Konten dari Pengguna

Mengapa Orang Tua Jarang Mengeluh di Depan Anak?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang tua dan anak. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang tua dan anak. (Sumber: shutterstock.com).

Sejak kecil, banyak dari kita terbiasa melihat orang tua sebagai sosok yang selalu kuat.

Mereka bangun lebih pagi, bekerja sepanjang hari, pulang dalam keadaan lelah, lalu tetap berusaha tersenyum ketika anak-anaknya bercerita tentang sekolah atau kehidupan mereka. Tidak sedikit yang masih menyempatkan diri menanyakan, "Hari ini makan apa?" atau "Kuliahnya bagaimana?" meskipun wajah mereka sendiri terlihat letih.

Anehnya, kita jarang mendengar mereka berkata, "Aku sedang tidak baik-baik saja."

Menurut saya, bukan karena orang tua tidak memiliki masalah. Mereka hanya sering memilih menyimpannya agar anak-anaknya tidak ikut merasa khawatir.

Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa menjadi orang tua mungkin berarti belajar memikul banyak hal tanpa selalu memiliki tempat untuk mengeluh.

Mereka memikirkan biaya hidup, kesehatan, pekerjaan, masa depan anak, tagihan yang terus datang, hingga berbagai persoalan yang tidak pernah kita lihat. Namun, semua itu sering disembunyikan di balik percakapan sederhana saat makan malam atau senyum yang terlihat biasa saja.

Banyak anak tumbuh dengan keyakinan bahwa orang tuanya tidak pernah takut.

Padahal, bisa jadi mereka juga pernah cemas kehilangan pekerjaan.

Pernah bingung mencari biaya pendidikan.

Pernah merasa lelah menghadapi kehidupan.

Hanya saja, mereka memilih agar anak-anak tidak memikul kecemasan yang sama.

Di sisi lain, masyarakat juga tanpa sadar membentuk harapan bahwa orang tua harus selalu menjadi sosok yang kuat.

Seorang ayah sering merasa harus terlihat tegar karena dianggap sebagai penopang keluarga.

Seorang ibu sering merasa harus tetap tersenyum karena tidak ingin suasana rumah berubah muram.

Akibatnya, banyak orang tua lebih terbiasa mengatakan, "Tidak apa-apa," meskipun sebenarnya mereka sedang menghadapi hari yang berat.

Ironisnya, ketika kita masih kecil, mereka selalu bertanya apakah kita sudah makan, sudah istirahat, atau sedang memiliki masalah.

Namun, ketika kita beranjak dewasa, belum tentu kita melakukan hal yang sama kepada mereka.

Kita sering menghubungi orang tua ketika membutuhkan sesuatu.

Saat ingin meminta doa.

Saat membutuhkan bantuan.

Saat ada kabar baik.

Tetapi, kapan terakhir kali kita bertanya dengan sungguh-sungguh, "Ayah, Ibu, akhir-akhir ini bagaimana kabarnya?"

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Namun, bagi sebagian orang tua, pertanyaan tersebut bisa menjadi pengingat bahwa masih ada seseorang yang peduli terhadap perasaan mereka, bukan hanya terhadap peran mereka sebagai orang tua.

Kita sering lupa bahwa sebelum menjadi ayah atau ibu, mereka juga manusia biasa.

Mereka memiliki rasa takut, kecewa, lelah, bahkan keraguan yang mungkin tidak pernah sempat mereka ceritakan kepada siapa pun.

Mereka hanya memilih untuk tetap berjalan karena merasa keluarga bergantung pada mereka.

Bukan berarti mereka tidak ingin didengarkan.

Mungkin mereka hanya terlalu lama terbiasa menjadi tempat bersandar bagi orang lain.

Karena itu, perhatian kepada orang tua tidak selalu harus diwujudkan melalui hadiah yang mahal atau perayaan yang istimewa.

Kadang, perhatian dimulai dari hal yang sangat sederhana.

Duduk bersama tanpa terburu-buru.

Mendengarkan cerita mereka.

Menanyakan bagaimana kondisi kesehatan mereka.

Atau sekadar mengatakan, "Kalau Ayah atau Ibu sedang lelah, tidak apa-apa untuk bercerita."

Kalimat-kalimat kecil seperti itu mungkin tidak langsung menghilangkan beban yang mereka rasakan.

Namun, setidaknya mereka tahu bahwa mereka tidak harus selalu memikul semuanya sendirian.

Pada akhirnya, orang tua memang berusaha menjadi tempat paling aman bagi anak-anaknya.

Tetapi bukan berarti mereka tidak membutuhkan tempat yang sama.

Sebab, sekuat apa pun seseorang terlihat, tidak ada manusia yang benar-benar mampu menjalani hidup tanpa sesekali ingin didengar.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.