Ketika Mahasiswa Lebih Takut Salah Menjawab daripada Tidak Memahami Materi

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di ruang kelas, tidak semua mahasiswa yang diam benar-benar memahami materi yang disampaikan dosen. Sebagian mungkin masih berusaha mencerna penjelasan, sementara yang lain sebenarnya memiliki pertanyaan tetapi memilih menyimpannya. Mereka ingin memastikan jawabannya benar sebelum berbicara, takut dianggap kurang pintar, atau khawatir menjadi bahan perhatian ketika pendapatnya ternyata keliru. Akibatnya, kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar justru terkadang terasa seperti tempat untuk membuktikan kemampuan.
Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa sehari-hari. Ketika dosen mengajukan pertanyaan, beberapa mahasiswa langsung mengangkat tangan, sedangkan sebagian lainnya menunduk sambil berharap tidak ditunjuk. Bukan berarti mereka tidak memiliki pemikiran, tetapi ada keraguan yang membuat mereka memilih diam. Mereka mungkin sudah memiliki jawaban di kepala, tetapi terus mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum berani menyampaikannya.
Menurut saya, salah satu hal yang membuat mahasiswa sulit berkembang adalah anggapan bahwa melakukan kesalahan merupakan tanda ketidakmampuan. Padahal, proses memahami sesuatu tidak selalu berjalan lurus. Ada kalanya seseorang harus mencoba menjawab, menerima koreksi, kemudian mempelajari kembali bagian yang belum dikuasai. Kesalahan justru dapat menunjukkan bagian mana yang masih perlu diperbaiki, bukan menjadi ukuran mutlak kecerdasan seseorang.
Tekanan untuk terlihat pintar juga bisa muncul dari lingkungan perkuliahan. Mahasiswa sering membandingkan dirinya dengan teman yang cepat memahami penjelasan, aktif berdiskusi, atau mampu menjawab pertanyaan dosen dengan lancar. Tanpa disadari, perbandingan tersebut membuat mereka merasa tertinggal. Padahal, setiap orang mempunyai cara belajar, kecepatan memahami materi, dan pengalaman yang berbeda. Seseorang yang membutuhkan waktu lebih lama bukan berarti memiliki kemampuan yang lebih rendah.
Situasi menjadi semakin sulit ketika nilai akademik dianggap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Mahasiswa akhirnya lebih sibuk mencari jawaban yang dianggap aman daripada benar-benar memahami alasan di baliknya. Mereka menghafal materi untuk menghadapi ujian, tetapi belum tentu berani mengemukakan pendapat ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan pemikiran sendiri. Pengetahuan yang seharusnya membantu seseorang berkembang justru dapat berubah menjadi sesuatu yang sekadar dikejar demi memperoleh nilai.
Padahal, dunia perkuliahan bukan tempat untuk mengetahui semua jawaban sejak awal. Kampus merupakan ruang untuk bertanya, menguji pemahaman, berdiskusi, dan memperbaiki cara berpikir. Mahasiswa tidak seharusnya dituntut selalu benar, sebab mereka datang untuk belajar. Keberanian mengakui ketidaktahuan juga merupakan bagian dari proses akademik yang penting.
Dosen dan teman sekelas turut berperan dalam membangun suasana belajar yang sehat. Ketika jawaban yang keliru langsung disambut dengan tawa atau komentar merendahkan, mahasiswa lain bisa semakin enggan berbicara. Sebaliknya, tanggapan yang menghargai usaha seseorang untuk menjawab dapat mendorong lebih banyak orang berpartisipasi. Mengoreksi pendapat tetap diperlukan, tetapi cara menyampaikannya tidak harus membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.
Mahasiswa pun perlu belajar menerima bahwa tidak semua jawaban akan tepat. Keberanian berbicara memang tidak menjamin seseorang selalu benar, tetapi diam terus-menerus juga tidak otomatis membuat pemahamannya bertambah. Jika masih ragu, mereka dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan sederhana, menyampaikan pendapat berdasarkan apa yang sudah dipahami, atau meminta penjelasan pada bagian yang belum dimengerti. Langkah kecil tersebut dapat membantu membangun kepercayaan diri secara bertahap.
Kebiasaan takut salah sebenarnya tidak hanya ditemukan di ruang kelas. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menunda mencoba sesuatu karena khawatir dinilai buruk oleh orang lain. Ada yang enggan melamar pekerjaan karena merasa belum cukup mampu, takut menyampaikan ide saat rapat, atau memilih mengikuti pendapat mayoritas agar tidak terlihat berbeda. Jika terus dipelihara, ketakutan tersebut dapat membatasi kesempatan seseorang untuk belajar dan berkembang.
Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang harus selalu dibuktikan melalui jawaban sempurna. Proses belajar justru berlangsung ketika seseorang berani menghadapi bagian yang belum dikuasai. Mendapat koreksi bukan berarti gagal, sebagaimana mengajukan pertanyaan tidak menunjukkan bahwa seseorang kurang cerdas. Keduanya merupakan bagian dari usaha untuk memahami sesuatu secara lebih mendalam.
Kelas yang baik bukan hanya dipenuhi mahasiswa yang mampu menjawab pertanyaan dosen, melainkan juga memberi kesempatan kepada mereka yang masih berusaha memahami materi. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa sering seseorang menjawab dengan benar, tetapi juga dari keberaniannya untuk bertanya, menerima masukan, dan memperbaiki pemahaman.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
