa mungkin ada sesuatu di antara kami.
Padahal, tidak semua perhatian adalah perasaan.
Tidak semua kedekatan berarti hubungan.
Dan tidak semua orang yang membuat kita nyaman memang ditakdirkan untuk tinggal.
Kesadaran seperti itu biasanya baru datang setelah kita mengalami sendiri.
Ada pula fase ketika kita mencoba meyakinkan diri bahwa orang yang pergi sebenarnya bukan kehilangan besar. Kita mengatakan kepada teman-teman bahwa semuanya baik-baik saja. Kita mengaku sudah tidak peduli. Kita bahkan mungkin menghapus percakapan agar terlihat sudah move on.
Lalu beberapa hari kemudian, sebuah lagu terdengar di tempat yang tidak terduga dan tiba-tiba semua kenangan kembali.
HAHAHAHA.
Ternyata manusia memang memiliki cara yang unik untuk menyangkal perasaannya sendiri.
Namun, mungkin justru dari cerita-cerita seperti itulah kita belajar sesuatu. Cinta tidak selalu mengajarkan bagaimana mendapatkan seseorang. Kadang, ia mengajarkan bagaimana menerima bahwa seseorang tidak memilih kita.
Pelajaran itu tidak mudah.
Kita terbiasa mengejar sesuatu yang kita inginkan. Ketika sudah berusaha dengan baik tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan, kita sering menganggap diri sendiri gagal. Seolah-olah hubungan yang tidak berhasil berarti ada sesuatu yang kurang dari diri kita.
Padahal, tidak semua perpisahan terjadi karena seseorang tidak cukup baik.
Dua orang bisa sama-sama baik dan tetap tidak cocok. Dua orang bisa saling menyayangi tetapi memiliki tujuan hidup yang berbeda. Bahkan, seseorang bisa datang pada waktu yang salah meskipun dirinya adalah orang yang tepat.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu keras kepada diri sendiri ketika kisah percintaan tidak berjalan sesuai rencana.
Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pernikahan agar dianggap berhasil. Ada hubungan yang memang hadir untuk menemani satu fase kehidupan, lalu selesai ketika fase tersebut berubah.
Ada pula seseorang yang datang hanya untuk membuat kita memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam sebuah hubungan.
Kalau dipikir-pikir, mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung siapa yang pergi dan lupa menghitung apa yang kita pelajari.
Dulu kita mungkin mudah percaya pada janji. Sekarang kita belajar melihat tindakan.
Dulu kita takut ditinggalkan. Sekarang kita mulai memahami bahwa kehilangan seseorang tidak selalu berarti kehilangan masa depan.
Dulu kita mengira dicintai orang lain adalah bukti bahwa diri kita berharga. Sekarang kita perlahan tahu bahwa harga diri tidak seharusnya ditentukan oleh status hubungan.
Mungkin itulah nilai yang sebenarnya kita dapatkan dari kisah percintaan yang berantakan.
Bukan tentang siapa yang berhasil kita pertahankan, tetapi tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri setelah semuanya selesai.
Jadi, kalau suatu hari ada yang bertanya bagaimana perjalanan percintaan saya, mungkin saya tidak akan memberikan jawaban yang terlalu serius.
Saya cukup tertawa.
HAHAHAHA.
Kalau cinta memang pelajaran, saya mungkin masih remedial. Tetapi setidaknya sekarang saya sudah tahu bahwa remedial bukan berarti gagal selamanya. Bisa jadi saya hanya belum menemukan cara belajar yang tepat, atau mungkin memang belum waktunya mendapatkan nilai akhir.
Untuk sementara, tidak apa-apa.
Biarkan kisah-kisah yang gagal menjadi cerita lucu yang suatu hari bisa kita kenang tanpa rasa sakit. Sebab, ada masa ketika seseorang yang dulu membuat kita menangis justru menjadi bagian dari cerita yang membuat kita tertawa.
Dan kalau nanti cinta datang lagi, semoga kali ini saya tidak perlu mengikuti ujian yang sama dengan soal yang berbeda.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
