Ketika Orang Dewasa Berkonflik, Anak-Anak yang Kehilangan Ruang Belajar

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah sekolah dasar di Bandung kembali menjadi perhatian publik setelah akses menuju sekolah digembok akibat sengketa lahan. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar harus dialihkan sementara melalui pembelajaran jarak jauh, sementara pemerintah menyiapkan relokasi agar para siswa tetap dapat mengikuti proses pendidikan.
Persoalan hukum mengenai kepemilikan lahan tentu memiliki jalurnya sendiri. Semua pihak yang terlibat memiliki hak untuk memperjuangkan kepentingannya sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, di tengah proses tersebut, ada satu kelompok yang sebenarnya tidak pernah memilih untuk berada di dalam konflik itu.
Mereka adalah anak-anak.
Menurut saya, setiap kali orang dewasa berkonflik, anak-anak sering menjadi pihak yang paling mudah merasakan dampaknya meskipun mereka tidak pernah menjadi penyebab persoalan.
Bagi orang dewasa, sekolah mungkin dipandang sebagai bangunan, aset, atau bagian dari sengketa yang harus diselesaikan.
Namun, bagi seorang anak, sekolah memiliki arti yang jauh lebih sederhana.
Di sanalah mereka belajar membaca, berhitung, bermain bersama teman, mengenal guru, dan membangun mimpi tentang masa depan.
Ketika akses menuju sekolah terganggu, yang berubah bukan hanya lokasi belajar.
Rutinitas mereka ikut berubah.
Rasa aman mereka ikut terganggu.
Bahkan, sebagian anak mungkin belum memahami mengapa mereka tiba-tiba tidak dapat masuk ke sekolah seperti biasanya.
Sering kali kita lupa bahwa dunia anak dibangun oleh kepastian.
Mereka merasa tenang karena setiap pagi datang ke ruang kelas yang sama, bertemu guru yang sama, dan duduk di bangku yang sudah mereka kenal.
Ketika kepastian itu berubah secara mendadak, proses penyesuaian tidak selalu mudah.
Di sisi lain, negara telah menempatkan pendidikan sebagai hak dasar setiap anak.
Hak tersebut seharusnya tetap terlindungi meskipun orang-orang dewasa sedang menghadapi persoalan hukum, administratif, atau kepemilikan.
Karena pendidikan bukan sekadar layanan.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan masa depan sebuah generasi.
Peristiwa seperti ini juga mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil oleh orang dewasa hampir selalu memiliki dampak kepada anak-anak.
Kadang dampaknya terlihat jelas.
Kadang pula hadir secara perlahan.
Anak-anak mungkin tidak memahami isi dokumen hukum.
Mereka tidak mengerti proses persidangan.
Mereka tidak mengetahui siapa yang benar atau siapa yang salah.
Yang mereka tahu hanyalah mereka ingin kembali belajar bersama teman-temannya.
Karena itu, penyelesaian setiap persoalan yang berkaitan dengan fasilitas pendidikan seharusnya selalu menempatkan kepentingan anak sebagai prioritas utama.
Proses hukum tetap harus berjalan.
Hak setiap pihak tetap perlu dihormati.
Namun, jangan sampai penyelesaiannya justru mengorbankan hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Peran pemerintah menjadi sangat penting dalam situasi seperti ini.
Bukan hanya menyelesaikan persoalan administrasi, tetapi juga memastikan bahwa proses belajar tidak terhenti.
Langkah menyediakan sekolah pengganti, menyiapkan relokasi sementara, hingga mempercepat pembangunan fasilitas baru merupakan bentuk tanggung jawab yang patut diutamakan.
Namun, masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besar.
Kita sering terjebak pada perdebatan mengenai siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Padahal, ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apakah setiap keputusan yang diambil sudah mempertimbangkan masa depan anak-anak yang terdampak?
Sebab, pada akhirnya, anak-anak tidak akan mengingat detail sengketa yang terjadi.
Mereka akan mengingat apakah orang-orang dewasa berhasil menjaga hak mereka untuk tetap belajar.
Mereka akan mengingat apakah sekolah tetap menjadi tempat yang memberi harapan, bukan ketidakpastian.
Konflik mungkin akan selesai suatu hari nanti.
Dokumen kepemilikan akan menemukan titik akhirnya.
Bangunan baru dapat didirikan.
Namun, waktu belajar yang hilang tidak selalu dapat digantikan.
Karena itu, setiap persoalan yang melibatkan dunia pendidikan seharusnya selalu mengingat satu hal sederhana.
Di balik setiap ruang kelas, ada masa depan anak-anak yang sedang dibangun sedikit demi sedikit setiap hari.
Dan masa depan itu terlalu berharga untuk ikut menjadi korban dari konflik yang tidak pernah mereka ciptakan.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
