Mengapa Kita Baru Mengingat Sosok Penghibur Setelah Mereka Tiada?

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar wafatnya komedian senior Simson Rarameha Ngadang atau Temon meninggalkan duka bagi keluarga, rekan sesama seniman, dan masyarakat yang pernah menikmati karya-karyanya. Ucapan belasungkawa memenuhi media sosial, disertai potongan video lawas yang kembali mengingatkan publik pada sosok yang selama bertahun-tahun menghadirkan tawa di layar kaca.
Fenomena seperti ini bukanlah hal baru. Setiap kali seorang seniman berpulang, masyarakat seolah kembali membuka lembaran kenangan. Karya-karya lama diputar ulang, kisah perjalanan hidupnya kembali diceritakan, dan banyak orang baru menyadari betapa besar kontribusi yang pernah ia berikan.
Hal tersebut mengundang sebuah pertanyaan sederhana. Mengapa apresiasi yang begitu besar sering kali muncul setelah seorang penghibur tiada?
Menurut saya, kita sering menikmati karya para seniman sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari tanpa benar-benar menyadari proses panjang yang mereka jalani. Sebuah acara komedi yang menghibur selama beberapa menit mungkin terlihat sederhana bagi penonton, padahal di baliknya ada latihan, pengalaman, kreativitas, dan dedikasi yang dibangun selama bertahun-tahun.
Profesi sebagai penghibur juga bukan pekerjaan yang mudah. Mereka dituntut menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain, bahkan ketika mungkin sedang menghadapi persoalan pribadi. Penonton mengenal tawa yang mereka hadirkan, tetapi tidak selalu mengetahui perjuangan yang mereka alami di balik panggung.
Kepergian seorang seniman sering menjadi momen ketika masyarakat berhenti sejenak untuk melihat kembali jejak yang telah ditinggalkannya. Dari situlah muncul kesadaran bahwa karya-karya tersebut pernah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Ada yang tumbuh bersama acara televisinya, ada yang mengenang candaan yang pernah menghibur keluarga, dan ada pula yang menemukan inspirasi dari perjalanan kariernya.
Bagi dunia hiburan, karya adalah warisan yang melampaui usia penciptanya. Sebuah pertunjukan, film, atau tayangan komedi dapat terus dikenang dan dinikmati oleh generasi berikutnya. Karena itu, menghargai seorang seniman seharusnya tidak menunggu sampai ia pergi.
Apresiasi dapat diwujudkan dengan cara yang sederhana, seperti menghormati karya, memberikan kritik yang membangun, mendukung karya-karya yang berkualitas, serta mengingat bahwa di balik sosok yang tampil di hadapan publik ada manusia yang juga membutuhkan penghargaan atas usahanya.
Kepergian Temon mengingatkan kita bahwa dunia hiburan Indonesia dibangun oleh banyak sosok yang telah menghibur masyarakat selama puluhan tahun. Mereka mungkin datang dari generasi yang berbeda, tetapi karya yang mereka tinggalkan tetap menjadi bagian dari perjalanan industri hiburan Indonesia.
Barangkali, pelajaran terbesar dari setiap kabar duka adalah pentingnya memberikan penghargaan ketika kesempatan itu masih ada. Sebab, apresiasi yang diberikan saat seorang seniman masih berkarya akan jauh lebih berarti daripada ribuan ungkapan yang baru hadir setelah ia tiada.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
