Konten dari Pengguna

Kita Sering Merindukan Masa Lalu yang Sebenarnya Tidak Ingin Kita Ulangi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang merindu. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang merindu. (Sumber: shutterstock.com).

Ada masa dalam hidup yang terasa begitu jauh ketika sudah dilewati. Kita mungkin pernah mengeluh ingin segera keluar dari keadaan tersebut, ingin cepat tumbuh dewasa, pindah lingkungan, menyelesaikan sekolah, meninggalkan pekerjaan, atau memulai kehidupan yang baru. Namun, beberapa tahun kemudian, kita justru sering merindukan masa itu.

Hal yang menarik adalah, ketika mengingatnya kembali, kita jarang benar-benar ingin mengulang semuanya.

Kita tidak ingin kembali menghadapi tugas yang menumpuk, perasaan tidak percaya diri, masalah dengan teman, keterbatasan uang, atau berbagai persoalan yang dulu membuat hari-hari terasa berat. Kita hanya merindukan bagian tertentu dari masa tersebut: suasana, orang-orangnya, percakapan sederhana, atau perasaan yang pernah kita miliki ketika menjalani kehidupan saat itu.

Menurut saya, yang sering kita rindukan sebenarnya bukan masa lalu secara utuh, melainkan perasaan yang pernah hadir di dalamnya.

Ketika masih sekolah, misalnya, kita mungkin merasa tidak sabar ingin menjadi mahasiswa. Setelah kuliah, kita mulai merindukan masa ketika setiap pagi bertemu teman yang sama, bercanda di kelas, atau pulang bersama setelah kegiatan selesai. Begitu memasuki dunia kerja, masa kuliah yang dulu terasa melelahkan tiba-tiba terlihat lebih sederhana dan menyenangkan.

Padahal, saat menjalaninya, kita juga pernah merasa ingin segera selesai.

Hal serupa terjadi dalam hubungan pertemanan. Ada teman yang dahulu hampir setiap hari kita temui, tetapi sekarang hanya sesekali bertukar pesan. Ketika melihat foto lama, kita bisa tersenyum mengingat berbagai kejadian yang dulu terasa biasa saja. Kita mungkin ingin kembali merasakan suasananya, tetapi bukan berarti ingin mengulang seluruh kehidupan pada masa tersebut.

Waktu memang memiliki cara yang aneh dalam mengubah cara kita melihat pengalaman.

Ketika sebuah kejadian masih berlangsung, perhatian kita biasanya tertuju pada masalah yang sedang dihadapi. Kita memikirkan apa yang belum selesai, apa yang salah, dan apa yang ingin segera berubah. Setelah semuanya berlalu, jarak membuat kita mampu melihat sisi lain yang sebelumnya tertutup oleh kesibukan.

Kenangan juga tidak selalu menyimpan seluruh cerita dengan cara yang sama.

Kita cenderung mengingat momen-momen tertentu yang memberikan kesan kuat. Foto bersama teman, perjalanan singkat, percakapan di malam hari, makanan yang sering dibeli setelah kuliah, atau tempat yang dulu sering didatangi dapat tiba-tiba membawa kembali banyak perasaan.

Sementara itu, bagian yang menyakitkan perlahan menjadi lebih samar.

Bukan berarti masalah tersebut tidak pernah terjadi. Hanya saja, waktu membuat luka kehilangan sebagian ketajamannya. Kita bisa mengingat sebuah masa dengan perasaan hangat meskipun ketika menjalaninya kita pernah merasa sangat lelah.

Mungkin karena itu, nostalgia sering muncul ketika kehidupan sedang terasa berbeda dari sebelumnya.

Saat pekerjaan semakin sibuk, kita merindukan masa ketika memiliki lebih banyak waktu. Ketika lingkaran pertemanan semakin kecil, kita mengingat masa ketika hampir setiap hari dikelilingi banyak orang. Ketika tanggung jawab bertambah, kita teringat masa ketika keputusan yang harus dipikirkan tidak sebanyak sekarang.

Kerinduan tersebut sebenarnya manusiawi.

Namun, ada hal yang perlu kita sadari: masa lalu terlihat indah bukan selalu karena masa itu benar-benar lebih baik daripada kehidupan sekarang. Bisa jadi, kita hanya sedang melihatnya dari jarak yang berbeda.

Kita sering membandingkan hari ini yang penuh dengan tanggung jawab dengan masa lalu yang hanya kita ingat melalui potongan-potongan kenangan terbaik. Perbandingan seperti itu tentu tidak sepenuhnya adil.

Sebab, kita tidak hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga meninggalkan versi diri kita yang pernah hidup di dalamnya.

Dulu mungkin kita lebih mudah merasa senang karena hal-hal sederhana. Sekarang, kebahagiaan sering bercampur dengan banyak pertimbangan. Kita memikirkan pekerjaan, keuangan, keluarga, pendidikan, hubungan, serta berbagai rencana yang belum tentu berjalan sesuai harapan.

Bukan berarti kita kehilangan kemampuan untuk bahagia. Kita hanya mengalami perubahan dalam cara merasakan dan memahami kehidupan.

Karena itu, ketika tiba-tiba merindukan masa lalu, kita tidak harus langsung menganggap bahwa kehidupan sekarang lebih buruk.

Mungkin yang kita butuhkan bukan kembali ke masa tersebut, melainkan membawa sebagian hal baiknya ke kehidupan hari ini.

Jika yang dirindukan adalah kebersamaan, kita bisa mulai meluangkan waktu untuk bertemu orang-orang yang berarti. Jika yang dirindukan adalah kesederhanaan, kita bisa kembali menikmati hal-hal kecil tanpa selalu merasa harus melakukan sesuatu yang besar. Jika yang dirindukan adalah diri kita yang dulu lebih santai, mungkin kita perlu belajar memberikan waktu istirahat kepada diri sendiri.

Masa lalu memang tidak bisa dikunjungi kembali seperti sebuah tempat. Kita hanya dapat melihatnya melalui ingatan.

Tetapi kenangan tidak harus menjadi alasan untuk terus hidup ke belakang. Ia bisa menjadi pengingat tentang hal-hal yang pernah membuat kita bahagia, orang-orang yang pernah berarti, serta bagian diri kita yang mungkin masih ingin kita temukan kembali.

Ada masa yang cukup untuk dikenang tanpa perlu diulang.

Ada orang yang cukup untuk dirindukan tanpa harus kembali menjadi bagian dari kehidupan kita.

Ada tempat yang cukup untuk dikunjungi dalam ingatan tanpa perlu didatangi lagi.

Mungkin kedewasaan bukan tentang berhenti merindukan masa lalu. Kedewasaan adalah memahami bahwa sesuatu boleh menjadi indah dalam kenangan, meskipun kita tahu kehidupan tidak perlu kembali ke sana.

Sebab, tidak semua yang kita rindukan perlu kita miliki kembali. Beberapa hal memang hadir untuk menjadi bagian dari cerita, bukan untuk menjadi tempat kita tinggal selamanya.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.