Ketika Mencari Nafkah Menjadi Pertaruhan Nyawa

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar meninggalnya seorang pengemudi ojek online yang diduga menjadi korban tindak kriminal saat sedang beristirahat di pangkalan menyisakan duka yang mendalam. Peristiwa ini bukan hanya menyentuh keluarga korban, tetapi juga mengingatkan bahwa masih banyak pekerja yang harus menghadapi risiko besar hanya untuk memperoleh penghasilan.
Setiap hari, ribuan pengemudi ojek online menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan. Mereka mengantar penumpang, mengirim makanan, mengantarkan paket, hingga memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat. Di balik layanan yang serba cepat itu, ada pekerjaan yang menuntut mereka berada di ruang publik selama berjam-jam, termasuk pada waktu-waktu yang sepi ketika tingkat kerawanan meningkat.
Menurut saya, keselamatan para pengemudi ojek online belum mendapatkan perhatian yang sebanding dengan peran mereka dalam mendukung aktivitas masyarakat. Pembahasan mengenai pengemudi ojek online sering kali berfokus pada tarif, insentif, atau persaingan layanan, sementara aspek keamanan masih belum menjadi perhatian utama.
Padahal, ancaman yang mereka hadapi tidak hanya berasal dari kecelakaan lalu lintas. Risiko menjadi korban pencurian, perampokan, maupun tindak kekerasan juga selalu mengintai, terutama ketika mereka beristirahat di lokasi yang minim penerangan atau jauh dari keramaian.
Peristiwa seperti ini menjadi pengingat bahwa ruang publik seharusnya memberikan rasa aman bagi siapa pun yang bekerja di dalamnya. Tempat istirahat sederhana yang digunakan para pengemudi semestinya menjadi ruang untuk memulihkan tenaga, bukan justru menjadi lokasi yang menghadirkan rasa khawatir.
Karena itu, perlindungan terhadap pengemudi ojek online tidak bisa hanya dibebankan kepada individu. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, perusahaan penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi, hingga pengelola kawasan perlu membangun sistem yang mampu mengurangi potensi kejahatan. Peningkatan penerangan jalan, kamera pengawas di titik-titik rawan, sistem pelaporan darurat yang lebih cepat, serta penyediaan lokasi istirahat yang lebih aman dapat menjadi langkah yang layak dipertimbangkan.
Masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar, keberanian melaporkan aktivitas mencurigakan, dan sikap saling menjaga di ruang publik dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua orang.
Kasus ini tentu harus diusut hingga tuntas agar pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai proses hukum yang berlaku. Namun, penyelesaian perkara saja tidak cukup apabila tidak diikuti dengan upaya mencegah kejadian serupa terulang.
Setiap pengemudi yang berangkat bekerja membawa harapan sederhana, yaitu memperoleh penghasilan dan kembali pulang menemui keluarganya dalam keadaan selamat. Harapan itu seharusnya tidak berubah menjadi pertaruhan hanya karena mereka memilih profesi yang setiap hari melayani kebutuhan masyarakat. Sebuah kota yang baik bukan hanya mampu menyediakan lapangan pekerjaan, tetapi juga mampu memberikan rasa aman bagi setiap orang yang bekerja di dalamnya.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
