Konten dari Pengguna

Ketika Pasar Terbakar, Bukan Hanya Bangunan yang Hilang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kebakaran. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kebakaran. (Sumber: shutterstock.com).

Kebakaran hebat yang melanda Pasar Sibolga Nauli di Sumatera Utara tidak hanya menghanguskan ratusan kios. Di balik kobaran api yang menjadi perhatian publik, ada kehidupan banyak pedagang yang mendadak berubah dalam satu malam. Tempat mereka mencari nafkah hilang, barang dagangan musnah, dan harapan yang dibangun selama bertahun-tahun harus dimulai kembali dari awal.

Peristiwa seperti ini mengingatkan bahwa pasar bukan sekadar deretan bangunan tempat orang berjualan. Pasar adalah ruang kehidupan. Di sanalah ribuan orang menggantungkan penghasilan, membangun hubungan dengan pelanggan, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat setiap hari.

Ketika sebuah pasar terbakar, kerugian yang terlihat memang berupa bangunan dan barang dagangan. Namun, kerugian yang sesungguhnya sering kali jauh lebih besar. Banyak pedagang kehilangan modal usaha, pelanggan kehilangan tempat berbelanja, pekerja harian kehilangan sumber pendapatan, dan aktivitas ekonomi di sekitar pasar ikut melambat.

Menurut saya, inilah sisi yang sering terlupakan setelah sebuah kebakaran menjadi berita. Perhatian publik biasanya tertuju pada besarnya kobaran api atau jumlah kios yang terbakar. Beberapa hari kemudian, berita mulai berganti. Sementara itu, para pedagang masih harus memikirkan bagaimana melanjutkan usaha, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memperoleh modal untuk bangkit kembali.

Pasar tradisional memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selain menjadi pusat perdagangan, pasar juga menjadi ruang pertemuan sosial yang mempertemukan penjual, pembeli, dan berbagai pelaku usaha kecil. Ketika pasar berhenti beroperasi akibat bencana, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pedagang, tetapi juga oleh masyarakat yang bergantung pada aktivitas ekonomi di dalamnya.

Karena itu, pemulihan setelah kebakaran seharusnya tidak berhenti pada pembangunan kembali fisik pasar. Yang tidak kalah penting adalah membantu para pedagang agar dapat kembali berusaha secepat mungkin. Akses terhadap modal, lokasi sementara untuk berjualan, pendampingan usaha, hingga percepatan pemulihan aktivitas ekonomi menjadi bagian yang sama pentingnya dengan membangun kios baru.

Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem keamanan pasar tradisional. Instalasi listrik yang layak, jalur evakuasi yang jelas, alat pemadam kebakaran yang memadai, pemeriksaan berkala terhadap bangunan, hingga edukasi mengenai penanganan keadaan darurat perlu menjadi perhatian bersama. Upaya pencegahan sering kali membutuhkan biaya yang jauh lebih kecil dibandingkan kerugian yang harus ditanggung ketika bencana benar-benar terjadi.

Indonesia memiliki ribuan pasar tradisional yang menjadi denyut nadi ekonomi daerah. Setiap pasar memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: menjadi tempat masyarakat kecil mencari penghidupan. Oleh karena itu, menjaga keamanan pasar bukan hanya melindungi bangunan, melainkan juga menjaga keberlangsungan ekonomi banyak keluarga.

Peristiwa kebakaran di Pasar Sibolga Nauli seharusnya tidak hanya dikenang sebagai kabar tentang ratusan kios yang hangus. Peristiwa ini dapat menjadi pengingat bahwa pasar adalah ruang yang menyimpan harapan banyak orang. Ketika ruang itu hilang, yang ikut terdampak bukan hanya aktivitas perdagangan, tetapi juga masa depan mereka yang menggantungkan hidup di dalamnya.

Membangun kembali pasar memang penting. Namun, membantu para pedagang untuk kembali berdiri dan memastikan perlindungan yang lebih baik bagi pasar-pasar tradisional di masa depan adalah langkah yang akan memberikan manfaat jauh lebih besar daripada sekadar mengganti bangunan yang telah terbakar.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.