Konten dari Pengguna

Kita Rela Menunda Istirahat demi Pekerjaan, Mengapa Ibadah Sering Kita Tunda?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang ibadah sholat. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang ibadah sholat. (Sumber: shutterstock.com).

Setiap hari kita memiliki alasan untuk terus bergerak. Pekerjaan belum selesai, tugas masih menumpuk, pesan dari atasan belum dibalas, kuliah harus segera dikerjakan, atau ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Karena itu, tidak jarang kita rela mengurangi waktu tidur dan menunda waktu istirahat demi menyelesaikan berbagai kewajiban.

Menariknya, ketika sesuatu dianggap penting bagi kehidupan dunia, kita sering berusaha mencari waktu untuk mengerjakannya. Bahkan ketika tubuh sudah lelah, kita masih bisa memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun, ketika berkaitan dengan ibadah, terkadang kita justru mudah mengatakan, "Nanti saja."

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Tetapi jika terlalu sering diucapkan, tanpa sadar kita sedang membentuk kebiasaan untuk menempatkan ibadah setelah urusan lainnya selesai.

Menurut saya, persoalannya bukan selalu karena seseorang tidak peduli terhadap agama. Banyak orang sebenarnya ingin menjadi lebih baik dalam menjalankan ibadah. Hanya saja, kesibukan membuat perhatian kita perlahan terbagi. Kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang terlihat hasilnya, sampai lupa bahwa ada kebutuhan batin yang juga harus dijaga.

Kita terbiasa membuat jadwal untuk pekerjaan. Ada waktu masuk kantor, waktu kuliah, jadwal rapat, tenggat tugas, bahkan pengingat untuk membayar tagihan. Semua dibuat agar tidak terlupakan. Sementara itu, ibadah yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan justru terkadang diperlakukan seperti kegiatan yang bisa dilakukan jika masih memiliki waktu.

Padahal, waktu yang kita miliki sebenarnya sama-sama terbatas. Dalam sehari, setiap orang hanya memiliki dua puluh empat jam. Perbedaannya terletak pada bagaimana kita menentukan apa yang menjadi prioritas.

Bekerja tentu penting. Belajar juga penting. Mencari penghasilan, membangun karier, membantu keluarga, dan mengejar cita-cita merupakan bagian dari kehidupan yang tidak perlu ditinggalkan. Agama pun tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berusaha.

Yang perlu dipertanyakan adalah ketika kesibukan dunia mulai membuat kita merasa tidak punya waktu untuk mendekat kepada Tuhan.

Kita bisa menunggu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan karena yakin hasilnya akan membawa keuntungan. Kita mampu menyisihkan waktu untuk bertemu orang lain karena menganggap hubungan tersebut penting. Kita bahkan rela bangun lebih pagi ketika memiliki urusan yang tidak boleh terlambat.

Lalu, mengapa untuk beribadah kita sering menunggu sampai pekerjaan selesai?

Masalahnya mungkin bukan pada kurangnya waktu, tetapi pada cara kita memandang prioritas. Sesuatu yang benar-benar dianggap penting biasanya akan kita usahakan untuk mendapatkan tempat dalam kesibukan.

Hal ini bukan berarti setiap orang harus meninggalkan pekerjaan ketika waktunya beribadah atau mengabaikan tanggung jawab duniawi. Justru kehidupan yang seimbang membutuhkan keduanya. Kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk terus menjauh dari ibadah.

Ada kalanya kita terlalu mengejar pencapaian sampai lupa menikmati hidup. Ada pula saat ketika kita begitu sibuk memikirkan masa depan sampai lupa bersyukur atas apa yang sudah dimiliki hari ini.

Kita ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih nyaman, pendidikan yang lebih tinggi, dan kehidupan yang lebih mapan. Semua itu merupakan keinginan yang wajar. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita lupa bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan.

Ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa ditulis dalam daftar pencapaian, dan tidak bisa digantikan oleh kesibukan, yaitu ketenangan hati.

Mungkin karena itulah kita sesekali perlu berhenti dan melihat kembali rutinitas sendiri. Bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk bertanya apakah kehidupan yang sedang kita kejar masih memiliki ruang untuk Tuhan.

Sebab, pekerjaan dapat dicari kembali ketika belum selesai. Tugas dapat dilanjutkan setelah beristirahat. Urusan dunia selalu memiliki sesuatu yang menunggu untuk dikerjakan.

Tetapi waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan.

Kita sering takut kehilangan kesempatan dalam urusan dunia. Takut terlambat mengumpulkan tugas, takut kehilangan peluang pekerjaan, takut tertinggal dari orang lain, atau takut tidak mencapai target. Namun, mungkin ada ketakutan lain yang seharusnya juga kita miliki: takut terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa untuk mempersiapkan kehidupan setelahnya.

Menjalani kehidupan dengan baik bukan berarti harus memilih antara dunia dan ibadah. Keduanya dapat berjalan bersama selama kita mampu menempatkan masing-masing pada tempat yang semestinya.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Belajarlah dengan tekun. Kejarlah cita-cita dan gunakan kesempatan yang diberikan. Namun, jangan sampai semua itu membuat kita hanya ingat kepada Tuhan ketika sedang membutuhkan sesuatu.

Ibadah bukan sekadar aktivitas yang dilakukan ketika semua urusan sudah selesai. Ia seharusnya menjadi bagian dari perjalanan hidup, termasuk ketika hari sedang sibuk, tubuh sedang lelah, dan banyak persoalan belum terselesaikan.

Mungkin kita tidak perlu menunggu hidup menjadi lebih tenang untuk mulai mendekat kepada Tuhan. Sebab, kehidupan mungkin tidak akan pernah benar-benar sepi dari kesibukan.

Yang perlu kita lakukan adalah belajar menyediakan ruang untuk-Nya di tengah kesibukan tersebut.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.