Menikah Bisa Direncanakan, tetapi Biaya Hidup Tidak Bisa Diabaikan

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak orang, menikah merupakan salah satu impian yang ingin diwujudkan bersama pasangan. Ada keinginan untuk membangun rumah tangga, memiliki tempat tinggal sendiri, dan menjalani kehidupan bersama orang yang dicintai. Namun, ketika rencana tersebut mulai dibicarakan secara serius, ada satu hal yang tidak bisa dihindari, yaitu persoalan biaya hidup. Perasaan saling mencintai memang menjadi alasan untuk bersama, tetapi kehidupan setelah pernikahan juga membutuhkan kesiapan yang nyata.
Tidak sedikit pasangan yang mulai memikirkan pernikahan sejak masih berusia muda. Mereka membayangkan acara sederhana, pakaian pengantin, undangan, dan tempat untuk merayakan hari bahagia. Sayangnya, pembicaraan sering kali lebih banyak berfokus pada biaya pesta daripada kebutuhan setelah acara selesai. Padahal, kehidupan rumah tangga justru baru dimulai ketika seluruh rangkaian pernikahan telah berakhir.
Menurut saya, salah satu tantangan terbesar bagi pasangan yang ingin menikah bukan sekadar mengumpulkan uang untuk menyelenggarakan acara, melainkan mempersiapkan kehidupan yang akan dijalani sesudahnya. Ada kebutuhan makan setiap hari, biaya tempat tinggal, listrik, transportasi, kesehatan, serta berbagai pengeluaran lain yang tidak bisa ditunda hanya karena kondisi keuangan sedang sulit. Jika pasangan berencana memiliki anak, kebutuhan tersebut tentu akan bertambah.
Persoalan ini semakin terasa ketika harga kebutuhan sehari-hari meningkat, sementara pendapatan tidak selalu mengalami kenaikan yang sebanding. Gaji yang terlihat cukup ketika seseorang masih tinggal bersama orang tua bisa terasa berbeda ketika harus digunakan untuk membiayai rumah tangga sendiri. Uang yang sebelumnya dapat disisihkan untuk tabungan atau keinginan pribadi kini harus dibagi untuk berbagai kebutuhan bersama.
Situasi tersebut bukan berarti seseorang harus memiliki banyak uang sebelum berani menikah. Tidak semua orang memulai kehidupan dengan kondisi ekonomi yang mapan. Ada pasangan yang membangun kehidupan dari penghasilan sederhana, tinggal di tempat yang masih terbatas, dan memenuhi kebutuhan secara bertahap. Hal yang lebih penting adalah mengetahui kemampuan finansial masing-masing serta tidak memaksakan gaya hidup yang berada di luar jangkauan.
Sayangnya, tekanan sosial terkadang membuat persiapan pernikahan terasa lebih berat daripada yang seharusnya. Ada keinginan mengadakan pesta besar karena khawatir dianggap kurang mampu, merasa malu jika tidak memberikan hantaran mahal, atau takut dinilai tidak serius oleh keluarga pasangan. Keinginan tersebut bisa dimengerti, tetapi akan menjadi masalah ketika demi memenuhi harapan orang lain, pasangan justru harus berutang atau menghabiskan seluruh tabungan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Pernikahan memang merupakan momen penting yang layak dirayakan. Namun, kemeriahan satu hari tidak seharusnya mengorbankan kebutuhan hidup selama berbulan-bulan setelahnya. Pesta yang sederhana bukan berarti pernikahannya kurang bermakna. Sebaliknya, kemampuan menentukan prioritas dan menyesuaikan rencana dengan keadaan keuangan menunjukkan bahwa pasangan mulai memahami tanggung jawab yang akan mereka jalani bersama.
Selain persoalan pendapatan, keterbukaan mengenai uang juga perlu dibiasakan sebelum menikah. Pasangan sebaiknya berani membicarakan penghasilan, tabungan, utang, tanggungan keluarga, dan rencana keuangan secara jujur. Topik seperti ini mungkin terasa kurang romantis dibandingkan membicarakan masa depan yang indah, tetapi justru dapat mencegah kesalahpahaman ketika kehidupan bersama mulai dijalani.
Perbedaan cara mengelola uang juga perlu diperhatikan. Ada orang yang terbiasa menabung sebelum membeli sesuatu, sedangkan pasangannya lebih suka menikmati hasil kerja untuk memenuhi keinginan saat ini. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi masalah selama keduanya bersedia berdiskusi dan menyepakati batas pengeluaran. Tanpa komunikasi yang baik, persoalan kecil mengenai uang dapat berkembang menjadi pertengkaran yang berulang.
Kesiapan finansial juga bukan hanya tanggung jawab salah satu pihak. Dalam rumah tangga, pembagian peran dapat berbeda-beda sesuai kesepakatan pasangan. Ada yang sama-sama bekerja, ada yang memilih satu orang berfokus pada pekerjaan rumah tangga, dan ada pula yang menjalankan usaha bersama. Apa pun pilihannya, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan kemampuan ekonomi, kebutuhan keluarga, serta kondisi yang mungkin berubah seiring waktu.
Kita juga perlu memahami bahwa rencana keuangan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kehilangan pekerjaan, anggota keluarga yang sakit, kebutuhan mendadak, atau perubahan pendapatan dapat terjadi kapan saja. Karena itu, memiliki dana darurat dan kebiasaan menyisihkan uang sesuai kemampuan merupakan langkah yang patut dipertimbangkan. Persiapan seperti ini bukan berarti berpikir negatif tentang pernikahan, melainkan berusaha menghadapi kehidupan dengan lebih realistis.
Menariknya, pembicaraan mengenai kesiapan menikah sering kali masih berpusat pada usia dan status hubungan. Seseorang yang sudah cukup umur mungkin terus ditanya kapan akan menikah, sementara orang yang belum memiliki pasangan dianggap terlalu lama sendiri. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup dan keadaan ekonomi yang berbeda. Keputusan menikah seharusnya tidak semata-mata diambil untuk memenuhi desakan lingkungan.
Menunda pernikahan demi memperbaiki kondisi keuangan bukan berarti seseorang tidak serius dalam menjalin hubungan. Begitu pula menikah ketika penghasilan masih sederhana tidak otomatis menunjukkan ketidaksiapan. Yang perlu dibedakan adalah kemampuan menerima kondisi saat ini dengan kebiasaan mengabaikan persoalan yang sebenarnya harus dibicarakan. Pasangan tidak harus menunggu kaya, tetapi perlu memiliki kesepakatan mengenai cara memenuhi kebutuhan dan menghadapi kesulitan.
Kehidupan rumah tangga tidak dapat dipastikan selalu berjalan lancar hanya karena dua orang saling mencintai. Akan ada kebutuhan yang harus dipenuhi, keinginan yang perlu ditunda, dan keputusan yang mengharuskan keduanya berkompromi. Karena itu, membicarakan uang sebelum menikah bukanlah tindakan yang mengurangi nilai cinta. Justru keterbukaan tersebut dapat membantu pasangan memahami apa yang perlu dipersiapkan sebelum mengambil keputusan besar.
Menikah memang bisa direncanakan, tetapi biaya hidup akan terus berjalan setelah hari bahagia terlewati. Karena itu, persiapan yang baik bukan hanya tentang berapa banyak uang yang terkumpul untuk acara pernikahan, melainkan juga tentang bagaimana dua orang membangun kehidupan bersama dengan kemampuan yang mereka miliki. Cinta dapat menjadi alasan untuk memulai rumah tangga, sedangkan keterbukaan, kerja sama, dan tanggung jawab membantu pasangan menjalaninya.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
