Konten dari Pengguna

Menjadi Orang yang Selalu Bisa Dihubungi Ternyata Bisa Melelahkan

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang bermain HP. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang bermain HP. (Sumber: shutterstock.com).

Ada orang-orang yang hampir selalu membalas pesan dengan cepat. Ketika teman membutuhkan bantuan, mereka berusaha hadir. Saat keluarga menelepon, mereka segera mengangkat. Bahkan ketika sedang sibuk, mereka tetap merasa tidak enak jika membiarkan pesan seseorang terlalu lama tanpa jawaban.

Kebiasaan seperti itu sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang peduli. Ia dikenal mudah dimintai bantuan, tidak sulit dihubungi, dan selalu berusaha ada ketika orang lain membutuhkan. Tanpa disadari, predikat tersebut juga bisa menjadi beban ketika orang-orang mulai menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang selalu tersedia.

Awalnya mungkin terasa biasa saja. Membalas satu pesan, menerima satu telepon, atau membantu menyelesaikan persoalan kecil tidak membutuhkan banyak tenaga. Namun, ketika hal tersebut terjadi terus-menerus, waktu pribadi perlahan ikut berkurang. Bahkan saat sedang beristirahat, perhatian tetap tertuju pada ponsel karena khawatir ada seseorang yang membutuhkan respons.

Menurut saya, menjadi orang yang peduli tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hak untuk memiliki waktu bagi dirinya sendiri. Tidak menjawab pesan selama beberapa jam bukan berarti tidak peduli. Tidak mengangkat telepon ketika sedang lelah bukan berarti berubah menjadi orang yang tidak perhatian.

Masalahnya, banyak orang merasa bersalah ketika mencoba membuat batas. Mereka takut dianggap cuek, berubah, atau tidak lagi bisa diandalkan. Akibatnya, mereka terus mengatakan "iya" meskipun sebenarnya sedang tidak sanggup. Mereka menerima permintaan bantuan ketika pekerjaan sendiri belum selesai, menemani orang lain ketika tubuh membutuhkan istirahat, atau tetap melayani percakapan ketika pikiran sudah penuh.

Lama-kelamaan, kelelahan tersebut tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang masih bisa tersenyum, membalas pesan, bekerja seperti biasa, dan tetap membantu orang lain. Namun, di dalam dirinya mungkin sudah muncul keinginan untuk tidak berbicara dengan siapa pun selama beberapa waktu.

Di era ketika komunikasi dapat dilakukan kapan saja, batas antara waktu pribadi dan kepentingan orang lain memang semakin tipis. Pesan dapat masuk saat makan, ketika sedang belajar, menjelang tidur, bahkan pada waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Kemudahan berkomunikasi membuat kita seolah-olah harus selalu siap memberikan respons.

Padahal, setiap orang memiliki batas tenaga dan perhatian.

Ada waktu ketika seseorang ingin sendiri tanpa harus menjelaskan alasannya. Ada hari ketika pekerjaan terasa terlalu banyak sehingga membalas pesan saja membutuhkan energi tambahan. Ada pula saat ketika seseorang ingin meletakkan ponsel dan menikmati beberapa jam tanpa harus memikirkan persoalan siapa pun.

Memberikan batas bukan berarti memutus hubungan dengan orang lain. Justru batas yang sehat dapat membuat hubungan terasa lebih nyaman karena tidak dibangun dari kewajiban untuk selalu tersedia. Orang lain juga perlu memahami bahwa seseorang memiliki pekerjaan, keluarga, waktu istirahat, dan kehidupan pribadi yang tetap harus dijalani.

Kita juga perlu berhenti mengukur kepedulian seseorang hanya dari seberapa cepat ia membalas pesan. Respons yang terlambat tidak selalu berarti tidak menghargai. Bisa saja orang tersebut sedang bekerja, belajar, beristirahat, menghadapi masalah pribadi, atau sekadar membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

Menjadi seseorang yang dapat diandalkan memang merupakan hal yang baik. Namun, menjadi dapat diandalkan tidak berarti harus selalu mengatakan "siap" terhadap semua permintaan. Ada kalanya mengatakan "nanti", "saya sedang tidak bisa", atau "besok saya bantu" justru merupakan bentuk kejujuran.

Kita sering mengajarkan kepada orang lain agar peduli terhadap sesama, tetapi jarang mengingatkan bahwa menjaga diri sendiri juga bagian dari kepedulian. Seseorang yang terus memberikan waktunya tanpa pernah mengisi kembali tenaganya akan semakin sulit hadir dengan tulus.

Mungkin kita tidak perlu selalu menjadi orang pertama yang membalas. Tidak harus selalu mengangkat setiap telepon. Tidak harus selalu menyelesaikan masalah orang lain hanya karena mereka tahu kita bisa membantu.

Sesekali, membiarkan ponsel tetap diam juga bukan sebuah kesalahan.

Ada kehidupan yang tetap perlu kita jalani di luar layar. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang perlu ditemui, tubuh yang perlu beristirahat, dan pikiran yang membutuhkan ruang untuk tenang.

Menjadi orang yang selalu bisa dihubungi memang membuat kita mudah dicari ketika orang lain membutuhkan. Namun, kita juga perlu memastikan bahwa ketika diri sendiri sedang membutuhkan pertolongan, masih ada waktu dan tenaga yang tersisa untuk merawat diri.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.