Konten dari Pengguna

Ketika Kepercayaan Dijadikan Modus Kejahatan

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kepercayaan yang disalahgunakan dalam hubungan pertemanan hingga berujung pada penggelapan kendaraan. (Sumber: ChatGPT.co.id)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kepercayaan yang disalahgunakan dalam hubungan pertemanan hingga berujung pada penggelapan kendaraan. (Sumber: ChatGPT.co.id)

Kasus seorang mahasiswa di Semarang yang diduga menggelapkan puluhan sepeda motor milik teman, adik tingkat, bahkan pacarnya sendiri mengundang perhatian publik. Berdasarkan keterangan kepolisian, pelaku diduga menyewa kendaraan milik para korban dengan alasan akan disewakan kembali kepada pihak lain. Namun kendaraan tersebut justru digadaikan tanpa sepIengetahuan pemiliknya. Dalam waktu relatif singkat, jumlah korban mencapai puluhan orang dengan nilai kerugian yang tidak sedikit.

Kasus ini memang berawal dari dugaan tindak pidana penggelapan. Namun jika dicermati lebih jauh, persoalan yang muncul sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kerugian materi. Ada satu hal lain yang ikut menjadi korban, yaitu kepercayaan.

Mayoritas korban bukanlah orang asing yang baru dikenal pelaku. Mereka adalah teman kampus, adik tingkat, dan orang-orang yang berada dalam lingkaran sosial yang sama. Fakta tersebut menunjukkan bahwa aksi ini tidak dilakukan dengan kekerasan atau ancaman, melainkan dengan memanfaatkan kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain.

Kepercayaan merupakan fondasi penting dalam kehidupan sosial. Hampir setiap aktivitas sehari-hari dibangun di atas rasa percaya. Kita meminjamkan barang kepada teman karena percaya barang tersebut akan dikembalikan. Kita bekerja sama dalam organisasi karena percaya setiap anggota akan menjalankan tanggung jawabnya. Kita menjalin hubungan pertemanan karena percaya bahwa hubungan tersebut tidak akan dimanfaatkan untuk merugikan satu sama lain.

Lingkungan kampus menjadi salah satu ruang yang sangat bergantung pada nilai tersebut. Kehidupan mahasiswa tidak hanya berisi kegiatan akademik, tetapi juga interaksi sosial yang intens. Banyak mahasiswa hidup jauh dari keluarga dan mengandalkan bantuan teman dalam berbagai situasi. Dalam kondisi seperti itu, kepercayaan menjadi modal sosial yang sangat penting.

Ketika kepercayaan justru dijadikan sarana untuk melakukan kejahatan, dampaknya tidak berhenti pada kerugian finansial. Korban mungkin kehilangan kendaraan, tetapi mereka juga kehilangan rasa aman dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak sedikit orang yang setelah mengalami pengkhianatan akan menjadi lebih sulit mempercayai orang di sekitarnya.

Menurut saya, kasus ini menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu datang dari orang yang tidak dikenal. Dalam banyak situasi, risiko justru muncul dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan seseorang. Kedekatan sering kali membuat seseorang menurunkan kewaspadaan karena merasa sudah mengenal karakter orang lain dengan baik.

Fenomena tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi muda. Kepercayaan memang diperlukan untuk membangun hubungan sosial yang sehat, tetapi kepercayaan tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kehati-hatian. Hubungan pertemanan yang baik tetap memerlukan batasan, tanggung jawab, dan transparansi agar tidak mudah disalahgunakan.

Kasus ini juga membuka ruang diskusi mengenai pentingnya pendidikan karakter di lingkungan perguruan tinggi. Kampus tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu yang memiliki integritas. Pengetahuan yang tinggi tanpa karakter yang kuat dapat melahirkan berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Di era yang semakin kompetitif, tekanan ekonomi dan keinginan untuk memenuhi gaya hidup tertentu sering kali mendorong sebagian orang mengambil jalan pintas. Sayangnya, jalan pintas yang ditempuh kadang dilakukan dengan mengorbankan hak orang lain. Ketika keuntungan pribadi menjadi tujuan utama, nilai kejujuran dan tanggung jawab dapat tersingkirkan.

Padahal, kepercayaan adalah salah satu aset paling berharga yang dimiliki manusia. Uang yang hilang masih bisa dicari kembali, kendaraan yang hilang masih dapat diganti, tetapi kepercayaan yang rusak sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dipulihkan. Sekali seseorang merasa dikhianati, hubungan yang sebelumnya terjalin baik tidak mudah kembali seperti semula.

Kasus ini mengingatkan bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun dalam waktu lama, tetapi dapat runtuh hanya dalam satu tindakan. Di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada relasi dan kerja sama, menjaga kepercayaan menjadi tanggung jawab yang tidak kalah penting dibandingkan mengejar prestasi atau keuntungan. Sebab ketika kepercayaan disalahgunakan, yang hilang bukan hanya harta benda, melainkan juga keyakinan bahwa hubungan antarmanusia masih dapat berdiri di atas rasa saling percaya.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.