Kuliah Mengajarkan Ilmu, tetapi Siapa yang Mengajarkan Bertahan?

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang memasuki dunia perkuliahan dengan harapan yang sederhana.
Belajar, lulus, lalu mendapatkan pekerjaan yang baik.
Di atas kertas, perjalanan itu tampak jelas. Setiap semester memiliki daftar mata kuliah, jumlah SKS, tugas, ujian, hingga target kelulusan. Semua terlihat teratur, seolah-olah kehidupan mahasiswa hanya berkaitan dengan ruang kelas dan nilai.
Namun, setelah benar-benar menjalaninya, banyak mahasiswa menyadari bahwa tantangan terbesar sering kali tidak berasal dari materi kuliah.
Menurut saya, kuliah memang mengajarkan banyak ilmu. Namun, yang lebih sering diuji justru kemampuan seseorang untuk bertahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Tidak ada mata kuliah yang mengajarkan bagaimana menghadapi rasa gagal setelah nilai yang diperoleh tidak sesuai harapan.
Tidak ada ujian yang melatih cara mengelola rasa cemas ketika melihat teman-teman mulai magang, memenangkan kompetisi, atau lulus lebih cepat.
Tidak ada modul yang menjelaskan bagaimana tetap percaya pada diri sendiri ketika berkali-kali merasa tertinggal.
Semua itu dipelajari secara diam-diam.
Mahasiswa belajar melalui pengalaman.
Ada yang belajar setelah proposal penelitiannya berkali-kali direvisi.
Ada yang belajar ketika harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja.
Ada yang belajar saat menghadapi masalah keluarga, tekanan ekonomi, atau kehilangan semangat di tengah perjalanan.
Ironisnya, perjuangan seperti itu tidak pernah tercatat dalam transkrip nilai.
Yang terlihat hanya angka.
Padahal, di balik satu angka tersebut, mungkin ada malam-malam panjang yang dihabiskan untuk menyelesaikan tugas, rasa takut gagal yang terus disembunyikan, atau usaha keras untuk tetap bertahan ketika semuanya terasa begitu berat.
Perkuliahan juga menghadirkan bentuk tekanan yang berbeda dibandingkan masa sekolah.
Mahasiswa bukan hanya dituntut memperoleh nilai yang baik.
Banyak yang merasa harus aktif berorganisasi, mengikuti lomba, memiliki pengalaman magang, membangun portofolio, belajar teknologi baru, memperluas relasi, hingga mempersiapkan karier sejak dini.
Semua itu memang penting.
Namun, ketika berbagai tuntutan datang bersamaan, tidak sedikit mahasiswa mulai merasa bahwa dirinya harus hebat dalam segala hal.
Jika tidak, mereka takut dianggap tertinggal.
Media sosial semakin memperkuat perasaan tersebut.
Setiap hari kita melihat teman yang baru menyelesaikan magang, memenangkan kompetisi, memperoleh beasiswa, atau diterima bekerja di perusahaan impian.
Yang jarang terlihat adalah proses panjang, kegagalan, dan rasa lelah yang mereka alami sebelum mencapai titik itu.
Akibatnya, mahasiswa lebih mudah membandingkan perjuangannya sendiri dengan hasil akhir yang ditampilkan orang lain.
Padahal, setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda.
Ada yang berkembang lebih cepat.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Tidak ada yang salah dengan keduanya.
Di sisi lain, kampus memang memiliki tugas utama memberikan pendidikan akademik.
Dosen mengajarkan teori, metodologi, dan keterampilan sesuai bidang ilmu masing-masing.
Namun, kemampuan bertahan menghadapi tekanan sering kali lahir dari pengalaman, dukungan lingkungan, serta keberanian mahasiswa untuk terus belajar mengenal dirinya sendiri.
Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara memandang keberhasilan selama kuliah.
Lulus tepat waktu tentu membanggakan.
Memiliki IPK tinggi juga patut diapresiasi.
Tetapi keberhasilan seorang mahasiswa tidak selalu dapat diukur hanya dari angka atau lamanya masa studi.
Ada mahasiswa yang berhasil karena tidak menyerah meskipun harus mengulang.
Ada yang berhasil karena mampu bangkit setelah kehilangan semangat.
Ada pula yang berhasil karena tetap melanjutkan kuliah di tengah berbagai persoalan hidup yang tidak diketahui siapa pun.
Mungkin pencapaian seperti itulah yang paling jarang mendapatkan penghargaan.
Pada akhirnya, dunia perkuliahan memang mengajarkan banyak ilmu.
Namun, perjalanan sebagai mahasiswa diam-diam juga mengajarkan sesuatu yang tidak kalah penting: bagaimana menghadapi kegagalan tanpa kehilangan harapan, bagaimana menerima bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai keinginan, dan bagaimana tetap melangkah meskipun belum mengetahui akan sampai di mana.
Sebab, setelah lulus nanti, bukan hanya pengetahuan yang akan dibawa seseorang ke dunia kerja.
Kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit setelah jatuh sering kali menjadi bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar nilai yang tertulis di atas kertas.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
