Mengapa Kita Semakin Jarang Membaca Buku?

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang mengaku ingin lebih sering membaca buku. Rak buku masih tersusun rapi di rumah, daftar bacaan terus bertambah, bahkan tidak sedikit yang membeli buku baru dengan harapan segera menyelesaikannya. Namun, hari demi hari berlalu dan buku-buku itu tetap berada di tempat yang sama, sementara waktu justru lebih banyak dihabiskan di depan layar ponsel.
Fenomena ini bukan hanya dialami oleh satu atau dua orang. Di tengah kehidupan yang serba digital, membaca buku perlahan kehilangan ruang dalam rutinitas sehari-hari. Bukan karena masyarakat tidak lagi membutuhkan pengetahuan, melainkan karena cara memperoleh informasi telah berubah dengan sangat cepat.
Kini, berbagai informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Ringkasan berita, video pendek, unggahan media sosial, hingga berbagai konten singkat terus berdatangan tanpa henti. Semua terasa praktis dan mudah diakses. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut membuat kita semakin terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan yang singkat.
Menurut saya, alasan mengapa kita semakin jarang membaca buku bukan karena minat membaca benar-benar hilang, tetapi karena perhatian kita semakin mudah terpecah. Membaca buku membutuhkan waktu, ketenangan, dan fokus. Sementara itu, kehidupan saat ini justru dipenuhi berbagai gangguan yang terus menarik perhatian setiap beberapa menit.
Saat membaca beberapa halaman buku, notifikasi ponsel muncul. Ketika kembali melanjutkan bacaan, muncul keinginan untuk sekadar melihat media sosial. Aktivitas yang awalnya hanya berlangsung beberapa menit sering kali berubah menjadi waktu yang jauh lebih lama. Akibatnya, buku kembali ditutup sebelum benar-benar selesai dibaca.
Padahal, membaca buku memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan mengonsumsi informasi singkat. Buku mengajak pembaca memahami sebuah persoalan secara lebih utuh, mengikuti alur pemikiran penulis, serta melatih kesabaran untuk menyelami gagasan secara mendalam. Proses inilah yang sulit digantikan oleh konten yang hanya dinikmati dalam hitungan detik.
Kebiasaan membaca juga membantu seseorang memperkaya sudut pandang. Setiap buku menghadirkan pengalaman, pemikiran, dan pengetahuan yang mungkin tidak pernah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak membaca, semakin luas pula cara kita memahami orang lain dan melihat berbagai persoalan.
Bukan berarti media digital harus dijauhi. Teknologi tetap memberikan banyak manfaat, termasuk mempermudah akses terhadap berbagai bahan bacaan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan. Informasi yang cepat memang membantu kita mengikuti perkembangan zaman, tetapi membaca buku tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan dalam membangun pemahaman yang lebih mendalam.
Membiasakan diri membaca tidak harus dimulai dengan target yang besar. Menyediakan waktu sepuluh atau lima belas menit setiap hari, membaca beberapa halaman sebelum tidur, atau membawa buku saat menunggu sesuatu dapat menjadi langkah sederhana untuk menghidupkan kembali kebiasaan tersebut.
Buku mungkin tidak menawarkan hiburan secepat media sosial. Namun, setiap halaman yang dibaca sering kali meninggalkan pemahaman yang bertahan jauh lebih lama. Di tengah derasnya arus informasi yang datang silih berganti, kemampuan untuk duduk sejenak, membaca dengan tenang, dan memahami sebuah gagasan secara utuh justru menjadi kebiasaan yang semakin berharga.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
