Mengapa Kita Sering Menyalahkan Diri atas Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan?

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir setiap orang pernah mengucapkan kalimat seperti ini kepada dirinya sendiri.
"Seandainya aku datang lebih cepat."
"Seandainya aku membuat keputusan yang berbeda."
"Seandainya aku lebih berhati-hati."
Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, tanpa disadari, kita sering menggunakannya untuk memikul tanggung jawab atas sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali.
Menurut saya, manusia memiliki kecenderungan untuk mencari seseorang yang harus disalahkan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Dan sering kali, orang pertama yang kita salahkan adalah diri sendiri.
Kebiasaan itu muncul dalam banyak situasi.
Ketika gagal mendapatkan pekerjaan, kita langsung merasa tidak cukup pintar.
Ketika hubungan berakhir, kita sibuk mencari kesalahan diri sendiri.
Ketika sebuah rencana tidak berjalan sesuai harapan, kita menganggap semuanya terjadi karena keputusan yang kita ambil.
Padahal, hidup tidak pernah hanya dipengaruhi oleh satu orang.
Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Keputusan orang lain.
Keadaan ekonomi.
Kesehatan.
Waktu.
Kesempatan.
Bahkan, keberuntungan.
Namun, mengakui bahwa ada hal di luar kendali sering kali terasa lebih sulit daripada terus menyalahkan diri sendiri.
Mungkin karena menyalahkan diri memberikan ilusi bahwa kita sebenarnya mampu mengubah masa lalu.
Jika semua kesalahan berasal dari diri kita, berarti kita merasa seolah-olah hasil akhirnya bisa berbeda.
Padahal, kenyataannya belum tentu demikian.
Kita hanya melihat hasil akhirnya.
Kita lupa bahwa setiap keputusan di masa lalu dibuat dengan pengetahuan, pengalaman, dan keadaan yang kita miliki saat itu.
Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil keputusan menggunakan informasi dari masa depan.
Ironisnya, kita sering menjadi hakim yang sangat keras bagi diri sendiri.
Kesalahan kecil terus diingat.
Penyesalan diputar berulang kali di dalam pikiran.
Sementara berbagai hal baik yang pernah kita lakukan perlahan terlupakan.
Jika seorang teman mengalami kegagalan, mungkin kita akan berkata, "Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha."
Namun, ketika hal yang sama terjadi pada diri sendiri, kalimat yang muncul justru jauh lebih kejam.
"Kamu memang tidak mampu."
"Kamu yang salah."
"Kamu seharusnya tahu."
Perbedaan cara memperlakukan diri sendiri inilah yang sering tidak kita sadari.
Di sisi lain, masyarakat juga ikut membentuk kebiasaan tersebut.
Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap keberhasilan sepenuhnya ditentukan oleh usaha, sementara setiap kegagalan dianggap sebagai kurangnya kemampuan.
Padahal, kehidupan jauh lebih rumit daripada itu.
Usaha memang penting.
Tetapi tidak semua hasil dapat kita kendalikan.
Ada orang yang sudah bekerja sangat keras tetapi belum mendapatkan kesempatan.
Ada yang kehilangan sesuatu bukan karena kurang berusaha, melainkan karena keadaan memang berubah.
Menerima kenyataan seperti itu bukan berarti menyerah.
Sebaliknya, itu adalah bentuk kedewasaan.
Kita belajar membedakan mana yang masih bisa diperbaiki dan mana yang memang harus diterima.
Bukan semua penyesalan harus dibawa sepanjang hidup.
Ada penyesalan yang cukup dijadikan pelajaran.
Karena jika terus memikul beban atas sesuatu yang tidak pernah berada dalam kendali kita, yang lelah bukan hanya pikiran, tetapi juga kehidupan yang sedang kita jalani hari ini.
Mungkin kita memang tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi.
Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana menyikapinya.
Dan terkadang, langkah paling berani bukanlah terus mencari siapa yang salah, melainkan menerima bahwa tidak semua hal buruk membutuhkan seseorang untuk dipersalahkan.
Termasuk diri kita sendiri.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
