Konten dari Pengguna

Ketika Siswa Indonesia Mau Belajar, tetapi Belum Semua Percaya Bisa Berkembang

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa Indonesia. (Sumber: ChatGPT.co.id).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa Indonesia. (Sumber: ChatGPT.co.id).

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 membawa kabar yang cukup menarik bagi dunia pendidikan Indonesia. Skor sains dan literasi siswa Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2022. Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi, capaian tersebut tentu patut diapresiasi.

Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat satu temuan yang tidak kalah menarik untuk diperhatikan. Data OECD menunjukkan bahwa siswa Indonesia memiliki tingkat rasa ingin tahu yang tinggi. Bahkan, tingkat curiosity siswa Indonesia disebut mencapai angka yang sangat tinggi dibandingkan negara-negara peserta lainnya. Selain itu, banyak siswa juga bersedia mengerahkan usaha lebih ketika menghadapi materi pembelajaran yang menantang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya banyak siswa Indonesia memiliki keinginan untuk belajar.

Namun, ada persoalan lain yang perlu direnungkan.

Hanya sekitar tiga dari sepuluh siswa Indonesia yang memiliki growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar dan kerja keras.

Menurut saya, di sinilah terdapat sebuah pertanyaan penting: jika banyak siswa memiliki rasa ingin tahu dan mau berusaha, mengapa belum semuanya percaya bahwa dirinya dapat berkembang?

Mungkin persoalannya bukan terletak pada kemauan untuk belajar.

Bisa jadi, persoalannya terletak pada pengalaman yang mereka dapatkan selama belajar.

Sejak kecil, banyak siswa terbiasa dengan ukuran keberhasilan yang sangat jelas. Nilai tinggi dianggap membanggakan, sedangkan nilai rendah sering kali menjadi sesuatu yang harus diperbaiki secepat mungkin. Ranking, hasil ujian, dan angka di rapor sering menjadi bagian yang paling mudah dilihat.

Tidak ada yang salah dengan penilaian akademik. Pendidikan memang membutuhkan evaluasi untuk mengetahui perkembangan siswa. Namun, persoalan muncul ketika angka perlahan menjadi satu-satunya ukuran kemampuan seseorang.

Siswa yang mendapatkan nilai rendah bisa mulai berpikir bahwa dirinya memang tidak pintar. Siswa yang kesulitan memahami matematika mungkin merasa bahwa bidang tersebut memang bukan untuknya. Sementara itu, mereka yang berhasil mendapatkan nilai tinggi terkadang juga merasa takut gagal karena tidak ingin kehilangan predikat sebagai siswa pintar.

Dalam situasi seperti itu, kesalahan sering kali terasa seperti bukti bahwa seseorang tidak mampu.

Padahal, belajar seharusnya justru memberikan kesempatan untuk melakukan kesalahan.

Tidak ada orang yang langsung memahami semua hal pada percobaan pertama. Kemampuan membaca, berhitung, berbicara, menulis, hingga memecahkan persoalan semuanya berkembang melalui proses. Ada kesalahan, kebingungan, kegagalan, kemudian mencoba kembali.

Sayangnya, tidak semua siswa tumbuh dalam lingkungan yang membuat proses tersebut terasa wajar.

Kalimat seperti, “Kamu memang tidak berbakat,” “Kenapa nilaimu hanya segini?” atau “Temanmu saja bisa, masa kamu tidak?” mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus-menerus diterima, kalimat tersebut dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Anak yang sebenarnya mampu berkembang dapat berhenti mencoba karena sudah lebih dulu percaya bahwa kemampuannya memiliki batas yang tidak bisa diubah.

Di sinilah growth mindset menjadi penting.

Memiliki pola pikir berkembang bukan berarti seseorang harus selalu berhasil atau terus memaksakan diri. Growth mindset juga bukan sekadar menyuruh siswa untuk “lebih semangat”. Lebih dari itu, pola pikir ini berkaitan dengan keyakinan bahwa kemampuan dapat dibangun dan kesulitan merupakan bagian dari proses belajar.

Seorang siswa boleh belum memahami sebuah pelajaran hari ini.

Kata pentingnya adalah belum.

Belum memahami bukan berarti tidak akan pernah memahami.

