Kita Tidak Bisa Mengatur Cara Orang Lain Melihat Kita

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari kita bertemu dengan banyak orang. Ada yang mengenal kita dengan baik, ada yang hanya melihat dari luar, dan ada pula yang membentuk penilaian berdasarkan satu kejadian yang mungkin bagi kita tidak terlalu berarti. Perbedaan sifat, pemikiran, pengalaman, dan kepentingan membuat setiap orang memiliki cara sendiri dalam memandang orang lain.
Karena itu, tidak mengherankan jika satu orang dapat menganggap kita baik, sementara orang lain justru memiliki penilaian yang berbeda. Kita mungkin merasa sudah bersikap sewajarnya, tetapi belum tentu orang lain melihatnya dengan cara yang sama.
Menurut saya, salah satu hal yang cukup melelahkan dalam kehidupan adalah keinginan untuk selalu dipahami dengan benar oleh semua orang. Kita sering menjelaskan diri terlalu panjang, berusaha membuktikan bahwa niat kita sebenarnya baik, atau merasa perlu memperbaiki pandangan seseorang terhadap kita. Padahal, tidak semua persepsi dapat kita kendalikan.
Ada orang yang menilai kita berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Ada yang melihat dari satu kejadian. Ada pula yang menilai berdasarkan cerita yang mereka dengar dari orang lain. Bahkan, terkadang penilaian seseorang dapat berubah sesuai dengan keadaan dan kepentingan yang sedang mereka hadapi.
Hal tersebut memang tidak selalu menyenangkan.
Kita bisa merasa kecewa ketika dipandang buruk oleh seseorang yang sebenarnya kita hormati. Kita juga bisa merasa bingung ketika kebaikan yang diberikan justru dianggap sebagai sesuatu yang memiliki maksud tertentu. Dalam situasi lain, seseorang yang dahulu dekat dapat berubah sikap hanya karena keadaan sudah tidak lagi sama.
Namun, hidup bersama orang lain memang berarti siap berhadapan dengan berbagai persepsi.
Tidak semua orang memiliki informasi yang sama tentang diri kita. Tidak semua orang mengetahui alasan di balik keputusan yang kita ambil. Mereka hanya melihat bagian tertentu dari kehidupan kita, kemudian membentuk kesimpulan berdasarkan apa yang mereka pahami.
Itulah sebabnya pendapat orang lain tidak selalu dapat dijadikan ukuran utama untuk menentukan nilai diri.
Bukan berarti kita harus mengabaikan semua kritik. Masukan dari orang lain tetap penting, terutama ketika disampaikan dengan alasan yang jelas dan niat untuk membantu. Ada kalanya orang lain justru melihat kekurangan yang tidak mampu kita sadari sendiri.
Yang perlu dibedakan adalah antara kritik yang membantu kita berkembang dan penilaian yang hanya membuat kita terus mempertanyakan keberadaan diri sendiri.
Jika setiap komentar harus kita pikirkan, setiap ketidaksukaan harus kita perbaiki, dan setiap kesalahpahaman harus kita luruskan, hidup akan terasa seperti usaha tanpa akhir untuk memenuhi standar banyak orang.
Padahal, standar tersebut tidak pernah benar-benar sama.
Menjadi terlalu baik bagi seseorang mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tulus. Bagi orang lain, sikap yang sama bisa dianggap berlebihan. Ketika kita mulai berani mengatakan tidak, sebagian orang mungkin melihatnya sebagai sikap egois, sementara bagi diri sendiri itu adalah bentuk menjaga batas.
Begitu juga ketika kita memilih jalan hidup yang berbeda.
Ketika seseorang memilih pekerjaan yang sederhana, ada yang menganggapnya tidak memiliki ambisi. Ketika seseorang mengejar karier, ada yang menganggapnya terlalu sibuk. Ketika seseorang memilih lebih banyak waktu untuk keluarga, ada pula yang menganggapnya kurang berusaha.
Apa pun pilihan yang diambil, selalu ada kemungkinan seseorang memiliki pendapat yang berbeda.
Karena itu, mengenal diri sendiri menjadi semakin penting.
Kita perlu mengetahui apa yang kita anggap benar, nilai apa yang ingin kita pertahankan, dan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Dengan pemahaman tersebut, kita tidak akan terlalu mudah kehilangan arah hanya karena mendapatkan penilaian yang tidak sesuai dengan harapan.
Menjadi pendukung pertama bagi diri sendiri bukan berarti merasa paling benar. Artinya, kita mampu tetap menghargai diri sendiri ketika tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Ada masa ketika usaha kita tidak dihargai. Ada saat ketika niat baik disalahpahami. Ada pula keadaan ketika seseorang memilih pergi meskipun kita sudah berusaha mempertahankan hubungan tersebut.
Semua itu bisa terasa menyakitkan.
Namun, tidak semua kehilangan berarti kita tidak cukup baik. Tidak semua penolakan berarti kita tidak berharga. Terkadang, kita hanya berada di tempat, lingkungan, atau hubungan yang memang tidak lagi sesuai dengan diri kita.
Kita juga tidak perlu memaksa semua orang untuk menyukai kita.
Selama kita berusaha memperlakukan orang lain dengan baik, bertanggung jawab atas tindakan sendiri, bersedia memperbaiki kesalahan, dan tidak sengaja merugikan orang lain, kita sudah memiliki alasan untuk tetap menghargai diri sendiri.
Ada perbedaan besar antara memperbaiki diri dan mengubah seluruh kepribadian hanya agar diterima.
Perbaikan diri membuat kita berkembang. Sebaliknya, terus-menerus mengubah diri demi memenuhi harapan semua orang justru dapat membuat kita kehilangan pemahaman tentang siapa sebenarnya diri kita.
Mungkin kita tidak akan pernah bisa mengontrol bagaimana orang lain melihat kita. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita bersikap, bagaimana kita memperlakukan orang lain, serta bagaimana kita merespons penilaian yang datang.
Tidak perlu membalas semua persepsi dengan penjelasan.
Tidak perlu pula membuktikan nilai diri kepada setiap orang.
Ada kalanya sikap terbaik adalah tetap menjalani kehidupan dengan baik dan membiarkan waktu menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Kita akan selalu bertemu dengan orang yang menyukai kita, orang yang tidak cocok dengan kita, bahkan orang yang tidak pernah benar-benar memahami kita. Itu merupakan bagian dari kehidupan sosial yang tidak mungkin sepenuhnya dihindari.
Yang terpenting adalah jangan sampai pandangan orang lain membuat kita lupa bahwa diri sendiri juga layak dihargai.
Sebab, kita tidak membutuhkan persetujuan semua orang untuk menjadi seseorang yang berharga. Kita hanya perlu terus mengenal diri, menjaga nilai yang kita percaya, dan menemukan lingkungan yang mampu menghargai keberadaan kita tanpa meminta kita menjadi orang lain.
