Lomba 17-an Boleh Seru, tetapi Jangan Sampai Hadiahnya Menjadi Masalah

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap bulan Agustus, suasana lingkungan biasanya berubah menjadi lebih ramai. Jalanan dihiasi bendera Merah Putih, anak-anak mulai berlatih untuk berbagai perlombaan, dan warga berkumpul untuk mempersiapkan perayaan Hari Kemerdekaan.
Lomba 17-an sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari balap karung, makan kerupuk, memasukkan pensil ke botol, hingga berbagai perlombaan untuk orang dewasa, semuanya dilakukan bukan semata-mata untuk mencari pemenang, tetapi juga untuk menciptakan suasana kebersamaan.
Namun, ada satu hal yang sering kali luput diperhatikan ketika lomba diselenggarakan, yaitu dari mana uang hadiah berasal.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Wakil Sekretaris Komisi Fatwa, KH Abdul Muiz Ali, mengingatkan bahwa lomba Agustusan pada dasarnya diperbolehkan. Akan tetapi, penggunaan uang pendaftaran peserta sebagai sumber hadiah bagi pemenang tidak diperbolehkan karena masuk dalam kategori judi menurut ketentuan fikih yang disampaikan.
Menurut saya, pernyataan tersebut seharusnya tidak hanya dipahami sebagai persoalan boleh atau tidak boleh.
Ada pelajaran yang lebih sederhana di baliknya: setiap kegiatan yang melibatkan uang perlu memiliki mekanisme yang jelas.
Selama ini, masyarakat mungkin terbiasa dengan pola sederhana. Peserta membayar sejumlah uang untuk mengikuti lomba, kemudian uang yang terkumpul digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk hadiah bagi pemenang.
Bagi sebagian orang, mekanisme seperti itu mungkin terlihat biasa karena nominalnya kecil dan kegiatannya hanya berlangsung dalam suasana perayaan.
Namun, ketika kegiatan tersebut melibatkan unsur persaingan dan uang peserta yang kemudian dipertaruhkan untuk mendapatkan hadiah, mekanismenya menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan.
Di sinilah pentingnya panitia memahami bahwa semangat Agustusan bukan sekadar membuat perlombaan sebanyak mungkin.
Tujuan utamanya adalah mempererat hubungan antarwarga.
Lomba seharusnya menjadi alasan bagi anak-anak untuk keluar rumah, bagi orang tua untuk berkumpul, dan bagi tetangga untuk saling mengenal. Menang atau kalah seharusnya menjadi bagian kecil dari keseruan tersebut.
Karena itu, sebenarnya tidak sulit untuk membuat sistem hadiah yang lebih tepat.
Dana hadiah dapat berasal dari sponsor, kas panitia, atau sumbangan pihak ketiga yang tidak mengikat peserta. Dengan cara tersebut, peserta mengikuti lomba tanpa merasa bahwa uang yang mereka keluarkan sedang dipertaruhkan untuk memperebutkan uang dari peserta lainnya.
Bahkan, lomba tanpa hadiah uang pun sebenarnya tidak mengurangi makna perayaan.
Anak-anak tetap bisa tertawa saat melihat teman mereka jatuh ketika mengikuti balap karung. Warga tetap bisa bersorak ketika seseorang berhasil memasukkan paku ke dalam botol. Orang dewasa tetap bisa menikmati keseruan tarik tambang atau perlombaan lainnya.
Hadiah memang menyenangkan, tetapi bukan hadiah yang membuat sebuah lomba menjadi berkesan.
Yang sering diingat justru suasananya.
Orang mungkin lupa siapa yang memenangkan lomba makan kerupuk beberapa tahun lalu. Namun, mereka bisa mengingat bagaimana tetangga berkumpul, bagaimana anak-anak bermain bersama, atau bagaimana satu lingkungan yang biasanya sibuk akhirnya memiliki waktu untuk tertawa bersama.
Menurut saya, inilah makna Agustusan yang terkadang tertutup oleh keinginan untuk membuat perlombaan semakin meriah.
Kita terlalu fokus pada hadiah, padahal inti perayaannya adalah kebersamaan.
Di sisi lain, panitia juga perlu belajar lebih terbuka dalam mengelola dana. Jika memang ada uang pendaftaran, sebaiknya sejak awal dijelaskan kepada peserta untuk apa uang tersebut digunakan.
Transparansi sederhana seperti ini dapat mencegah kesalahpahaman.
Peserta juga memiliki hak untuk mengetahui apakah uang yang mereka bayarkan digunakan untuk perlengkapan lomba, konsumsi, administrasi, atau kebutuhan lainnya.
Perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi ruang untuk belajar banyak hal, termasuk tentang tanggung jawab.
Anak-anak dapat belajar berkompetisi dengan sportif. Orang dewasa dapat belajar mengelola kegiatan bersama. Panitia dapat belajar mengelola dana secara transparan. Dan seluruh warga dapat belajar bahwa sebuah kegiatan yang menyenangkan tetap membutuhkan aturan yang jelas.
Peringatan MUI mengenai mekanisme hadiah dalam lomba Agustusan juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kebiasaan yang selama ini dianggap sepele.
Bukan berarti lomba 17-an harus menjadi kaku atau kehilangan keseruannya.
Justru sebaliknya.
Kita bisa tetap membuat perayaan meriah tanpa mengorbankan prinsip yang dianggap penting oleh masyarakat. Sponsor dapat dilibatkan, hadiah dapat berasal dari kas atau donasi, dan lomba tanpa hadiah pun tetap dapat menjadi pilihan.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang memasang bendera atau mengadakan perlombaan setiap bulan Agustus.
Kemerdekaan juga tentang bagaimana masyarakat mampu hidup bersama dengan saling menghormati nilai, aturan, dan keyakinan yang ada.
Lomba 17-an hanyalah kegiatan kecil di lingkungan masyarakat. Namun, dari kegiatan kecil itu kita bisa belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, transparansi, sportivitas, dan kebersamaan.
Sebab, jangan sampai acara yang seharusnya menjadi simbol kegembiraan justru menimbulkan persoalan karena mekanisme sederhana yang sejak awal tidak dipikirkan dengan baik.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
