Menjadi Orang Jujur Ternyata Tidak Semudah Menjadi Orang Pintar

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita sering mengagumi orang pintar. Mereka yang cepat memahami pelajaran, mampu menyelesaikan masalah, memiliki prestasi, atau dapat memberikan jawaban ketika orang lain masih mencari jalan keluar. Kepintaran memang menjadi sesuatu yang berharga. Namun, ada satu kualitas yang sering kali baru benar-benar kita hargai setelah berhadapan dengan kehidupan nyata: kejujuran.
Menjadi pintar mungkin membutuhkan proses belajar yang panjang. Seseorang bisa membaca banyak buku, mengikuti pendidikan, berlatih, dan terus mengembangkan kemampuannya. Kejujuran memiliki tantangan yang berbeda. Ia diuji ketika berkata benar justru membuat kita berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Ada saat ketika seseorang mengetahui kesalahan yang dilakukan, tetapi memilih diam karena takut mendapatkan masalah. Ada pula orang yang menemukan sesuatu yang bukan miliknya, tetapi mulai mencari alasan untuk mempertahankannya. Dalam situasi seperti itu, kejujuran tidak lagi sekadar mengetahui mana yang benar dan salah. Kejujuran membutuhkan keberanian untuk memilih yang benar ketika tidak ada orang yang melihat.
Menurut saya, di situlah kejujuran menjadi jauh lebih sulit daripada sekadar memiliki pengetahuan.
Di kampus, misalnya, mahasiswa yang pintar mungkin mampu mendapatkan nilai tinggi. Namun, nilai tersebut tidak banyak berarti jika diperoleh dengan menyontek atau melakukan kecurangan. Di dunia kerja, seseorang mungkin memiliki kemampuan luar biasa dan mampu menyelesaikan banyak tugas. Tetapi ketika ia mulai memanipulasi data, menyembunyikan kesalahan, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya, kepintaran yang dimiliki justru dapat digunakan untuk merugikan orang lain.
Hal yang sama terjadi dalam hubungan antarmanusia.
Kita mungkin tidak selalu membutuhkan teman yang paling pintar. Kita lebih membutuhkan seseorang yang perkataannya dapat dipercaya. Ketika menitipkan sesuatu, kita ingin yakin bahwa barang tersebut akan dijaga. Ketika menceritakan masalah pribadi, kita berharap cerita itu tidak berubah menjadi bahan pembicaraan orang lain. Ketika bekerja sama, kita ingin mengetahui bahwa orang di sebelah kita tidak akan meninggalkan tanggung jawab ketika keadaan menjadi sulit.
Karena itu, kepercayaan memiliki nilai yang tidak selalu bisa diukur dengan prestasi.
Orang pintar mungkin mudah ditemukan. Di sekolah, kampus, dan tempat kerja selalu ada orang dengan kemampuan akademik atau profesional yang baik. Namun, orang yang tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang jauh lebih sulit dikenali. Mereka tidak selalu mendapatkan penghargaan atau sorotan, tetapi sikapnya dapat memberikan pengaruh besar kepada lingkungan sekitar.
Kejujuran juga bukan berarti seseorang harus selalu mengatakan semua hal tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Ada perbedaan antara jujur dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang menyakiti. Kejujuran tetap membutuhkan adab, empati, dan tanggung jawab dalam menyampaikan kebenaran.
Di sinilah ilmu dan adab seharusnya berjalan bersama.
Ilmu membuat seseorang mampu mengetahui banyak hal. Adab mengajarkan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan. Kepintaran dapat membantu seseorang mencapai posisi yang tinggi, tetapi karakter menentukan bagaimana ia bersikap ketika sudah berada di posisi tersebut.
Seseorang yang pintar tetapi tidak jujur mungkin dapat memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. Namun, ketika kebohongan terbongkar, kepercayaan yang telah dibangun bisa hilang dalam waktu yang jauh lebih cepat.
Sebaliknya, orang yang dikenal jujur mungkin tidak selalu menjadi orang paling menonjol di dalam ruangan. Ia mungkin tidak memiliki nilai tertinggi, jabatan paling tinggi, atau kemampuan yang paling mengesankan. Tetapi ketika orang lain membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya, namanya akan diingat.
Kita sering mengajarkan anak-anak untuk menjadi pintar sejak kecil. Mereka diminta mendapatkan nilai bagus, masuk sekolah yang baik, memenangkan perlombaan, dan memiliki prestasi sebanyak mungkin. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu pertanyaan yang juga perlu diajarkan: untuk apa kepintaran itu digunakan?
Sebab, kemampuan tanpa karakter dapat kehilangan arah.
Kepintaran seharusnya membuat seseorang semakin mampu memberikan manfaat, bukan semakin pandai mencari celah untuk kepentingan dirinya sendiri. Pengetahuan seharusnya membuat seseorang memahami tanggung jawab, bukan sekadar mengetahui cara mendapatkan apa yang diinginkan.
Mungkin kita tidak perlu memilih antara menjadi pintar atau menjadi jujur. Keduanya justru perlu berjalan bersama. Namun, ketika harus menentukan mana yang menjadi dasar dalam membangun kepercayaan, kejujuran memiliki tempat yang sangat penting.
Sebab, orang pintar dapat membantu kita menemukan solusi. Orang jujur membuat kita yakin bahwa solusi tersebut tidak akan digunakan untuk merugikan kita.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
