Konten dari Pengguna

Menjadi Hebat Tidak Harus Berhenti Menjadi Sederhana

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berhasil. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berhasil. (Sumber: shutterstock.com).

Ada masa ketika seseorang merasa harus memiliki banyak hal untuk dianggap berhasil. Rumah yang bagus, pekerjaan yang bergengsi, penghasilan yang tinggi, kendaraan yang nyaman, atau pencapaian yang bisa dibagikan kepada banyak orang. Semua itu memang menyenangkan ketika berhasil diraih. Namun, apakah keberhasilan selalu harus terlihat dari apa yang kita miliki?

Kutipan Chairul Tanjung, “Hidup ini tidak boleh sederhana, hidup ini harus hebat, kuat dan bermanfaat. Yang sederhana hanyalah sikap,” mengingatkan bahwa memiliki mimpi besar tidak berarti harus kehilangan kerendahan hati. Ada perbedaan antara ingin menjadi hebat dengan merasa lebih hebat daripada orang lain.

Menurut saya, menjadi hebat seharusnya tidak membuat seseorang merasa perlu meninggalkan kesederhanaan dalam bersikap. Justru ketika pencapaian semakin besar, kemampuan untuk tetap menghargai orang lain menjadi semakin penting.

Kita sering melihat seseorang berubah setelah mendapatkan sesuatu yang selama ini diinginkannya. Ketika belum memiliki banyak pencapaian, ia mudah menyapa siapa saja. Setelah kehidupannya mulai meningkat, lingkaran pergaulannya berubah dan orang-orang yang dahulu dekat perlahan terasa semakin jauh.

Perubahan tersebut sebenarnya tidak selalu salah. Setiap orang berhak berkembang, memperluas pergaulan, dan mengejar kehidupan yang lebih baik. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai perkembangan kehidupan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang yang masih berada dalam perjalanan yang berbeda.

Setiap orang memiliki waktunya sendiri.

Ada yang mendapatkan pekerjaan impian setelah lulus kuliah. Ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan bidang yang sesuai. Ada yang sudah memiliki rumah ketika teman sebayanya masih tinggal bersama orang tua. Ada pula yang baru mampu membangun kehidupan setelah melewati banyak kegagalan.

Perbedaan tersebut tidak menentukan siapa yang lebih berharga.

Media sosial terkadang membuat persoalan ini semakin rumit. Kita setiap hari melihat orang lain memamerkan pencapaian, perjalanan, pekerjaan, makanan, kendaraan, atau gaya hidup. Tanpa sadar, kehidupan sendiri kemudian dibandingkan dengan potongan kehidupan orang lain yang hanya menampilkan sisi terbaiknya.

Dari situlah muncul anggapan bahwa hidup yang baik harus selalu terlihat luar biasa.

Padahal, ada banyak bentuk keberhasilan yang tidak menarik untuk dipamerkan. Bisa membayar kebutuhan keluarga dari hasil kerja sendiri adalah pencapaian. Mampu membantu orang tua juga merupakan pencapaian. Berhasil menyelesaikan pendidikan setelah melewati banyak kesulitan adalah pencapaian. Bahkan, tetap menjadi orang baik ketika memiliki banyak alasan untuk berubah menjadi keras juga merupakan sebuah keberhasilan.

Menjadi hebat tidak selalu berarti menjadi terkenal.

Terkadang, kehebatan justru terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh. Bagaimana ia berbicara kepada orang yang berbeda status, bagaimana ia menerima kritik, bagaimana ia mengakui kesalahan, dan apakah ia masih bersedia membantu ketika dirinya sudah berada dalam posisi yang lebih baik.

Kesederhanaan dalam sikap bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki ambisi. Kita tetap boleh bermimpi mendapatkan pekerjaan yang bagus, membangun bisnis, memiliki rumah sendiri, memperoleh pendidikan tinggi, atau mencapai posisi yang selama ini diinginkan.

Mimpi besar justru penting karena membuat seseorang memiliki arah.

Namun, pencapaian seharusnya menjadi alasan untuk bersyukur, bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Semakin tinggi seseorang berada, semakin banyak pula kesempatan yang sebenarnya bisa digunakan untuk memberikan manfaat kepada lingkungan di sekitarnya.

Ada orang yang menggunakan keberhasilannya untuk membuka lapangan pekerjaan. Ada yang membagikan ilmu kepada orang lain. Ada yang membantu keluarganya memperbaiki kehidupan. Ada pula yang sekadar menjadi contoh bahwa seseorang dapat berhasil tanpa harus kehilangan sikap baik.

Bentuknya berbeda-beda, tetapi satu hal yang sama adalah keberhasilan tersebut tidak berhenti pada diri sendiri.

Kita tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk bermanfaat. Tidak perlu memiliki jabatan tinggi untuk menghargai orang lain. Tidak harus terkenal untuk memberikan pengaruh positif.

Hal-hal kecil juga memiliki arti.

Menyapa orang yang kita temui, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika salah, menghargai pekerjaan orang lain, serta tidak menjadikan pencapaian sebagai alat untuk merendahkan orang lain mungkin terlihat sederhana. Namun, justru kebiasaan seperti itulah yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

Hidup yang hebat bukan berarti kehidupan tanpa kesulitan. Setiap orang tetap memiliki masalah, kegagalan, dan masa ketika dirinya merasa tertinggal. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menjalani proses tersebut tanpa kehilangan nilai-nilai yang membuat dirinya tetap manusia.

Kita boleh mengejar kehidupan yang lebih baik.

Kita boleh memiliki mimpi yang tinggi.

Kita boleh ingin berhasil lebih jauh daripada hari ini.

Tetapi semua pencapaian itu akan terasa lebih bermakna ketika kita masih mampu melihat orang lain dengan hormat dan tetap bersyukur atas apa yang telah dimiliki.

Sebab, menjadi hebat bukan tentang seberapa jauh kita meninggalkan kehidupan yang sederhana. Menjadi hebat adalah ketika kita mampu berkembang tanpa kehilangan sikap baik, memiliki banyak hal tanpa merasa paling tinggi, dan menggunakan keberhasilan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.