Ketika Masa Kecil Semakin Dekat dengan Layar

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak sulit menemukan anak-anak yang begitu akrab dengan layar gawai. Di ruang tunggu, di restoran, di dalam kendaraan, bahkan di rumah, banyak anak menghabiskan waktu dengan menonton video atau memainkan gim melalui telepon genggam. Pemandangan seperti ini perlahan menjadi hal yang dianggap biasa.
Teknologi tentu membawa banyak manfaat. Anak-anak dapat belajar melalui video edukasi, mengenal berbagai pengetahuan baru, hingga berkomunikasi dengan keluarga yang berada jauh. Namun, ketika layar mulai menggantikan hampir seluruh waktu bermain, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah masa kecil mereka sedang berubah terlalu cepat?
Belakangan, semakin banyak orang tua menceritakan bahwa anak mereka mulai menggunakan kacamata sejak usia sekolah dasar, bahkan ada yang masih berada di taman kanak-kanak. Gangguan penglihatan memang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keturunan. Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa penggunaan gawai dalam waktu lama, aktivitas melihat jarak dekat secara terus-menerus, serta minimnya waktu bermain di luar ruangan dapat meningkatkan risiko miopia atau rabun jauh pada anak.
Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada gadget itu sendiri. Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana teknologi digunakan dalam kehidupan anak. Ketika waktu bersama layar jauh lebih banyak dibandingkan waktu berlari, bermain, membaca buku, atau berinteraksi langsung dengan teman sebaya, ada bagian penting dari masa kecil yang perlahan berkurang.
Masa kanak-kanak bukan hanya masa untuk belajar mengenal huruf atau angka. Masa itu juga merupakan waktu ketika anak belajar bekerja sama, menyelesaikan konflik, mengenal lingkungan, melatih rasa ingin tahu, dan membangun kepercayaan diri melalui pengalaman nyata. Semua proses tersebut sulit tergantikan oleh layar, secanggih apa pun teknologi yang digunakan.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi orang tua memang tidak sederhana. Kesibukan bekerja membuat gadget sering menjadi pilihan paling praktis untuk menenangkan anak. Dalam banyak situasi, layar memang membantu. Namun, apabila digunakan tanpa batasan yang jelas, kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi ketergantungan yang sulit dihentikan.
Selain kesehatan mata, penggunaan gadget yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas tidur, mengurangi aktivitas fisik, hingga membatasi interaksi sosial secara langsung. Padahal, anak-anak membutuhkan keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata agar tumbuh kembang mereka berlangsung secara optimal.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukanlah melarang anak mengenal teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat. Orang tua dapat mulai dengan membuat aturan waktu layar, mengajak anak bermain di luar rumah, membaca buku bersama, atau sekadar menyediakan waktu bercengkerama tanpa gangguan telepon genggam.
Tidak kalah penting, orang dewasa juga perlu menjadi teladan. Sulit meminta anak mengurangi penggunaan gadget apabila orang tua sendiri lebih banyak menatap layar daripada berbicara dengan mereka. Anak belajar melalui contoh yang mereka lihat setiap hari, bukan hanya dari nasihat yang mereka dengar.
Kemajuan teknologi akan terus berjalan, dan anak-anak memang akan tumbuh bersama dunia digital. Namun, jangan sampai layar menjadi satu-satunya ruang tempat mereka mengenal kehidupan. Mereka juga membutuhkan sinar matahari, tanah yang dipijak saat berlari, tawa bersama teman, serta percakapan hangat dengan keluarga.
Barangkali inilah saatnya kita kembali mengingat bahwa masa kecil bukan hanya tentang seberapa cepat anak menguasai teknologi. Masa kecil adalah tentang pengalaman yang membentuk mereka menjadi manusia. Layar dapat membantu proses belajar, tetapi pengalaman nyata tetap menjadi guru yang tidak tergantikan.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
