Konten dari Pengguna

Kasus Anjing Pom dan Batas Empati Kita

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anjing yang dilecehkan. (Sumber: shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anjing yang dilecehkan. (Sumber: shutterstock.com)

Kasus dugaan pelecehan terhadap seekor anjing Pomeranian bernama Sissy di Jakarta Utara memicu kemarahan banyak orang. Dalam hitungan jam, berita tersebut menyebar luas di media sosial dan memunculkan berbagai reaksi, mulai dari kecaman hingga rasa prihatin terhadap kondisi hewan yang menjadi korban.

Namun setelah kemarahan itu mereda, ada pertanyaan yang lebih penting untuk dipikirkan bersama: mengapa kasus seperti ini begitu mengusik perasaan banyak orang?

Jawabannya mungkin tidak hanya terletak pada tindakan yang dilakukan pelaku, tetapi juga pada fakta bahwa korbannya adalah makhluk hidup yang tidak mampu membela diri.

Ketika manusia menjadi korban suatu tindakan, setidaknya mereka memiliki kesempatan untuk berbicara, menjelaskan apa yang dialami, atau mencari bantuan. Hewan tidak memiliki kemampuan tersebut. Mereka hanya bisa merasakan ketakutan, rasa sakit, atau tekanan tanpa mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Karena itulah kasus yang menimpa Sissy memunculkan reaksi yang kuat di tengah masyarakat. Banyak orang merasa ada batas moral yang telah dilanggar ketika makhluk yang sepenuhnya bergantung pada perlindungan manusia justru menjadi korban tindakan yang tidak semestinya.

Di tengah perkembangan media sosial, kasus-kasus yang melibatkan hewan sering kali menjadi viral dengan cepat. Namun perhatian publik biasanya hanya bertahan beberapa hari sebelum digantikan oleh isu lain yang lebih baru. Akibatnya, perbincangan sering berhenti pada kemarahan sesaat tanpa diikuti refleksi yang lebih mendalam.

Padahal kasus seperti ini seharusnya mendorong kita untuk melihat kembali bagaimana posisi hewan dalam kehidupan manusia.

Selama ini hewan peliharaan sering dianggap sebagai bagian dari keluarga. Banyak orang memberikan perhatian, perawatan, bahkan kasih sayang yang besar kepada hewan yang mereka pelihara. Namun pada saat yang sama, masih ada anggapan bahwa persoalan yang melibatkan hewan bukanlah masalah yang serius karena tidak melibatkan korban manusia.

Pandangan tersebut perlu dipertanyakan kembali. Sebab perlakuan terhadap hewan sering kali mencerminkan kualitas empati dalam sebuah masyarakat.

Kemampuan untuk menghormati dan melindungi makhluk yang lebih lemah merupakan bagian penting dari nilai kemanusiaan. Ketika seseorang mampu menunjukkan kepedulian kepada makhluk yang tidak dapat membalas ataupun membela diri, di situlah empati menemukan maknanya.

Menurut saya, yang membuat banyak orang terganggu oleh kasus ini bukan semata-mata karena korbannya seekor anjing. Yang membuat masyarakat bereaksi adalah kesadaran bahwa ada tindakan yang dilakukan terhadap makhluk hidup yang berada dalam posisi sangat rentan.

Kasus ini juga mengingatkan bahwa perlindungan terhadap hewan tidak hanya menjadi urusan komunitas pecinta hewan atau pemilik peliharaan. Ini adalah bagian dari upaya membangun lingkungan sosial yang menghargai kehidupan dan menolak segala bentuk perlakuan yang merugikan pihak yang tidak berdaya.

Di sisi lain, penanganan hukum terhadap kasus ini menunjukkan bahwa tindakan terhadap hewan tidak dapat dianggap sebagai hal yang sepele. Masyarakat semakin menyadari bahwa kesejahteraan hewan merupakan isu yang layak mendapat perhatian, bukan sekadar pelengkap dalam diskusi tentang hak dan perlindungan makhluk hidup.

Peristiwa yang menimpa Sissy mungkin hanya satu kasus di antara banyak peristiwa lain yang terjadi setiap hari. Namun respons publik menunjukkan bahwa masyarakat mulai memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap isu perlindungan hewan.

Hal tersebut merupakan perkembangan yang positif. Sebab ukuran kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya terlihat dari bagaimana mereka memperlakukan sesama manusia, tetapi juga dari bagaimana mereka memperlakukan makhluk hidup yang tidak memiliki suara untuk membela dirinya sendiri.

Kasus Anjing Pom ini akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana empati kita bekerja ketika yang menjadi korban bukan manusia, melainkan makhluk hidup yang sepenuhnya bergantung pada perlindungan manusia?

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.