Belum berhasil bukan berarti tidak memiliki kemampuan.

Belum menemukan cara belajar yang tepat juga bukan berarti harus berhenti mencoba.

Perbedaan cara pandang seperti ini terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan proses belajar.

Menariknya, data PISA 2025 menunjukkan bahwa siswa Indonesia sebenarnya memiliki modal yang cukup besar. Tingkat rasa ingin tahu yang tinggi menunjukkan adanya keinginan untuk memahami dunia. Banyak siswa juga bersedia berusaha lebih keras ketika menghadapi tantangan.

Artinya, semangat untuk belajar sebenarnya ada.

Tantangannya adalah bagaimana pendidikan dapat membantu siswa mengubah rasa ingin tahu dan usaha tersebut menjadi keyakinan bahwa mereka mampu terus berkembang.

Guru memiliki peran penting dalam proses ini. Cara seorang guru memberikan respons terhadap kesalahan dapat menentukan bagaimana siswa memandang kegagalan. Kesalahan dapat menjadi alasan untuk mempermalukan siswa, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk menjelaskan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Begitu pula dengan orang tua.

Tidak semua percakapan tentang pendidikan harus dimulai dengan pertanyaan tentang nilai. Sesekali, mungkin anak lebih membutuhkan pertanyaan seperti, “Hari ini kamu belajar apa?” atau “Bagian mana yang menurutmu paling sulit?”

Pertanyaan tersebut memberi pesan bahwa proses juga memiliki nilai.

Sekolah pun perlu melihat keberhasilan secara lebih luas. Tidak semua siswa memiliki kecepatan belajar yang sama. Ada yang cepat memahami teori, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk menerapkannya. Ada yang tidak selalu unggul dalam ujian tertulis, tetapi memiliki kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, atau menciptakan sesuatu.

Pendidikan yang baik seharusnya tidak membuat siswa merasa bahwa dirinya hanya terdiri dari satu angka.

Hasil PISA 2025 memang menunjukkan adanya peningkatan pada beberapa bidang, meskipun skor Indonesia masih menghadapi tantangan dan berada di bawah target yang telah ditetapkan. Matematika bahkan mengalami sedikit penurunan dibandingkan hasil sebelumnya.

Data tersebut seharusnya tidak hanya menjadi bahan untuk memperdebatkan peringkat.

Lebih penting dari itu, kita perlu melihat apa yang terjadi di balik angka tersebut.

Indonesia memiliki jutaan siswa yang sedang belajar memahami dirinya sendiri. Mereka bukan hanya sedang mempelajari rumus, membaca buku, atau menghafalkan materi. Dalam waktu yang bersamaan, mereka juga sedang membangun keyakinan tentang siapa diri mereka dan sejauh apa kemampuan mereka dapat berkembang.

Jika pendidikan terlalu sering membuat siswa takut salah, jangan heran apabila mereka akhirnya hanya belajar untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Jika pendidikan terlalu menekankan hasil tanpa menghargai proses, jangan heran apabila kegagalan terasa seperti akhir dari segalanya.

Namun, jika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, mencoba, salah, memperbaiki, dan mencoba kembali, pendidikan dapat menjadi tempat yang membantu mereka memahami bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang selalu tetap.

Temuan bahwa hanya tiga dari sepuluh siswa memiliki growth mindset seharusnya menjadi perhatian. Bukan untuk menyalahkan siswa karena dianggap kurang percaya pada dirinya sendiri, melainkan untuk bertanya apakah lingkungan pendidikan kita sudah cukup membantu mereka melihat bahwa berkembang adalah sesuatu yang mungkin dilakukan.

Siswa Indonesia telah menunjukkan rasa ingin tahu.

Banyak dari mereka juga bersedia menghadapi materi yang menantang.

Modal tersebut seharusnya tidak berhenti hanya sebagai statistik.

Tugas pendidikan berikutnya adalah membantu lebih banyak siswa percaya bahwa kemampuan tidak selalu ditentukan oleh seberapa hebat mereka hari ini, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar pada hari-hari berikutnya.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal dengan benar. Pendidikan juga seharusnya membantu seseorang tetap percaya bahwa ketika ia belum berhasil hari ini, masih ada kesempatan untuk belajar dan berkembang esok hari.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.