Kampus Terlalu Sibuk Menuntut, tapi Minim Mendengar

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar meninggalnya seorang mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang diduga melompat dari gedung kampus menjadi pukulan bagi banyak orang. Peristiwa ini bukan hanya menghadirkan duka, tetapi juga membuka kembali pertanyaan besar tentang kondisi kesehatan mental mahasiswa di lingkungan pendidikan saat ini.
Selama ini kampus sering dipandang sebagai tempat terbaik untuk meraih masa depan. Mahasiswa dituntut aktif, berprestasi, produktif, dan mampu bersaing. Namun di balik berbagai tuntutan tersebut, banyak mahasiswa yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan mental yang tidak terlihat.
Tekanan akademik menjadi salah satu hal yang paling dekat dengan kehidupan mahasiswa. Tugas yang menumpuk, persaingan nilai, tuntutan organisasi, magang, hingga kekhawatiran soal masa depan sering kali membuat mahasiswa merasa lelah secara fisik dan mental. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa takut gagal karena khawatir mengecewakan keluarga atau tertinggal dari teman-temannya.
Di media sosial, kehidupan mahasiswa lain sering terlihat sempurna. Ada yang aktif organisasi, mendapat beasiswa, lulus cepat, hingga terlihat sukses di usia muda. Tanpa sadar, banyak mahasiswa mulai membandingkan dirinya sendiri dengan standar yang sebenarnya belum tentu realistis. Akibatnya, rasa cemas dan tekanan semakin besar.
Yang lebih mengkhawatirkan, kesehatan mental masih sering dianggap sebagai masalah pribadi yang harus diselesaikan sendiri. Banyak mahasiswa takut bercerita karena khawatir dianggap lemah, tidak bersyukur, atau terlalu berlebihan. Akibatnya, banyak orang memilih memendam masalah mereka sampai merasa benar-benar kelelahan.
Kalimat seperti “semua orang juga capek” atau “jangan terlalu dipikirkan” mungkin terdengar biasa saja, tetapi bagi sebagian orang justru membuat mereka merasa semakin sendirian. Tidak semua mahasiswa mampu bercerita ketika sedang berada di titik terendahnya. Banyak yang memilih diam karena takut dianggap hanya mencari perhatian.
Menurut saya, kampus masih terlalu fokus membentuk mahasiswa yang kompetitif tanpa benar-benar membangun lingkungan yang sehat secara emosional. Kampus sibuk menuntut mahasiswa untuk terus berkembang, tetapi sering lupa menyediakan ruang aman bagi mereka untuk didengar.
Layanan konseling memang mulai tersedia di beberapa perguruan tinggi, tetapi keberadaannya sering belum terasa dekat dengan mahasiswa. Masih banyak mahasiswa yang malu atau takut datang ke layanan psikologis karena khawatir dicap memiliki gangguan mental. Padahal menjaga kesehatan mental seharusnya menjadi hal yang normal, sama seperti menjaga kesehatan fisik.
Selain itu, budaya “harus kuat” membuat banyak mahasiswa terbiasa menutupi rasa lelah mereka. Mereka tetap datang ke kelas, tetap tersenyum, tetap aktif di organisasi, tetapi sebenarnya sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ironisnya, lingkungan sekitar sering baru sadar ketika semuanya sudah terlambat.
Peristiwa seperti ini juga menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak bisa hanya dibahas setelah tragedi terjadi. Kampus perlu membangun sistem yang lebih peduli terhadap kondisi psikologis mahasiswa sejak awal. Dosen, teman, organisasi kampus, hingga keluarga harus ikut menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan tidak menghakimi.
Mahasiswa tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar tanpa meremehkan perasaan mereka. Kepedulian sederhana seperti menanyakan kabar atau memberi ruang untuk bercerita bisa menjadi hal yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang merasa sendirian.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu berhenti menganggap kesehatan mental sebagai isu yang tabu. Tekanan hidup anak muda saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Persaingan semakin tinggi, biaya hidup meningkat, tuntutan sosial semakin besar, sementara banyak orang dituntut untuk selalu terlihat baik-baik saja.
Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat mahasiswa mengejar nilai, gelar, dan prestasi. Kampus juga harus menjadi tempat yang aman bagi mahasiswa untuk bertumbuh sebagai manusia. Pendidikan tidak hanya soal mencetak lulusan yang pintar, tetapi juga memastikan mereka tetap sehat secara mental dan emosional.
Tragedi ini seharusnya menjadi alarm bahwa kesehatan mental mahasiswa bukan persoalan sepele. Di balik banyaknya mahasiswa yang terlihat kuat dan baik-baik saja, mungkin ada orang-orang yang sebenarnya sedang berjuang sendirian tanpa pernah benar-benar didengar.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
