Konten dari Pengguna

Pertemanan Bertiga: Sedikit Orang, tetapi Banyak Cerita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh pertemanan bertiga. (Sumber: nazra aulia farhaniyah).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh pertemanan bertiga. (Sumber: nazra aulia farhaniyah).

Ada pertemanan yang tidak membutuhkan banyak orang untuk terasa ramai. Tiga orang saja sudah cukup untuk membuat sebuah obrolan berlangsung berjam-jam, mulai dari tugas kuliah, cerita tentang keluarga, masalah percintaan, sampai hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi tetap terasa menyenangkan ketika dibicarakan bersama.

Pertemanan bertiga memiliki cerita yang berbeda. Tidak selalu mudah, tetapi justru di situlah menariknya. Ada hari ketika ketiganya terasa sangat dekat. Ada pula waktu ketika dua orang terlihat lebih sering berbicara dan satu orang mulai merasa seperti berada di luar percakapan. Hal sederhana seperti siapa yang diajak pergi lebih dulu atau siapa yang tidak mengetahui sebuah cerita kadang dapat menimbulkan perasaan yang sulit dijelaskan.

Menurut saya, tantangan terbesar dalam pertemanan bertiga bukan tentang menentukan siapa yang paling dekat, melainkan bagaimana setiap orang merasa tetap memiliki tempat di dalam hubungan tersebut.

Ketika hanya ada dua orang, komunikasi terasa lebih sederhana. Jika ada masalah, keduanya bisa langsung membicarakannya. Dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang, situasinya sedikit berbeda. Dua orang bisa saja memiliki kesamaan tertentu yang membuat mereka lebih sering berbicara, sementara satu orang lainnya hanya ikut mendengarkan.

Kondisi seperti itu sebenarnya tidak selalu berarti ada yang sengaja dijauhi. Setiap orang memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang lebih banyak bercerita, ada yang lebih nyaman menjadi pendengar, dan ada pula yang baru terbuka ketika sudah merasa benar-benar nyaman.

Masalah biasanya muncul ketika perbedaan tersebut mulai ditafsirkan secara pribadi.

Seseorang yang tidak diajak pergi bisa berpikir bahwa dirinya sudah tidak dianggap penting. Teman yang lebih sering berbicara dengan salah satu anggota kelompok bisa dianggap memilih pihak. Bahkan, sebuah pesan yang tidak dibalas beberapa jam saja dapat membuat seseorang bertanya-tanya apakah hubungan mereka sedang berubah.

Padahal, tidak semua perubahan kecil dalam komunikasi berarti sebuah pertemanan sedang berakhir.

Semakin dewasa, setiap orang memiliki kehidupan masing-masing. Jadwal kuliah berbeda, pekerjaan mulai menyita waktu, keluarga memiliki kebutuhan yang harus diperhatikan, dan lingkaran pertemanan pun bisa bertambah. Intensitas bertemu mungkin tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Di titik tersebut, pertemanan sering diuji bukan oleh jarak, melainkan oleh cara kita memahami perubahan.

Ada masa ketika tiga orang hampir setiap hari bertemu. Makan bersama, mengerjakan tugas bersama, pulang bersama, dan saling mengetahui cerita masing-masing. Beberapa tahun kemudian, mungkin hanya sesekali mereka bisa berkumpul. Percakapan yang dulu berlangsung setiap hari berubah menjadi beberapa pesan dalam seminggu.

Perubahan seperti itu sebenarnya wajar.

Pertemanan tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama agar tetap berarti. Ada hubungan yang menjadi lebih jarang bertemu tetapi tetap saling peduli. Ada pula yang semakin dekat meskipun masing-masing memiliki kesibukan.

Yang sering membuat hubungan menjadi rumit adalah ketika kita terlalu sibuk menghitung perhatian.

Siapa yang lebih sering menghubungi.

Siapa yang lebih dulu mengajak bertemu.

