Ketika Menjadi Dewasa Berarti Mengurus Dua Generasi Sekaligus

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia sedang memasuki perubahan demografi yang tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan masa depan. Untuk pertama kalinya, Indonesia secara resmi memasuki fase aging population, ketika proporsi penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen dari total penduduk.
Di saat yang sama, angka kelahiran terus menurun dan pertumbuhan penduduk melambat. Sekilas, perubahan tersebut dapat dilihat sebagai keberhasilan pembangunan. Masyarakat hidup lebih lama, kesehatan membaik, dan angka kematian menurun.
Namun, di balik angka-angka tersebut, ada realitas yang semakin dekat dengan kehidupan banyak keluarga.
Semakin banyak orang usia produktif yang harus memikirkan masa depan anak sekaligus kebutuhan orang tua.
Mereka dikenal sebagai sandwich generation.
Menurut saya, istilah tersebut terdengar sederhana, tetapi kehidupan yang dijalani orang-orang di dalamnya tidak selalu sederhana.
Bayangkan seseorang yang setiap bulan harus membayar kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, kebutuhan sehari-hari, cicilan, sekaligus membantu orang tua yang mulai membutuhkan biaya kesehatan.
Pendapatan yang diterima setiap bulan harus dibagi ke berbagai kebutuhan yang sama-sama penting.
Tidak ada yang benar-benar bisa diprioritaskan sepenuhnya karena semuanya berkaitan dengan orang yang dicintai.
Di satu sisi ada anak yang sedang tumbuh dan membutuhkan pendidikan.
Di sisi lain ada orang tua yang semakin menua dan mungkin mulai membutuhkan pemeriksaan kesehatan, obat-obatan, atau bantuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi seperti itu, menjadi dewasa bukan hanya tentang mencari penghasilan untuk diri sendiri.
Menjadi dewasa perlahan berubah menjadi kemampuan untuk memastikan orang-orang yang berada di sekitar kita tetap dapat menjalani hidup dengan baik.
Masalahnya, tidak semua keluarga memiliki kondisi ekonomi yang sama.
Ada keluarga yang memiliki tabungan, aset, atau jaminan pensiun sehingga masa tua dapat dipersiapkan dengan lebih baik.
Namun, ada pula keluarga yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika orang tua memasuki usia lanjut, kebutuhan tambahan dapat muncul sementara kemampuan finansial keluarga belum tentu bertambah.
Situasi tersebut dapat membuat generasi produktif berada dalam posisi yang serba sulit.
Mereka ingin memberikan kehidupan terbaik bagi anak-anak.
Mereka juga ingin membalas jasa orang tua.
Tetapi kemampuan mereka memiliki batas.
Di sinilah kita perlu berhenti melihat sandwich generation hanya sebagai persoalan kemampuan seseorang mengatur keuangan.
Persoalannya jauh lebih luas.
Ada persoalan sistem perlindungan sosial, akses kesehatan, kondisi pekerjaan, kesiapan pensiun, biaya pendidikan, hingga budaya keluarga yang masih menjadikan anak sebagai salah satu tumpuan utama ketika orang tua memasuki usia lanjut.
Nilai untuk berbakti kepada orang tua tentu merupakan hal yang baik.
Namun, berbakti seharusnya tidak selalu berarti seorang anak harus menanggung seluruh kebutuhan orang tua seorang diri.
Begitu pula menjadi orang tua tidak seharusnya berarti seluruh masa depan harus bergantung kepada anak.
Keluarga membutuhkan sistem yang memungkinkan setiap generasi memiliki tingkat kemandirian yang lebih baik.
Karena itu, perubahan demografi seharusnya tidak hanya dibicarakan ketika jumlah lansia meningkat.
Persiapannya harus dimulai jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut.
Literasi keuangan perlu diperkuat sejak usia produktif. Masyarakat perlu memahami pentingnya tabungan, perlindungan kesehatan, jaminan hari tua, serta perencanaan keuangan jangka panjang.
Perusahaan juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah keluarga. Seseorang yang harus merawat orang tua tidak seharusnya selalu dipaksa memilih antara pekerjaan dan keluarga.
Pemerintah pun perlu memastikan bahwa bertambahnya usia harapan hidup diikuti dengan sistem kesehatan dan perlindungan sosial yang mampu menjangkau masyarakat luas, termasuk pekerja sektor informal.
Sebab, menjadi tua adalah sesuatu yang hampir pasti akan dialami manusia.
Pertanyaannya bukan apakah kita akan menjadi tua, tetapi apakah kita sudah mempersiapkan kehidupan ketika usia produktif tidak lagi berada di titik tertinggi.
Hal yang sama berlaku bagi generasi muda.
Mereka yang hari ini sibuk bekerja dan membangun keluarga mungkin suatu saat akan berada di posisi orang tua yang membutuhkan bantuan.
Jika persiapan hanya dilakukan ketika masalah sudah datang, pilihannya akan semakin terbatas.
Karena itu, sandwich generation seharusnya tidak dipandang sebagai generasi yang gagal mengatur hidup.
Mereka adalah kelompok yang sedang berada di tengah perubahan besar dalam struktur keluarga Indonesia.
Mereka mencoba membesarkan anak sambil tetap menghormati orang tua.
Mereka bekerja untuk masa depan sambil menghadapi kebutuhan hari ini.
Dan sering kali, semua itu dilakukan tanpa banyak orang mengetahui seberapa besar beban yang mereka bawa.
Pada akhirnya, meningkatnya jumlah lansia bukanlah kabar buruk.
Justru masyarakat yang dapat hidup lebih panjang merupakan salah satu hasil dari kemajuan pembangunan.
Yang perlu dipastikan adalah jangan sampai umur yang lebih panjang justru membuat keluarga menjadi satu-satunya sistem perlindungan bagi mereka yang menua.
Kita membutuhkan keluarga yang saling mendukung, tetapi juga negara dan sistem sosial yang ikut hadir.
Sebab, suatu hari nanti anak-anak yang sekarang kita besarkan akan menjadi generasi produktif berikutnya.
Dan ketika mereka mencapai usia dewasa, kita tentu berharap mereka tidak hanya memiliki pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan tanpa harus memilih antara masa depan anak dan kesejahteraan orang tua.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
