Konten dari Pengguna

Orang yang Paling Sering Tertawa Belum Tentu Paling Bahagia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang tertawa. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang tertawa. (Sumber: shutterstock.com).

Ada orang yang selalu terlihat paling ceria di antara teman-temannya. Ia mudah tertawa, sering membuat lelucon, dan hampir selalu berhasil mencairkan suasana ketika orang lain mulai merasa canggung.

Ketika berkumpul, dialah yang paling ramai.

Ketika suasana mulai sepi, dia yang mencari bahan pembicaraan.

Ketika temannya sedang sedih, dia pula yang datang membawa candaan agar suasana kembali menyenangkan.

Karena itu, banyak orang kemudian menganggap hidupnya pasti baik-baik saja.

Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang hanya dari bagaimana ia terlihat di hadapan kita.

Menurut saya, salah satu kesalahan yang sering dilakukan dalam hubungan antarmanusia adalah menganggap ekspresi sebagai gambaran lengkap dari perasaan seseorang.

Orang yang banyak tertawa dianggap bahagia. Orang yang jarang bercerita dianggap tidak memiliki masalah. Orang yang selalu membantu dianggap kuat. Padahal, kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat dalam beberapa jam ketika kita bertemu.

Ada orang yang tertawa karena memang sedang bahagia.

Ada pula yang tertawa karena memang memiliki karakter humoris.

Tetapi ada juga orang yang tetap berusaha tersenyum karena tidak ingin suasana di sekitarnya menjadi berat.

Bukan berarti setiap orang yang sering tertawa sedang menyembunyikan kesedihan. Namun, kita juga tidak seharusnya menganggap bahwa seseorang pasti tidak memiliki masalah hanya karena ia terlihat ceria.

Kita semua memiliki sisi kehidupan yang tidak selalu diperlihatkan kepada orang lain.

Seseorang mungkin terlihat santai ketika bertemu teman, tetapi setelah pulang ia harus memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Ada mahasiswa yang tetap bercanda di kampus meskipun sedang memikirkan tugas, nilai, biaya kuliah, atau masa depan. Ada pula orang yang tetap tersenyum di tempat kerja karena tidak ingin membawa persoalan pribadi ke lingkungan profesional.

Kehidupan memang tidak selalu bisa ditunjukkan apa adanya.

Tidak semua orang nyaman menceritakan masalahnya kepada orang lain. Sebagian memilih menyelesaikan persoalan sendiri. Sebagian lagi hanya membutuhkan waktu sebelum akhirnya bersedia berbicara.

Karena itu, menurut saya, kita tidak perlu terburu-buru memberikan penilaian.

Ketika melihat seseorang tertawa, tidak perlu langsung berpikir bahwa dia sedang menyembunyikan kesedihan. Namun, ketika suatu hari dia terlihat berbeda, tidak ada salahnya bertanya dengan tulus apakah semuanya baik-baik saja.

Perhatian tidak harus selalu berbentuk nasihat panjang.

Terkadang, cukup dengan mendengarkan.

Hal sederhana seperti "Kamu baik-baik saja?" mungkin terdengar biasa. Tetapi ketika pertanyaan itu datang dari seseorang yang benar-benar peduli, maknanya bisa berbeda.

Sayangnya, kita sering lebih cepat memberikan penilaian daripada memberikan ruang untuk bercerita.

Ketika seseorang terlihat bahagia, kita menganggap hidupnya mudah.

Ketika seseorang berhasil, kita menganggap dia tidak memiliki beban.

Ketika seseorang selalu membantu orang lain, kita menganggap dia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal, orang yang sering menjadi tempat orang lain bercerita juga bisa memiliki cerita yang ingin didengarkan.

Orang yang selalu membantu juga bisa mengalami hari ketika dirinya membutuhkan pertolongan.

Orang yang sering menghibur orang lain juga tetap memiliki hak untuk merasa lelah.

Inilah alasan mengapa hubungan antarmanusia membutuhkan lebih dari sekadar melihat apa yang tampak di permukaan.

Kita tidak harus mengetahui semua masalah orang lain. Kita juga tidak perlu memaksa seseorang untuk bercerita ketika mereka belum siap.

Yang penting adalah memberikan ruang agar mereka tahu bahwa ketika suatu saat ingin berbicara, ada orang yang bersedia mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.

Di sisi lain, kita juga perlu belajar bahwa kebahagiaan seseorang tidak harus selalu terlihat dalam bentuk yang sama.

Ada orang yang bahagia ketika berkumpul dengan banyak teman.

Ada yang merasa nyaman menghabiskan waktu sendirian.

Ada yang senang bercanda sepanjang hari.

Ada pula yang menikmati kehidupan dengan cara yang lebih tenang.

Karena itu, tidak tepat jika kita menggunakan seberapa sering seseorang tertawa sebagai ukuran tunggal untuk menentukan apakah hidupnya bahagia atau tidak.

Tawa hanyalah salah satu bagian dari ekspresi manusia.

Di baliknya bisa ada kebahagiaan, kelegaan, kebiasaan, rasa nyaman, atau sekadar keinginan untuk membuat suasana menjadi lebih menyenangkan.

Pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang.

Mungkin orang yang selama ini paling sering membuat kita tertawa juga sedang menghadapi persoalan yang tidak pernah ia ceritakan.

Mungkin juga tidak.

Dan kita tidak perlu menebak-nebak.

Yang bisa kita lakukan adalah menjadi manusia yang lebih peka.

Tidak mudah menyimpulkan kehidupan orang lain hanya dari apa yang terlihat.

Tidak menganggap seseorang selalu kuat hanya karena ia jarang mengeluh.

Dan tidak menunggu seseorang benar-benar jatuh sebelum kita menunjukkan kepedulian.

Sebab, setiap orang memiliki bagian kehidupan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Ada cerita yang dibagikan.

Ada cerita yang disimpan.

Dan ada cerita yang mungkin baru akan diceritakan ketika seseorang merasa sudah menemukan tempat yang cukup nyaman untuk berbicara.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.