Siapa yang paling banyak membantu.

Siapa yang lebih dekat dengan siapa.

Jika pertemanan terus diukur seperti itu, hubungan yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru berubah menjadi sumber kekhawatiran.

Dalam pertemanan bertiga, rasa cemburu juga bisa muncul tanpa disadari. Melihat dua teman memiliki cerita pribadi yang tidak kita ketahui dapat membuat kita bertanya-tanya. Namun, kedekatan dua orang tidak selalu berarti mengurangi nilai hubungan dengan orang ketiga.

Setiap hubungan memiliki bentuknya sendiri.

Ada cerita yang hanya cocok dibicarakan dengan satu teman. Ada pengalaman yang lebih nyaman diceritakan kepada teman lainnya. Hal tersebut tidak otomatis berarti seseorang sedang memilih siapa yang lebih disayang.

Justru, kedewasaan dalam berteman terlihat ketika kita mampu memberikan ruang tanpa selalu merasa tersisihkan.

Tentu saja, bukan berarti semua perilaku harus dimaklumi. Jika seseorang terus-menerus diabaikan, hanya dicari ketika dibutuhkan, atau sengaja dikeluarkan dari kelompok, perasaan tidak nyaman tersebut tetap layak dibicarakan. Pertemanan yang sehat membutuhkan komunikasi, bukan sekadar bertahan karena sudah terlalu lama saling mengenal.

Kadang, percakapan sederhana dapat mencegah kesalahpahaman menjadi lebih besar.

"Belakangan kita jarang ngobrol, ya."

"Aku merasa agak jauh dari kalian."

"Ada yang berubah?"

Kalimat seperti itu mungkin terasa canggung ketika pertama kali diucapkan. Namun, kejujuran sering kali lebih baik daripada menyimpan prasangka sendirian.

Ada hal lain yang juga perlu dipahami: tidak semua pertemanan harus berlangsung selamanya dalam bentuk yang sama.

Orang berubah. Prioritas berubah. Cara berpikir berubah. Bahkan kebutuhan kita terhadap sebuah hubungan juga dapat berubah seiring bertambahnya usia.

Dulu mungkin kita membutuhkan teman untuk selalu menemani. Sekarang, kita mungkin hanya membutuhkan seseorang yang bisa dihubungi ketika sedang memiliki cerita penting.

Nilainya bukan terletak pada seberapa sering bertemu, melainkan pada apakah hubungan tersebut masih memiliki rasa saling menghargai.

Pertemanan bertiga juga mengajarkan bahwa kedekatan tidak harus selalu dibuktikan dengan kebersamaan setiap waktu. Terkadang, bentuk perhatian yang paling sederhana adalah tidak memaksa teman untuk selalu tersedia.

Kita boleh memiliki kehidupan masing-masing tanpa harus merasa bersalah.

Teman boleh memiliki teman lain.

Teman boleh memiliki kesibukan sendiri.

Teman juga boleh memiliki cerita yang tidak semuanya kita ketahui.

Selama masih ada kejujuran dan rasa saling menghargai, perbedaan tersebut tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh.

Mungkin itu yang membuat pertemanan bertiga begitu menarik. Jumlahnya memang sedikit, tetapi dinamika di dalamnya bisa sangat kaya. Ada tawa, kecanggungan, salah paham, rasa cemburu, saling memahami, hingga momen-momen kecil yang suatu hari justru menjadi kenangan paling berharga.

Kita mungkin tidak selalu bisa memastikan siapa yang akan tetap berada di sisi kita bertahun-tahun kemudian. Namun, selama sebuah pertemanan masih memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri, hubungan tersebut layak dijaga.

Sebab, teman yang baik bukanlah mereka yang selalu berada di samping kita setiap saat. Teman yang baik adalah mereka yang tetap mampu membuat kita merasa diterima, bahkan ketika kehidupan masing-masing mulai berjalan ke arah yang berbeda.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.