Kita Lebih Sering Menjaga Citra daripada Memperbaiki Diri

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kehidupan sehari-hari, kita sering berusaha menunjukkan sisi terbaik kepada orang lain. Kita ingin terlihat baik, pintar, dewasa, sukses, dan mampu menghadapi berbagai persoalan. Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Namun, masalah muncul ketika mempertahankan kesan baik di mata orang lain menjadi lebih penting daripada memperbaiki kekurangan yang sebenarnya perlu kita benahi.
Fenomena ini mudah ditemukan dalam berbagai lingkungan. Di tempat kerja, seseorang mungkin lebih sibuk menjelaskan alasan di balik kesalahannya daripada mencari cara agar kekeliruan yang sama tidak terulang. Dalam pertemanan, ada orang yang sulit meminta maaf karena khawatir dianggap lemah. Di media sosial, kehidupan yang ditampilkan sering kali dipenuhi pencapaian dan kebahagiaan, sementara kegagalan maupun kekurangan disimpan rapat-rapat agar tidak mengubah penilaian orang lain.
Menurut saya, salah satu alasan kita sulit menerima kekurangan adalah karena terlalu sering menghubungkan harga diri dengan penilaian orang lain. Ketika dipuji, kita merasa berharga. Sebaliknya, saat dikritik, kita mudah menganggapnya sebagai serangan terhadap diri sendiri. Akibatnya, perhatian lebih banyak tercurah untuk membuktikan bahwa kita tidak salah daripada memahami apa yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Padahal, melakukan kesalahan merupakan bagian wajar dari kehidupan manusia. Tidak semua keputusan akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ada kalanya kita salah berbicara, mengecewakan seseorang, mengambil keputusan yang kurang tepat, atau gagal memenuhi harapan. Hal-hal tersebut tidak serta-merta membuat seseorang menjadi buruk. Yang lebih menentukan adalah bagaimana ia menyikapi kesalahan dan mengambil pelajaran darinya.
Sayangnya, mengakui kekurangan tidak selalu terasa mudah. Kita mungkin khawatir kehilangan kepercayaan, dianggap tidak kompeten, atau dipandang berbeda oleh lingkungan. Kekhawatiran itu membuat sebagian orang memilih mempertahankan pembenaran meskipun jauh di dalam hati menyadari bahwa dirinya keliru. Keadaan menjadi semakin rumit ketika orang-orang di sekitarnya juga lebih menghargai penampilan yang sempurna daripada keberanian untuk mengakui kesalahan.
Kebiasaan menjaga citra juga dapat memengaruhi hubungan antarmanusia. Seseorang yang selalu ingin terlihat benar akan kesulitan menerima sudut pandang berbeda. Percakapan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk saling memahami justru berubah menjadi ajang mempertahankan pendapat. Permintaan maaf terasa seperti kekalahan, sedangkan kritik dianggap sebagai ancaman. Hubungan pun perlahan kehilangan ruang untuk berkembang secara sehat.
Kondisi serupa bisa terjadi ketika seseorang terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Pencapaian orang lain dianggap sebagai ancaman terhadap harga dirinya, sehingga muncul dorongan untuk selalu terlihat lebih unggul. Energi yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan kemampuan justru habis untuk membuktikan bahwa dirinya tidak kalah. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.
Bukan berarti kita harus mengabaikan pendapat orang lain atau berhenti menjaga sikap. Reputasi tetap penting, terutama dalam membangun kepercayaan di lingkungan sosial maupun profesional. Namun, ada perbedaan antara menjaga reputasi melalui tindakan yang bertanggung jawab dan mempertahankan citra dengan menutupi kekurangan. Yang pertama mendorong kita menjadi lebih baik, sedangkan yang kedua berisiko membuat kita terjebak dalam penampilan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Ketika menerima kritik, cobalah memahami isinya sebelum memberikan tanggapan. Saat melakukan kesalahan, akui bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita tanpa sibuk mencari kambing hitam. Jika seseorang menyampaikan pendapat berbeda, dengarkan terlebih dahulu tanpa merasa harus langsung membantah. Langkah-langkah kecil tersebut membantu kita membangun kebiasaan mengevaluasi diri secara lebih jujur.
Kita juga perlu memahami bahwa mengakui kekurangan bukan berarti merendahkan diri sendiri. Justru, seseorang yang mampu menerima kenyataan tentang dirinya memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang. Ia tidak harus selalu terlihat hebat di mata semua orang karena memahami bahwa kemampuan dapat ditingkatkan dan kesalahan dapat diperbaiki.
Kehidupan tidak menuntut kita menjadi manusia yang selalu benar. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk belajar ketika keliru, bertanggung jawab ketika menyakiti orang lain, dan berubah ketika menyadari ada sikap yang perlu dibenahi. Proses tersebut mungkin tidak selalu mendapat pujian, tetapi manfaatnya jauh lebih berarti daripada sekadar mempertahankan kesan baik.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
