Konten dari Pengguna

Mengapa Kemarahan Sesaat Bisa Menghancurkan Seumur Hidup?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kemarahan sesaat. (Sumber: ChatGPT.co.id).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kemarahan sesaat. (Sumber: ChatGPT.co.id).

Peristiwa dugaan pembunuhan yang kembali terjadi dan diduga dipicu oleh perselisihan mengingatkan kita pada satu kenyataan yang sering terlupakan. Proses hukum tentu harus dihormati dan seluruh fakta akan dibuktikan melalui penyelidikan serta persidangan. Namun, di balik setiap tragedi, selalu ada pertanyaan yang patut direnungkan bersama: mengapa kemarahan yang hanya berlangsung beberapa saat mampu mengubah kehidupan banyak orang untuk selamanya?

Menurut saya, persoalannya bukan karena manusia memiliki emosi. Marah adalah bagian alami dari kehidupan. Yang menjadi masalah adalah ketika kemarahan dibiarkan memimpin keputusan, sementara kemampuan berpikir jernih justru menghilang.

Setiap orang pernah marah. Kita marah ketika merasa diperlakukan tidak adil, dikhianati, dihina, atau tidak dihargai. Emosi tersebut bukan sesuatu yang salah. Justru emosi memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Namun, kemarahan seharusnya menjadi pesan yang perlu dipahami, bukan perintah yang harus langsung dituruti.

Ilustrasi marah menunjuk orang. Foto: AmpYang Images/Shutterstock

Sayangnya, dalam kondisi emosi yang memuncak, manusia sering kehilangan kemampuan melihat akibat jangka panjang. Fokus hanya tertuju pada bagaimana melampiaskan perasaan saat itu juga. Padahal, keputusan yang diambil dalam beberapa detik dapat membawa konsekuensi yang harus ditanggung selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

Berbagai kasus kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat memperlihatkan pola yang hampir serupa. Sebuah konflik yang awalnya tampak biasa berkembang menjadi tindakan yang jauh melampaui persoalan awalnya. Apa yang semula hanya perbedaan pendapat berubah menjadi penyesalan yang tidak lagi dapat diperbaiki. Dalam situasi seperti itu, bukan hanya satu orang yang terdampak. Keluarga korban kehilangan orang yang dicintai, sementara keluarga pelaku juga harus menghadapi konsekuensi sosial dan hukum yang tidak ringan.

Fenomena ini sebenarnya tidak selalu berakhir pada tindak kriminal. Dalam kehidupan sehari-hari, kemarahan sesaat juga dapat merusak hubungan pertemanan, menghancurkan kepercayaan dalam keluarga, memutus hubungan kerja, atau meninggalkan luka batin yang sulit dipulihkan. Satu kalimat yang diucapkan ketika emosi sering kali lebih sulit diperbaiki daripada seratus kalimat permintaan maaf setelahnya.

Yang membuat keadaan semakin rumit adalah budaya yang menganggap meluapkan amarah sebagai bentuk keberanian. Tidak sedikit orang merasa menang ketika mampu membalas perkataan orang lain dengan kata-kata yang lebih keras. Padahal, kemampuan terbesar bukanlah memenangkan pertengkaran, melainkan menghentikan pertengkaran sebelum semuanya terlambat.

Mengendalikan amarah memang bukan perkara mudah. Dalam situasi tertentu, emosi datang begitu cepat hingga sulit dihentikan. Namun, kemampuan mengelola emosi bukanlah bakat yang hanya dimiliki sebagian orang. Kemampuan itu dapat dilatih melalui kebiasaan memberi jeda sebelum bereaksi, belajar mendengarkan, dan memahami bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan pada saat itu juga.

Sering kali, keputusan terbaik justru lahir ketika seseorang memilih diam beberapa menit, meninggalkan situasi yang memanas, atau menunda pembicaraan sampai pikirannya kembali tenang. Jeda yang tampak sederhana itu bisa menjadi pembeda antara penyelesaian yang bijaksana dan penyesalan yang berkepanjangan.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu membangun budaya menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih sehat. Perbedaan pendapat tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan. Tidak semua rasa sakit harus dibalas dengan kemarahan. Semakin banyak ruang untuk berdialog dan saling mendengar, semakin kecil kemungkinan emosi berkembang menjadi tindakan yang tidak dapat diperbaiki.

Pada akhirnya, hidup tidak ditentukan oleh seberapa sering kita marah, tetapi oleh bagaimana kita merespons kemarahan tersebut. Emosi memang datang tanpa diminta, tetapi keputusan untuk bertindak tetap berada di tangan kita. Di situlah letak tanggung jawab setiap manusia.

Karena itu, mungkin yang paling perlu kita jaga bukan hanya ucapan atau tindakan, melainkan kemampuan memberi waktu bagi akal sehat untuk kembali berbicara sebelum emosi mengambil keputusan. Sebab, banyak penyesalan besar dalam hidup tidak lahir karena masalah yang terlalu besar, melainkan karena seseorang memberi kemarahan kesempatan untuk menentukan arah hidupnya.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.