Ketika Korban Kehilangan Suara Selama Tiga Tahun

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kasus seorang perempuan di Bandung yang diduga mengalami penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya selama bertahun-tahun meninggalkan banyak pertanyaan. Bukan hanya tentang kekerasan yang dialaminya, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa terputus dari keluarga, teman, dan lingkungan sosialnya dalam waktu yang begitu lama.
Selama ini, banyak orang membayangkan kekerasan hanya dalam bentuk luka fisik. Padahal, dalam banyak kasus, kekerasan sering kali dimulai jauh sebelum bekas luka terlihat. Korban perlahan dijauhkan dari orang-orang terdekatnya, dibatasi komunikasinya, kehilangan akses terhadap keputusan pribadi, hingga akhirnya kehilangan ruang untuk meminta pertolongan.
Kasus ini menunjukkan bahwa kehilangan kebebasan tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Terkadang prosesnya berlangsung perlahan hingga sulit disadari, baik oleh korban maupun oleh orang-orang di sekitarnya.
Yang membuat kasus seperti ini terasa mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa korban sempat kehilangan kontak dengan keluarga selama bertahun-tahun. Dalam rentang waktu tersebut, keluarga hanya menerima informasi yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Menurut saya, bagian paling menyedihkan dari kasus ini bukan hanya dugaan kekerasan yang terjadi, tetapi bagaimana seseorang bisa berada dalam situasi sulit begitu lama tanpa mendapatkan bantuan yang memadai.
Kita sering beranggapan bahwa orang dewasa sepenuhnya mampu mengambil keputusan sendiri. Anggapan tersebut memang benar dalam banyak keadaan. Namun dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk bertindak bebas karena tekanan, ketakutan, manipulasi, atau ketergantungan emosional.
Karena itulah, tanda-tanda hubungan yang mengarah pada kontrol berlebihan seharusnya tidak dianggap sepele. Larangan berkomunikasi dengan keluarga, pembatasan pergaulan, pengawasan yang berlebihan, hingga upaya memutus hubungan korban dengan lingkungan sosial sering kali menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa dukungan sosial memiliki peran yang sangat penting. Tidak semua korban kekerasan mampu meminta bantuan secara langsung. Dalam banyak situasi, mereka justru membutuhkan orang lain yang cukup peduli untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, kita sering menganggap hilangnya komunikasi sebagai hal biasa. Padahal, dalam kondisi tertentu, perubahan yang terjadi secara drastis pada seseorang bisa menjadi tanda bahwa ia sedang menghadapi masalah yang jauh lebih serius.
Proses hukum tentu perlu berjalan untuk mengungkap fakta yang sebenarnya. Namun terlepas dari hasil penyelidikan nantinya, kasus ini mengingatkan bahwa kekerasan tidak selalu dimulai dari pukulan pertama. Sering kali ia berawal dari hilangnya kebebasan, hilangnya hubungan sosial, dan hilangnya kesempatan korban untuk didengar.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
