Konten dari Pengguna

Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mendaki gunung bukan sekadar mengejar puncak. (Sumber: ChatGPT.co.id).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mendaki gunung bukan sekadar mengejar puncak. (Sumber: ChatGPT.co.id).

Dua remaja asal Wonosobo yang dilaporkan hilang setelah mendaki Gunung Bismo akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Kabar duka ini menyisakan luka bagi keluarga sekaligus menjadi pengingat bahwa mendaki gunung bukan sekadar soal keberanian atau keinginan mencapai puncak. Menurut saya, setiap pendakian seharusnya dimulai dengan kesadaran bahwa keselamatan adalah tujuan pertama, sedangkan puncak hanyalah bonus.

Dalam beberapa tahun terakhir, mendaki gunung semakin diminati, terutama oleh anak muda. Media sosial dipenuhi foto matahari terbit, lautan awan, hingga pemandangan yang memukau. Sayangnya, keindahan itu sering kali membuat banyak orang lupa bahwa gunung juga menyimpan risiko yang tidak bisa dianggap remeh.

Kasus di Gunung Bismo menunjukkan bahwa hal-hal mendasar seperti meminta izin kepada keluarga, memberi tahu tujuan perjalanan, membawa bekal yang memadai, memahami jalur pendakian, hingga mengetahui kondisi cuaca bukanlah sekadar formalitas. Semua itu merupakan bagian dari manajemen risiko yang dapat menentukan cepat atau lambatnya pertolongan ketika keadaan darurat terjadi.

Alam tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya. Kabut dapat datang dalam hitungan menit, jalur yang tampak mudah bisa berubah berbahaya, dan keterbatasan sinyal komunikasi membuat setiap keputusan menjadi sangat penting. Karena itu, rasa percaya diri tanpa persiapan justru dapat menjadi awal dari persoalan yang lebih besar.

Di sisi lain, tragedi seperti ini juga menjadi pengingat bahwa edukasi mengenai pendakian yang aman masih perlu diperkuat. Banyak pendaki pemula lebih sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk mengabadikan perjalanan daripada mempelajari medan, membaca prakiraan cuaca, atau memahami prosedur keselamatan. Padahal, pengetahuan sering kali jauh lebih berharga daripada perlengkapan yang terlihat menarik.

Keluarga pun memiliki peran penting. Memberi tahu rencana pendakian bukan berarti mengurangi kebebasan seseorang, melainkan memastikan ada pihak yang mengetahui keberadaan kita apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Informasi sederhana mengenai tujuan dan jalur pendakian dapat membantu proses pencarian berjalan lebih cepat.

Besarnya keterlibatan relawan, tim SAR, komunitas pendaki, hingga berbagai unsur lain dalam pencarian dua remaja tersebut menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat masih sangat kuat. Namun, upaya pencarian yang luar biasa seharusnya tidak membuat kita lupa bahwa langkah paling baik adalah mencegah musibah terjadi sejak awal.

Mendaki gunung akan selalu menjadi pengalaman yang indah bagi mereka yang datang dengan persiapan dan rasa hormat terhadap alam. Gunung bukan tempat untuk menguji keberanian semata, melainkan ruang yang menuntut kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan dengan bijak.

Tragedi di Gunung Bismo seharusnya tidak berhenti sebagai kabar duka yang berlalu begitu saja. Setiap langkah menuju puncak selalu membawa harapan untuk kembali ke rumah. Karena itu, keselamatan tidak boleh menjadi perlengkapan yang diingat belakangan, tetapi harus menjadi bekal utama sebelum pendakian dimulai.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.